Pelayanan Pendidikan Inklusi Terlengkap di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Anak Berkebutuhan Khusus dan Pelayanan Inklusi

inklusi

Anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di pendidikan inklusi perlu pendampingan dalam bentuk terapi yang berkelanjutan. Keterbatasan yang dimiliki anak bukan menjadi penghalang dalam memperoleh pendidikan, namun perlu penyesuaian terhadap hambatan yang dimiliki. Pendampingan ini tidak hanya disekolah namun juga dalam bentuk terapi. Melalui terapi yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus, diharapkan mereka mampu meningkatkan keterampilan dalam pendidikan formal inklusi yang diambil.

Anak berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.

Salah satu pelayana inklusi yang diberikan adalah kepada anak yang mengalami masalah dalam tumbuh kembang.  Anak berkebutuhan khusus tersebut adalah anak dengan autisme, cerebral palsy, dyslexia, ADHD, down syndrome, borderline intellectual.

Pendidikan inklusi adalah bentuk pendidikan yang menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal pada umumnya untuk belajar. Pengertian pendidikan inklusi adalah sebuah pelayanan pendidik an bagi peserta didik yang mempunyai kebutuhan pendidikan khusus di sekolah regular ( SD, SMP, SMU, dan SMK) yang tergolong luar biasa baik dalam arti kelainan, lamban belajar maupun berkesulitan belajar lainnya.

Oleh karena itu pelayanan pendidikan inklusi diharapkan tidak hanya memberikan materi akademis saja, namun juga memberikan pelayanan terapi. Pelayanan yang terintegrasi antara pendidikan akademis dan terapi diharapkan akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak lebih baik.

Pelayanan Sekolah Inklusi Di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

20161102_122540

Pelayanan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu bekerjasama dengan PKBM Metakognisi menyelenggarakan pendidikan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus seperti borderline intellectual, down syndrome, dyslexia, dan autism. Pendidikan inklusi ini terintegrasi dengan pelayanan terapi yang diberikan kepada anak sesuai dengan jenis gangguan yang dialami.

Melalui pendidikan dan pelayanan terapi yang terintegrasi ini, anak berkebutuhan khusus akan mendapatkan dokumen akademis seperti raport dan ijasah . Mereka akan diikutsertakan dalam ujian kesetaraan yaitu Paket A (setara SD), Paket B (Setara SMP), dan Paket C (setara SMA). Pelayanan pendidikan ini akan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan individu.

Pemeriksaan dan Terapi

IMG_20170313_160727_908

Pemeriksaan fungsi psikologi dari anak berkebutuhan khusus (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Disisi lain, anak berkebutuhan khusus perlu dilakukan pemeriksaan yang lengkap untuk mengetahui sumber gangguan. Diagnosa yang tepat berdasarkan pemeriksaan yang akurat akan sangat mendukung keberhasilan dan efektivitas terapi yang dilakukan.

Pemeriksaan yang dilakukan tidak hanya meliputi faktor psikologis semata. Namun juga faktor fisik atau fisiologi tubuh anak perlu diperhatikan juga. Pemeriksaan yang dilakukan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu adalah pemeriksaan fungsi psikologi dengan test kesulitan belajar dan fungsi neurobiologi melalui EEG (elektroensefalografi). Jika dirasakan perlu adanya pemeriksaan lanjut, maka akan dirujuk untuk pemeriksaan MRI atau pencitraan otak yang lebih lengkap. Hasil pemeriksaan lengkap ini akan menentukan jenis terapi apa saja yang perlu dilakukan. Adapun terapi yang dilakukan antara lain adalah terapi neurofeedback, terapi metakognitif, fisioterapi, sensori integrasi, dan computer interaktif.

Pemeriksaan lengkap ini penting untuk melihat fungsi luhur atau system syaraf pusat atau otak yang terpengaruh akibat masalah berkebutuhan khusus ini. Dari pemeriksaan tersebut akan dilihat sejauh mana fungsi otak yang dapat dioptimalkan melalui terapi yang dilakukan. Oleh karena itu pemeriksaan dan terapi sejak dini atau dibawah 5 tahun dari anak berkebutuhan khusus akan memperbaiki fungsi otak lebih optimal.

Pemeriksaan dan terapi medis untuk anak berkebutuhan khusus di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dilakukan dengan bekerjasama dengan RSPAD Gatot Subroto dan Klinik Biosel Belmont. Pemeriksaan berupa MRI dan juga intervensi medis seperti akupuntur laser dan terapi sel punca (stem cell) dilakukan di kedua instansi tersebut. Intervensi medis dilakukan untuk memperbaiki struktur sel yang rusak atau terpengaruhi akibat masalah berkebutuhan khusus sehingga fungsi fisiologi dan psikologi nya akan terperbaiki.

Terapi Neurofeedback

Proses EEG

Terapi neurofeedback untuk melatih keseimbangan antara pikiran dan perasaan (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Terapi neurofeedback diberikan untuk melatih keseimbangan antara pikiran dan perasaan anak. Anak yang mengalami gangguan emosi kurang mampu mengendalikan pikiran dan perasaannya, sehingga perlu dilatih dengan neurofeedback dengan alat bantu EEG (elektroensefalografi). Neurofeedback adalah sejenis biofeedback yang mengukur gelombang otak untuk menghasilkan sinyal yang bisa dijadikan umpan balik untuk mengajarkan pengaturan fungsi otak sendiri.

Neurofeedback biasanya diberikan dengan menggunakan video atau suara, dengan umpan balik positif untuk aktivitas otak yang diinginkan dan umpan balik negatif untuk aktivitas otak yang tidak diinginkan. Pada pelatihan neurofeedback di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, individu akan dihubungkan dengan perangkat EEG melalui Bluetooth dengan beberapa aplikasi untuk melatih fokus atau meditasi. Contohnya adalah pelatihan dimana individu harus “fokus” atau “bermeditasi” untuk mencapai suatu tujuan.  Pelatihan ini akan mengukur dan melatih mental individu dari gelombang otak yang diolah oleh aplikasi neurofeedback. Pelatihan ini melatih kemampuan individu dalam mempertahankan keseimbangan antara emosi dan pikirannya dalam keadaan sadar.  Hal ini terlihat bagaimana menyeimbangkan antara meditasi dan fokus pada saat yang bersamaan.

Terapi metakognitif.

Jpeg

Terapi metakognitif untuk melatih keterampilan metakognitif anak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Intervensi atau terapi metakognitif adalah latihan untuk melibatkan kemampuan belajar, menyimpan, dan memanggil informasi dan melibatkan kemampuan belajar, ketrampilan organisasi dan manajemen waktu, ketrampilan test tasking, ketrampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (Solanto et al., 2010). Dalam praktek penerapan metode metakognisi adalah sebagai berikut.  Anak akan diberikan pengetahuan tentang tujuan penggunaan metode tersebut, yaitu bagaimana mengendalikan proses kognitif dan aplikasinya dalam situasi belajar nyata (Smith & Strick, 1999).  Intervensi metakognitif dapat diberikan kepada anak dengan pemberian makna bahwa kapasitas kognitif anak sama seperti orang dewasa. Terapi metakoognitif yang dilakukan dengan metode MMI.

Tahapan Melani’s Metacognition Intervention (MMI) Untuk Terapi Anak Kesulitan Belajar yaitu dengan tida teknik terapi psikologi. Intervensi Metakognitif bekerja dengan pendekatan tiga teknik terapi psikologi (Client-centered Therapy, Behaviouristic Therapy, dan Metacognitive Therapy).   Metode Metakognitif menggunakan pendekatan belajar seperti pada sekolah umum yaitu membaca, menulis dan menceritakan kembali. Untuk mencapai target dari intervensi (perubahan dalam kognitif, emosional, dan perilaku), dibutuhkan media buku cerita dengan tema sosial intelegensi yang didalamnya menceritakan mengenai tentang cara berempati, bersimpati, ketulusan, pengorbanan, kekeceawaan, kesedihan, keceriaan dan lain-lain.

Fisioterapi

Fisioterapi Akupuntur Listrik setara akupuntur 1000 jarum

Fisioterapi elektroakupuntur (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Fisoterapi ini mampu meningkatkan fungsi fisiologi syaraf pusat dan tepi sehingga mampu meningkatkan  sensitivitas tactil.  Fisioterapi yang dilakukan adalah dengan menggunakan akupuntur listrik atau elektro akupuntur.  Teknik ini setara dengan 1000 jarum akupuntur namun tidak  menimbulkan rasa sakit serta aman bagi anak.

Melalui bantuan teknik akupuntur listrik ini, tumbuh kembang fisiologi tubuh anak dioptimalkan sehingga mampu  meningkatkan sensitivitas tactil, social initiation, receptive language, motor skills, coordination, dan rentang perhatian. Berdasarkan penelitian, alat ini dapat secara efektif meredakan gejala autisme anak dan meningkatkan kecerdasan, kemampuan bahasa, dan  kemampuan sosial adaptif.

 

Terapi Sensori Integrasi

Jpeg

Terapi sensori integrasi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Bagi anak berkebutuhan khusus yang masih mengalami gangguan perilaku dapat diperbaiki dengan terapi sensori integrasi. Hal dikarenakan anak berkebutuhan khusus seperti autis, mengalami masalah sensory processing disorder atau sensory integration dysfunction. Sensori integrasi adalah proses saraf yang melibatkan penerimaan, pengelompokkan, dan evaluasi dari informasi indrawi melalui modalitas seperti penglihatan dan pendengaran, serta memproduksi respon adaptif melalui impuls saraf yang disalurkan kepada saraf motorik. Oleh karena itu anak yang mengalami masalah sensori integration dysfunction atau sensori processing disorder memiliki masalah dalam penerimaan, pemerosesan, dan merespon informasi dari lingkungan.

Semua informasi yang kita terima tentang dunia, datang melalui sistem indera atau sensori. Karena banyak proses sensorik terjadi di dalam sistem saraf pada tingkat tidak sadar, kita biasanya tidak menyadarinya. Meskipun kita semua terbiasa dengan indra yang terlibat dalam rasa, bau, penglihatan, dan suara, namun kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa sistem saraf kita juga merasakan sentuhan, gerakan, gaya gravitasi, dan posisi tubuh.

Sama seperti mata yang mendeteksi informasi visual dan menyampaikannya ke otak untuk interpretasi, semua sistem sensorik memiliki reseptor yang mengambil informasi untuk dirasakan oleh otak. Sel di dalam kulit mengirimkan informasi tentang cahaya, sentuhan, rasa sakit, suhu, dan tekanan. Struktur dalam tubuh mendeteksi gerakan dan perubahan posisi kepala. Komponen otot, sendi, dan tendon memberi dan kesadaran akan posisi tubuh.

Anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan perilaku mengalami masalah penginderaan tersebut. Hal ini berakibat kepada perilakunya yang sering tidak sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Melalui terapi sensori integrasi ini, penerimaan, pemerosesan, dan respon tubuh dari anak dilatih agar sesuai dengan konteks yang ada.

Interaktif Komputer.

CD interaktif

Pelatihan interaktif komputer (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Melalui pelatihan interaktif computer, anak berkebutuhan khusus dilatih pemahaman konsep pelajaran dengan mudah. Proses pelatihan ini menggunakan media audio visual yang melatih konsep dan pemahaman materi pelajaran secara konkret dari gambar dan animasi yang ditampilkan. Proses belajar bagi anak menjadi mudah dan sesuai dengan keunikan individu sehingga memunculkan motivasi dalam belajar.  Pelatihan yang diberikan dengan meningkatkan kemampuan visual perception anak  dari media audio visual.

Untuk informasi dan pendaftaran pelayanan inklusi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391 wa/sms/telp). (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

 

 

Diskon Terapi Sensori Integrasi Di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan diskon untuk terapi sensori integrasi dan fisioterapi sensori motorik yaitu hanya dengan Rp. 175.000,- per sessi. Sebagai informasi,  harga terapi sensori integrasi di tempat terapi lain berkisar Rp. 250.000,- sampai dengan Rp.  300.000,- untuk per sesi atau pertemuan dengan durasi 1 jam. Di klinik Psikoneurologi Hang Lekiu,  waktu terapi per sesi berdasarkan ketuntasan materi terapi yang dilakukan pada setiap sesi,  sehingga tidak kaku selesai tepat 1 jam,  atau dapat dikatakan waktunya bisa lebih.

Selain sensori integrasi,  anak dengan sensory processing disorder (SPD)  atau sensory integration dysfunction akan diberikan fisioterapi sensori motorik untuk merangsang syaraf perifer atau syaraf tepi sehingga koordinasi motoriknya menjadi lebih baik.

Terapi sensori integrasi dan fisioterapi sensori motorik dapat dilakukan pada hari Senin – Sabtu,  jam 09.00 – 17.00 wib. Frekuensi terapi dalam seminggu berkisar 1 – 3 sesi atau pertemuan.  Frekuensi terapi dalam setiap minggunya akan ditentukan dari hasil pemeriksaan awal atau assessment yang dilakukan yaitu pemeriksaan fungsi psikologi dan pemeriksaan fungsi neurobiologi dengan EEG.

Untuk informasi terapi sensori integrasi dan fisioterapi sensori motorik dapat mengubungi sdr Agus (08561785391) dan Syafri (081285472960).

Apa dan Bagaimana Terapi Sensori Integrasi?

Jpeg

Terapi Sensori Integrasi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Konsep Sensori Integrasi

Semua informasi yang kita terima tentang dunia, datang melalui sistem indera atau sensori.Karena banyak proses sensorik terjadi di dalam sistem saraf pada tingkat tidaksadar, kita biasanya tidak menyadarinya. Meskipun kita semua terbiasa dengan indra yang terlibat dalam rasa, bau, penglihatan, dan suara, namun kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa sistem saraf kita juga merasakan sentuhan, gerakan, gaya gravitasi, dan posisi tubuh.

Sama seperti mata yang mendeteksi informasi visual dan menyampaikannya ke otak untuk interpretasi, semua sistem sensorik memiliki reseptor yang mengambil informasi untuk dirasakan oleh otak. Sel di dalam kulit mengirimkan informasi tentang cahaya, sentuhan, rasa sakit, suhu, dan tekanan. Struktur dalam tubuh mendeteksi gerakan dan perubahan posisi kepala. Komponen otot, sendi, dan tendon memberi dan kesadaran akan posisi tubuh.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sensori integrasi adalah proses saraf yang melibatkan penerimaan, pengelompokkan, dan evaluasi dari informasi indrawi melalui modalitas seperti penglihatan dan pendengaran, serta memproduksi respon adaptif melalui impuls saraf yang disalurkan kepada saraf motorik.

Tanda dari Sensory Integrative Dysfunction

Tidak semua anak dengan masalah belajar, perkembangan, atau perilaku memiliki gangguan integratif sensoris yang mendasarinya. Ada beberapa indikator, bagaimanapun, yang bisa memberi sinyal pada orang tua bahwa kelainan semacam itu mungkin ada. Berikut adalah beberapa tanda yang mungkin dari Sensory Integrative Dysfunction:

1. Terlalu sensitif terhadap sentuhan, gerakan, penglihatan, atau suara

Hal ini dapat diwujudkan dalam perilaku seperti iritabilitas atau penarikan saat disentuh, menghindari tekstur pakaian atau makanan tertentu, distractibility, atau reaksi takut terhadap aktivitas gerakan biasa, seperti yang biasanya ditemukan di taman bermain.

2. Tidak reaktif terhadap stimulasi sensorik

Berbeda dengan anak yang terlalu sensitif, anak yang kurang responsif dapat mencari pengalaman indrawi yang intens seperti tubuh berputar atau menabrak benda. Dia mungkin tampak tidak menyadari sakit atau posisi tubuh. Beberapa anak berfluktuasi di antara ekstremitas berlebihan dan kurang responsif.

3. Tingkat aktivitas yang luar biasa tinggi atau rendah

Anak mungkin terus bergerak atau mungkin lambat untuk mengaktifkan dan mudah lelah. Sekali lagi, beberapa anak mungkin berfluktuasi dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya.

4. Masalah koordinasi

Hal ini dapat dilihat pada aktivitas motorik kasar atau halus. Beberapa anak mungkin memiliki keseimbangan yang sangat buruk, sementara yang lain memiliki kesulitan yang besar untuk belajar dan melakukan tugas baru dimana memerlukan koordinasi motorik.

5. Keterlambatan dalam bicara, berbahasa, keterampilan motorik, atau pencapaian akademis

Ini mungkin terlihat jelas pada anak prasekolah beserta tanda-tanda integrasi sensorik yang buruk lainnya. Pada anak usia sekolah, mungkin ada masalah di beberapa bidang akademik meski memiliki kecerdasan normal.

6. Organisasi perilaku yang buruk

Anak mungkin impulsif atau terganggu dan menunjukkan kurangnya perencanaan dalam mendekati tugas. Beberapa anak mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi baru. Orang lain mungkin bereaksi dengan frustrasi, agresi, atau penarikan diri saat menghadapi kegagalan.

7. Buruknya Self-concept

Terkadang seorang anak yang mengalami masalah yang disebutkan di atas sepertinya tidak merasa benar. Anak yang cerdas dengan masalah ini mungkin tahu bahwa beberapa tugas lebih sulit baginya daripada anak-anak lain, tapi mungkin tidak tahu mengapa. Anak ini mungkin tampak malas, bosan, atau tidak termotivasi. Beberapa anak segera mencari cara untuk menghindari tugas-tugas yang sulit atau memalukan ini. Bila ini terjadi, anak bisa dianggap merepotkan atau keras kepala. Bila masalah sulit dilihat atau dipahami, orang tua dan anak mungkin menyalahkan dirinya sendiri. Ketegangan keluarga, konsep diri yang buruk, dan perasaan putus asa yang umum mungkin terjadi.

Biasanya, anak dengan gangguan penginderaan sensoris akan menunjukkan lebih dari satu tanda di atas.

Jpeg

Salah satu tahapan terapi sensori integrasi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Bagaimana Terapi Sensory Integration Bekerja?

Dalam terapi, anak Anda akan dipandu melalui aktivitas yang menantang kemampuannya untuk merespons input sensoris secara tepat dengan membuat respons yang berhasil dan terorganisir.

Terapi akan melibatkan aktivitas yang memberikan stimulasi vestibular, proprioseptif, dan taktil, dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik anak Anda akan perkembangan. Kegiatan juga akan dirancang untuk secara bertahap meningkatkan tuntutan pada anak Anda untuk membuat respons yang terorganisir dan lebih matang.

Penekanan ditempatkan pada proses sensorik otomatis dalam perjalanan aktivitas yang diarahkan pada tujuan, daripada menginstruksikan atau melatih terus-menerus anak tentang bagaimana meresponsnya. Pelatihan keterampilan khusus biasanya tidak menjadi fokus terapi semacam ini. Anak itu mungkin tidak akan dilatih terus-menurus pada tugas seperti berjalan di atas balok keseimbangan, menangkap bola, menggunakan pensil, atau melompat dengan satu kaki. Sebaliknya, berbagai kegiatan akan digunakan untuk mengembangkan kemampuan dasar yang memungkinkan anak belajar keterampilan semacam itu secara efisien.

Namun, ada kasus-kasus yang dilatih untuk melakukan keterampilan spesifik mungkin penting dalam pengembangan harga diri anak atau kemampuan untuk berinteraksi dengan teman sebayanya. Dalam kasus tersebut, terapis okupasi kerja atau fisik dapat memberikan pelatihan keterampilan, atau mereka dapat merujuk anak tersebut kepada profesional lain yang akan memberikan layanan ini.

Pendidikan fisik adaptif, dan kelas senam adalah contoh layanan yang biasanya berfokus pada pelatihan keterampilan motorik. Pelayanan semacam itu penting, tapi terapi itu tidak sama dengan terapi dengan menggunakan pendekatan intuitif sensoris. Salah satu aspek penting terapi yang menggunakan pendekatan intuitif sensorik adalah bahwa motivasi anak memainkan peran penting dalam pemilihan kegiatan. Kebanyakan anak cenderung mencari aktivitas yang memberikan pengalaman sensoris yang paling bermanfaat bagi mereka pada saat itu dalam pembangunan. Ini adalah isyarat penting bagi terapis, yang mengacu pada minat dan motivasi anak untuk memandu seleksi kegiatan.

Beberapa anak akan diberi banyak pilihan dalam pemilihan aktivitas sementara yang lain yang memiliki kesulitan memilih kegiatan yang sesuai akan diberikan dengan tingkat struktur yang tinggi. Bahkan ketika terapis menyediakan banyak struktur, bagaimanapun, anak didorong untuk menjadi peserta aktif dalam aktivitas. Jarang sekali anak itu hanyalah penerima stimulasi pasif, karena ini adalah keterlibatan aktif yang memungkinkan anak menjadi penyelenggara informasi indra yang lebih matang dan efisien.

Kenapa Anak-Anak Suka Terapi Sensori Integrasi?

Terapi menggunakan prosedur penginderaan sensoris hampir selalu menyenangkan bagi anak. Pengaturan klinis penuh dengan peralatan yang menarik: landai untuk meluncur ke bawah, platform untuk diayunkan, guling untuk memanjat, tabung dalam untuk melompat ke dalam, trapeze untuk diayunkan.

Bagi anak, terapi adalah bermain dan mungkin terlihat seperti bermain untuk pengamat dewasa juga. Tapi ini juga pekerjaan penting, karena dengan bimbingan seorang profesional terlatih, anak tersebut dapat meraih kesuksesan yang mungkin tidak akan terjadi dalam permainan yang tidak diputuskan.

Kenyataannya, banyak anak dengan gangguan penginderaan sensoris tidak dapat bermain secara produktif dengan cara yang teratur tanpa bantuan khusus. Menciptakan suasana yang menyenangkan saat terapi tidak dilakukan hanya untuk bersenang-senang. Hal ini menguntungkan karena anak lebih cenderung tertarik pada aktivitasnya, dan karenanya lebih mungkin mendapatkan manfaat dari waktu yang dihabiskan dalam terapi daripada anak yang tidak tertarik atau tidak terlibat.

Terapi harus menjadi pengalaman pertumbuhan positif bagi anak-anak, yang biasanya menantikannya dengan penuh semangat. Tidak setiap hari terapi, bagaimanapun, akan produktif secara optimal – semua anak memiliki masa-masa sulit. Ada beberapa gangguan, juga, yang menyulitkan seorang anak untuk berinteraksi dengan peralatan dan mendapatkan kenikmatan dari aktivitas yang kebanyakan anak pertimbangkan untuk dimainkan.

Untuk beberapa anak, oleh karena itu, memulai terapi mungkin merupakan proses. Seorang terapis terlatih akan tahu berapa banyak untuk mendorong seorang anak dan mungkin meminta bantuan orang tua untuk membantu anak tersebut terlibat.

Apa yang Diharapkan dari Terapi Sensori Integrasi?

Ketika pendekatan intuitif sensorik terhadap terapi berhasil maka anak akan dapat secara otomatis memproses informasi sensorik kompleks dengan cara yang lebih efektif daripada sebelumnya. Ini bisa memiliki sejumlah hadiah penting. Perbaikan koordinasi motorik dapat didokumentasikan oleh kemampuan anak untuk melakukan tugas motorik kasar dan baik dengan keterampilan yang lebih besar dan pada tingkat kompleksitas yang lebih tinggi daripada yang diharapkan tanpa intervensi.

Bagi anak yang awalnya mempresentasikan masalah responsif yang terlalu responsif terhadap stimulasi sensorik, respons yang lebih normal dapat menyebabkan penyesuaian emosional yang lebih baik, peningkatan kemampuan sosial pribadi, atau kepercayaan diri yang lebih besar. Beberapa anak akan menunjukkan keuntungan dalam perkembangan bahasa, sementara yang lain akan meningkat secara signifikan dalam pencapaian sekolah karena sistem saraf mereka mulai berfungsi dengan lebih efisien.

Sangat sering, orang tua melaporkan bahwa anak mereka tampaknya lebih baik “disatukan,” lebih percaya diri, lebih terorganisir dan mudah untuk tinggal bersama. Pada tahap awal intervensi, terapis akan memprediksi daerah mana yang cenderung menunjukkan perubahan saat anak berkembang, berdasarkan konstelasi masalah yang muncul dan penelitian yang ada mengenai efek pengobatan.

Tentu saja, prediksi bisa salah, jadi anak Anda akan dipantau pada interval 3 sampai 6 bulan. Durasi terapi biasanya berkisar antara 6 bulan sampai 2 tahun, tergantung pada tingkat keparahan dan jenis masalah yang dimiliki anak Anda, serta tingkat dan tingkat kemajuan yang terlihat. Beberapa anak mendapat manfaat dari periode terapi intermiten selama beberapa tahun. Misalnya, terapi mungkin diberikan selama periode 6 sampai 9 bulan, kemudian dipulihkan satu tahun kemudian untuk periode intervensi yang lain. Kebanyakan pengaturan perawatan memungkinkan satu sampai tiga sesi per minggu, masing-masing berlangsung dari 30 menit sampai 2 jam, tergantung pada fasilitas dan kebutuhan anak (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

Exceptional Family Resource Center (EFRC) . A Parent’s Guide to Understanding Sensory Integration. Diakses 27 Oktober 2017, http://www.efrconline.org/admin/files/Parent%27sGuideToSI.pdf

AUTISME: CIRI DAN GANGGUAN PADA FUNGSI KOGNITIF SOSIAL

Kanner (1943) melihat gangguan autisme berupa perilaku atau fenotip yang lebih variatif dari gangguan dalam komunikasi sosial dan atau kesulitan dalam perilaku (dalam Volkmar, Lord, Bailey, Schultz, & Klin, 2004).

Autisme adalah gangguan yang terjadi dimana mengalami kegagalan dalam interkasi sosial dan komunikasi.  Hal ini berkaitan dengan kemampuan dalam kognisi atau berpikir secara sosial dimana kurangnya kesadaran diri terhadap diri sendiri dan juga kepada orang di sekitarnya (Frith & Frith, 2007).

Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa individu dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) menunjukkan karakteristik dan awal munculnya buruknya dalam penggunaan informasi visual untuk memahami maksud dan keadaan mental orang lain, serta mengkoordinasikan perhatian secara bersamaan.

Di sisi lain, individu dengan ASD memiliki hambatan dalam kemampuan sosial ini.  Mereka kurang tanggap terhadap sinyal sosial yang berasal dari lingkungan.  Sinyal ini memungkinkan manusia untuk belajar tentang dunia dari orang lain, untuk belajar tentang orang lain, dan untuk menciptakan dunia sosial secara bersama. Sinyal sosial dapat diproses secara otomatis oleh penerima dan memungkinkan secara tidak sadar yang dipancarkan oleh pengirim, yaitu orang lain. Sinyal ini non verbal dan bertanggung jawab untuk pembelajaran sosial di tahun pertama kehidupan. Sinyal sosial juga bisa diproses secara sadar dan ini memungkinkan pemrosesan otomatis dimodulasi dan atau ditolak. Bukti untuk proses sosial tingkat tinggi ini sangatlah banyak sejak usia sekitar 18 bulan untuk individu normal (Frith & Frith, 2007).  Oleh karena itu, deteksi anak dengan autisme dapat dilakukan sejak dini dimana sang anak kesulitan dalam menangkap sinyal sosial dari orang lain.

Ciri Anak Dengan Autisme

Terkait dengan ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan fungsi sosial yang terjadi pada anak dengan autisme, berikut ini adalah ciri atau pendektian anak dengan austime

Ciri Autism Spectrum Disorder

  1. Sebanyak enam (atau lebih) item dari (1), (2), dan (3), dengan paling sedikit dua item dari point (1), dan masing-masing satu item dari point (2) dan (3):

(1) Penurunan kualitas dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua hal berikut:

(A) gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(B) kegagalan untuk mengembangkan hubungan dengan rekan sebaya yang sesuai dengan  tingkat perkembangan

(C) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati)

(D) kurangnya timbal balik sosial atau emosional

(2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi sebagaimana terwujud oleh paling sedikit salah satu dari berikut ini:

(A) Keterlambatan atau kurangnya secara keseluruhan dalam pengembangan bahasa lisan (tidak disertai upaya untuk mengkompensasi melalui mode komunikasi alternatif seperti isyarat atau mime).

(B) Pada individu dengan suara yang memadai, gangguan yang ditandai dalam kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain.

(C) Penggunaan bahasa-bahasa atau bahasa istimewa yang khas dan berulang (repetitive)

(D) Kurangnya kemampuan dalam permainan berkaitan dengan kepercayaan yang bervariasi dan spontan atau permainan imitatif sosial yang sesuai dengan tingkat perkembangan.

(3) Membatasi pola perilaku, minat, dan kegiatan yang berulang serta khas, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya salah satu dari berikut ini:

(A) Meliputi keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang khas  dan terbatas  dimana  tidak normal, baik dalam intensitas maupun fokus perhatian.

(B) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual yang sifatnya non fungsional tertentu

(C) Perilaku motorik yang selalu berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(D) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada setidaknya satu dari area berikut, dengan onset sebelum 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa seperti yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) bermain simbolis atau imajinatif.

C. Gangguan ini tidak diperhitungkan dengan baik oleh Rett’s Disorder atau gangguan disintegratif masa kanak-kanak.

American Psychiatric Association. (DSM-IV-TR). Washington, DC, 2000:75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Ciri-Ciri Asperger Syndrome

A. Kerusakan kualitatif dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua dari hal berikut ini:

(1) Gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(2) Kegagalan untuk mengembangkan hubungan sebaya yang sesuai dengan tingkat perkembangan

(3) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati orang lain)

(4) Kurangnya timbal balik sosial atau emosional

B. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan memiliki ciri khusus, seperti yang ditunjukkan sekurang-kurangnya oleh 1 hal berikut:

(1) Meliputi kesibukan dengan satu atau beberapa pola kepentingan yang khusus dan pembatasan yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokus.

(2) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual nonfungsional tertentu

(3) Gaya motorik yang khas dan berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(4) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

C. Gangguan ini menyebabkan kerusakan klinis yang signifikan di area kerja sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.

D. Tidak ada penundaan umum yang signifikan secara klinis dalam bahasa (misalnya kata tunggal yang digunakan pada usia 2 tahun, frase komunikatif yang digunakan pada usia 3 tahun)

E. Tidak ada keterlambatan perkembangan kognitif yang signifikan secara klinis atau dalam pengembangan keterampilan membantu diri yang sesuai dengan usia, perilaku adaptif (selain dalam hal interaksi sosial), dan keingintahuan tentang lingkungan di masa kecil.

F. Kriteria tidak ditemukan pada Gangguan Perkembangan Pervasif atau Skizofrenia spesifik lainnya.

American Psychiatric Association. DSM-IV-TR. Washington, DC,  2000, hal. 75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Autisme Dan Fungsi Otak Sosial

Berdasarkan dari uraian di atas terkait dengan ciri-ciri austime, maka jelaslah adanya gangguan dari fungsi kerja otak.  Secara umum peneliti melihat adanya gangguan kognisi atau berpikir secara fungsi sosial yang dialami oleh individu dengan autisme.  Hal ini ditunjukkan dengan ketidakmampuan individu dengan auitisem dalam menafsirkan sinyal sosial dari lingkungan.

Berikut ini adalah bagian otak yang berfungsi dalam kognitif sosial yaitu mengolah informasi sosial.  Bagian otak tersebut, yaitu medial prefrontal cortex (MPFC), Anterior Cingulate Cortex (ACC), Anterior Insula (AI), Inferior Frontal Gyrus (IFG), Inter Parietal Sulcus (IPS), Amygdala, Temporo-Parietal Junction (TPJ), posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) (Frith & Frith, 2007).

Otak Sosial

Gambar Bagian Otak dan Fungsi Kognitif Sosial (Frith & Frith, 2007).

Berdasarkan gambar di atas bagian otak dan fungsi yang terkait dengan kognisi sosial yaitu:

  1. Amigdala adalah struktur kompleks yang terbenam di lobus temporal anterior terlibat dalam menafsirkan nilai-nilai sosial, misalnya, kepercayaan terhadap objek seperti
  2. Medial Prefrontal Cotex (MPFC) secara konsisten diaktifkan saat memikirkan keadaan mental diri dan orang lain.
  3. Aktivitas di Anterior Cingulate Cortex (ACC) dan Anterior Insula (AI), yang berada di bawah bagian antara lobus frontal dan temporal, dikaitkan dengan pengalaman emosi seperti rasa sakit dan jijik pada diri sendiri dan orang lain.
  4. Aktivitas pada Inferios Frontal Gyrus (IFG) dan Intra Parietal Sulcus (IPS) terjadi sebagai respons terhadap tindakan eksekusi dan observasi tindakan.
  5. Aktivitas di Temporo Parietal Junction (TPJ) nampaknya berhubungan dengan pengambilan perspektif, baik spasial dan mental, dan karenanya dengan pemahaman kepercayaan yang salah.
  6. Aktivitas di posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) ditimbulkan oleh observasi aksi dan saat membaca maksud dari tindakan (Frith & Frith, 2007).

Oleh karena itu intervensi anak autisme dilakukan sebaiknya sejak usia dini dimana tumbuh kembang biologis, khususnya otak terjadi sangat pesat.  Pelatihan yang dilakukan adalah dengan merangsang sensori indera agar peka terhadap sinyal sosial serta bagaimana  mengaktifkan fungsi kerja otak sosial dalam pengolahan sinyal sosial dari lingkungan.  Terapi yang dapat dilakukan untuk intervensi anak dengan autisme adalah fisioterapi sensori motorik, terapi sensori integrasi, dan terapi metakognitif. Terapi yang terintegrasi dan menyeluruh ini adalah kunci dari keberhasilan terhadap perbaikan dan kemajuan tumbuh kembang pada anak dengan autisme.

 

Referensi

Frith, C.D. & Frith, U.  Social Cognition in Humans. Current Biology, 17(16): R724–R732, DOI 10.1016/j.cub.2007.05.068

Johnson, C.P. Myers, S.M. &  Council on Children With Disabilities.(2007). Identification and Evaluation of Children With Autism Spectrum Disorders.  PEDIATRICS, 120(5): 1183-1215.

Volkmar, F.R., Lord, C. Bailey, A. Schultz, R.T., & Klin, A. (2004). Autism and pervasive developmental disorders. Journal of Child Psychology and Psychiatry 45(1):135–170.

Promo Terapi Sensori Integrasi & Fisioterapi Di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

IMG_20170527_054225_737.jpg

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan promo untuk terapi sensori integrasi dan fisioterapi.  Promo harga per kedatangan atau per sesi hanya Rp. 175.000,- dengan frekuensi terapi 2x seminggu selama 6 bulan.  Promo ini diberikan kepada anak di bawah 6 tahun dengan diagnosa ADHD, Cerebal Palsy, PDD-NOS, Autisme, dan Disleksia.

Terapi sensori integrasi dan fisioterapi merupakan rangakaian terapi yang penting bagi anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang, khususnya sensory processing disorder (sensory inetrgation disfunction), ADHD, Cerebal Palsy, Autisme, PDD-NOS.  Kedua terapi ini sebaiknya berjalan paralel dan diberikan kepada anak dibawah 6 tahun agar tumbuh kembangnya menjadi lebih optimal dalam mengkoping hambatan yang terjadi.

Secara garis besar, sensori integrasi adalah suatu proses neurologi yang berfungsi mengorganisasikan informasi dari tubuh dan dunia luar  dalam dunia sehari-hari.

Proses ini bekerja sebagai system di saraf pusat yang berisi jutaan neuron di sumsum tulang belakang dan otak.  Dalam kenyataannya, gangguan kemampuan sensori integrasi yang dialami anak sejak lahir akan mengganggu proses pengorganisasian, pikiran, dan perilaku.  Kondisi ini dapat dilihat, bagaimana regulasi diri anak dalam mengontrol  aktivitas perilakunya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Fisioterapi dalam hal ini sangat dibutuhkan untuk merangsang syaraf perifer atau syaraf tepi.  Syaraf ini berada di seluruh bagian tubuh yang mempengaruhi susunan syaraf pusat. Fisioterapi memberikan  rangsangan sensori keseluruh bagian tubuh melalui batang otak dan  sumsum tulang belakang.  Bagian sumsum tulang belakang bertugas untuk menerima rangsansang sensori yang kemudian diintegrasikan dibagian syaraf pusat untuk dikoordinasikan dalam bentuk respon yang diharapkan.  Terapi sensori integrasi tanpa diiringi dengan fisioterapi, sudah tentu memakan  waktu yang lebih lama, sehingga perkembangan hasil terapinya lebih lama terlihat perubahannya.  Untuk itu dibutuhkan perpaduan antara kedua terapi, yaitu terapi sensori integrasi dan fisioterapi agar diperoleh hasil yang optimal.

Banyak sekali permasalahan anak kebutuhan khusus yang membutuhkan terapi sensori integrasi dan fisioterapi di tujuh tahun awal kehidupannya, seperti ADHD, Autisme, Disleksia, Cerebal Palsy,  PDD-NOS,

Untuk informasi tentang terapi sensori integrasi dan fisioterapi dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391 wa/sms/telp).

TERAPI SENSORI INTEGRASI METAKOGNITIF

Melani Arnaldi

Sensori integrasi adalah suatu proses neurologi yang berfungsi mengorganisasikan informasi dari tubuh dan dunia luar dalam dunia sehari-hari.

Proses ini bekerja sebagai system di saraf pusat yang berisi jutaan neuron di sumsum tulang belakang dan otak.  Dalam kenyataannya, gangguan kemampuan sensori integrasi yang dialami anak sejak lahir akan mengganggu proses pengorganisasian, pikiran, dan perilaku.  Kondisi ini dapat dilihat, bagaimana regulasi diri anak dalam mengontrol aktivitas perilakunya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Banyak sekali permasalahan anak kebutuuhan khusus yang membutuhkan terapi sensori integrasi di tujuh tahun awal kehidupannya, seperti ADHD, Autisme, Cerebal Palsy, PDD-NOS.

Gejala yang dapat terlihat, yaitu:

  1. Terlalu sensitif atau kurang sensitive terhadap sentuhan, gerakan, penglihatan, atau suara di lingkungan
  2. Tingkatan aktivitas yang tidak biasa seperti anak lainnya, dapat sangat aktif atau kurang aktif
  3. Mudah terganggu; miskin perhatian terhadap tugas
  4. Keterlambatan dalam bicara, keterampilan motoric, atau pretasi akademis
  5. Masalah koordinasi seperti kikuk atau canggung
  6. Miskin kesadaran tubuh
  7. Kesulitan belajar tugas baru atau mencari tahu bagaimana untuk bermain dengan mainan baru
  8. Tampak tidak teratur di hamper setiap waktu
  9. Kesulitan dengan transisi antara kegiatan atau lingkungan baru
  10. Keterampilan sosial yang belum matang
  11. Impulsif atau kurangnya pengendalian diri
  12. Kesulitan menenangkan diri setelah terganggu secara emosional
  13. Masalah self regulation

 

Masalah sistem sensitivitas tactil 

Sistem tactil bermain di dalam kemampuan fisik, mental, dan emosional di dalam membentuk perilaku.  Setiap orang memiliki sensitivitas tactile ketika semua fungsi penginderaannya dapat menghantarkan informasi di dalam fungsi persepsi visual, planning motoric, body awareness, maupun terhadap kemampuan social skill.  Kondisi ini sangat mempengaruhi rasa aman secara emosional dan kemampuan belajar secara akademik.  Terdapat dua kemampuan dasar sensitivitas tactile yang harus dimiliki, pertama kemampuan sensitivitas untuk mempertahankan diri, kemampuan sensitivitas untuk membedakan rangsang, dan kemampuan  untuk mengontrol sensitivitas dari susunan saraf pusat.

Kondisi ini biasanya dialami oleh anak-anak yang mengalami hipersensitivitas atau hiposensitivitas.  Bahkan kesulitan membedakan rangsang penginderaan

Masalah sensitivitas vestibular

Sistem vestibular adalah kemampuan memperoleh keseimbangan antara gerak dan koordinasi pikiran. Salah satu cara yang digunakan adalah menghubungkan pesan sensoris ke bagian syaraf pusat melalui pengalaman yang dibuat sampai terbentuknya kerangka kerja dari syaraf pusat secara efektif.

Pada umumnya anak yang mengalami gangguan sensitivitas vestibular, akan mengalami masalah pada saat bermain.  Umumnya anak akan sering terjatuh, menabrak barang-barang, sampai denngan kesulitan untuk duduk diam saat membaca.  Emosinya sering terlihat naik turun, dengan attention yang tidak terpelihara dalam waktu yang diharapkan.  Melalui terapi sensori integrasi yang dikombinasikan dengan metode metakognitif, anak akan diajarkan bagaimana dapat mengendalikan pikirannya untuk mengontrol gerak tubuhnya agar terjadi keseimbangan antara sensasi yang masuk, gerak, gravitasi, keseimbangan, dan ruang.

Masalah Sistem Propioseptik

Sistem propioseptik adalah kemampuan diri untuk mengontol posisi gerak tubuh.  Kondisi ini berkaitan dengan proses integrasi antara sensasi gerak dan sentuhan.  Proses penerimaan sensasi propioseptik berkaitan dengan otot, ligament, tendon, dan lapisan penguhung antar motorik gerak.  Kemampuan ini berkaitan dengan posisi anak untuk menerima pesan tanpa dia sadari pada akhirnya, sehingga terjadi automatisasi gerak yang fleksibel, tidak terkesan kaku dan memiliki kemampuan control motoric yang       terencana.

Masalah Asosiatif

Masalah asosiatif berkaitan dengan bagaimana seseorang memproses semua panca inderanya dengan baik.  Masalah ini berkaitan dengan masalah memproses informasi bahasa pada indera pendengaran, proses mengartikulasikan kata-kata saat berbicara, kemampuan terahadap proses persepsi penglihatan dan gerak mata, masalah koordinasi terhadap kemampuan fungsi pengecapan saat makan, masalah kontrol fungsi toilet training dan masalah tidur.  Masalah ini pada umumnya dialami anak apabila setelah berusia 4 tahun belum bisa melakukannya dengan baik.  Masalah ini dikatakan penting, karena kemampuan asosiatif adalah kemampuan pertama anak untuk dapat belajar, termasuk belajar membaca, menulis, dan merasakan masalah-masalah social secara emosional.

Proses Tahapan Terapi Sensori Integrasi Metakognisi

sensory-sistem

Seperti yang kita ketahui bahwa mekanise kerja otak dapat terjadi dari berbagai macam bentuk proses.     Diantaranya proses lateralisasi yang dapat menutupi ketidakmampuan prosses bahasa disebagian belah otak.  Pada proses kemampuan sensori integrasi       memang memiliki proses yang runtut berbeda dengan fungsi kongitif bahasa.

Masalah keruntutan ini yang menyebabkan proses terapi harus dilakukan dengan sejumlah tahap secara berurutan.  Dimana dari gambar diatas dapat terlihat bahwasanya tahap paling mendasar harus terpenuhi keterampilannya sebelum naik ke tahap di atasnya.

Proses neurologi berfungsi untuk mengorganisasikan sensasi dari tubuh dan lingkungan, serta membuat tubuh lebih efektif di dalam merespon informasi dari lingkungan. Proses ini harus menjadi program yang secara otomatis berfungsi di saat input sensori masuk.  Proses automatisasi ini dapat diperoleh dari proses pelatihan secara motorik  dan melalui proses belajar, melalui metode metakognisi.

Proses terapi akan melalui tahap, dimana anak akan dilatih secara motorik untuk merangsang system penginderaan, menerima sensitivitas dari lingkungan, baru kemudian masuk ke tahap sensori motorik dan perceptual motorik untuk melakukan sejumlah perintah yang diharapkan.

Setelah proses pelatihan dianggap telah mampu mencapai tahapan yang optimal, barulah seorang anak  memasuki tahap proses berpikir.  Proses berpikir ini termasuk kemampuan untuk membuat strategi, pengambilan keputusan, membuat planning, membuat cerita, hingga munculnya insight di dalam bentuk self-talk.  Proses berpikir yang telah di dasar dengan kemampuan sensori motorik yang optimal akan mewujudkan suatu koordinasi regulasi diri yang baik.  Kondisi ini yang diharapkan dapat terwujud melalui terapi yang dilakukan secara rutin dan disiplin.  Proses yang    dilakukan akan menghasilkan proses neuroplastisitas di otak sehingga hasilnya prosesnya dapat merubah sturktur otak secara keselurahan.

Pentingkah fisioterapi ?

Fisoterapi dengan elektro akupuntur mampu meningkatkan fungsi fisiologi syaraf pusat dan tepi sehingga mampu meningkatkan kecerdasan.  Fisioterapi yang dilakukan adalah dengan menggunakan akupuntur listrik atau elektro akupuntur.  Teknik ini setara dengan 1000 jarum akupuntur namun tidak  menimbulkan rasa sakit serta aman bagi anak.

Fisioterapi Akupuntur Listrik setara akupuntur 1000 jarum

Melalui bantuan teknik akupuntur listrik ini, tumbuh kembang fisiologi tubuh anak dioptimalkan sehingga mampu meningkatkan kecerdasan. Berdasarkan penelitian, alat ini dapat secara efektif meredakan gejala autisme anak dan meningkatkan kecerdasan, kemampuan bahasa, dan    kemampuan sosial adaptif.

Referensi

Alberta Human Services. (2015). Sensory integration and sensory integration dysfunction. http://www.humanservices.alberta.ca/documents/PDD/pdd-central-sensory-integration-dysfunction.pdf. Diakses 9 November 2016.

Brown, J. (2009). An introduction to identification and intervention for children with sensory processing difficulties.https://childhealthanddevelopment.files.wordpress.com/2011/04/si-presentation_for_mh_practioners.pdf. Diakses 28 Januari 2016

Tian YP1Qi RLi XLWang YLZhang YJi THou CYWang LJ. Acupuncture for promoting intelligence of children–an observation on 37 cases with mental retardation. Journal  of Traditional  Chinese Medicene. 2010 Sep;30(3):176-9

SENSORY PROCESSING DISORDER: APA DAN BAGAIMANA?

 

Definisi

Sensory processing, (kadang-kadang disebut sebagai “sensori integrasi” atau SI) adalah istilah yang menggambarkan cara sistem saraf menerima pesan dari indera, dan mengubahnya menjadi motor yang sesuai dan respon perilaku, “Sensory Processing Disorder“, (SPD) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika sinyal sensorik tidak dapat disusun menjadi respon tanggapan yang tepat.  Hal tersebut berupa proses neurologis yang mengatur sensasi dari tubuh sendiri dan atau dari lingkungan serta memungkinkannya untuk menggunakan tubuh secara efektif dalam lingkungan.

Penyebab SPD antara lain adalah faktor keturunan, kondisi selama kehamilan atau trauma saat melahirkan, dan faktor lingkungan, yaitu rendahnya stimulasi sensori, kompleksitas lingkungan, serta interaksi manusia di lingkungan tersebut.

Diagnosa

SPD dapat terjadi pada saat perkembangan anak dan memiliki co-morbiditas tinggi dengan autisme dan gangguan perkembangan lainnya seperti: berat lahir prematur, cedera otak, gangguan belajar, dan kondisi lain.  SPD dapat terjadi karena disfungsi dalam memproses informasi dari lingkungan melalui indera kita.

diagram-spd

Deteksi Dini SPD

Berikut adalah gejala-gejala atau simptom yang patut dicurigai mengalami SPD dan perlu untuk diperiksakan lebih lanjut ke ahli.

Masa Bayi dan balita

  1. Masalah pada makan atau tidur
  2. Menolak untuk pergi kepada siapa pun kecuali diri saya
  3. Irritable ketika sedang berpakaian; tidak nyaman dalam pakaian
  4. Jarang bermain dengan mainan
  5. Melawan berpelukan, lengkungan kaki saat dipegang
  6. Tidak bisa menenangkan diri
  7. Floppy atau badan kaku, keterlambatan motorik

Masa Anak Usia Dini (PAUD dan TK)

  1. Over-sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, orang lain
  2. Kesulitan dalam berteman
  3. Kesulitan berganti pakaian, makan, tidur, dan / atau pelatihan toilet
  4. Ceroboh; keterampilan motorik yang buruk; lemah
  5. Dalam gerakan konstan; di wajah dan ruang orang lain
  6. Sering marah atau marahnya berkepanjangan

Masa Sekolah Dasar

  1. Over-sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, orang lain
  2. Mudah terganggu, gelisah, haus gerakan; agresif
  3. Mudah kewalahan
  4. Kesulitan dengan kegiatan tulisan tangan atau motorik
  5. Kesulitan berteman
  6. Tidak menyadari rasa sakit dirinya dan / atau orang lain

Masa Remaja dan Dewasa

  1. Over-sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, dan orang lain
  2. Miskin harga diri; takut gagal di tugas baru
  3. Lesu dan lambat
  4. Selalu di perjalanan; impulsif; teralihkan
  5. Meninggalkan tugas yang belum selesai
  6. Kikuk, lambat, miskin keterampilan motorik atau tulisan tangan
  7. Kesulitan tetap fokus
  8. Kesulitan tetap fokus di tempat kerja dan dalam pertemuan

Komoriditas

SPD dapat tumpang tindih atau komorbid pada anak, tapi itu adalah umum untuk melihat gejala komorbid tersebut antara lain dengan  Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Autisme, Fragile X, Fetal Alcohol Syndrome sindrom, Obsesif Kompulsif Disorder (OCD), dan Tourette sindrom.

Para peneliti menemukan tumpang tindih dalam gejala ADHD dan SPD di 60% dari anak-anak yang telah didiagnosis dengan baik gangguan antara SPD atau ADHD.  Di sisi lain, anak dengan autisme sering menunjukkan kesulitan dengan interaksi sosial, verbal, dan komunikasi nonverbal, dan perilaku repetitif.

Fragile X adalah kondisi genetik yang melibatkan kromosom X  dan merupakan kecacatan intelektual yang diturunkan.  Fragile X adalah penyebab paling umum dari autisme atau autis gangguan spektrum.

FAS (Fetal alchol syndrom) adalah sindrom cacat lahir permanen yang disebabkan oleh konsumsi ibu alkohol selama kehamilan.

Obsesif Kompulsif Disorder (OCD) didiagnosis ketika obsesi, pikiran mengganggu, atau gambar dampak harian berfungsi (NIMH, 2013). Pikiran dan gambar yang berasal dari obsesi ini adalah: “tidak diinginkan, tidak pantas, dan mengganggu, tidak terkait dengan acara yang sebenarnya kekhawatiran, berasal dari pikiran mereka sendiri dan tidak saran seseorang, tidak respon realistis untuk acara yang sebenarnya, dan dilakukan untuk menghindari rasa takut.

Sindrom Tourette ditandai oleh beberapa bermotor dan vokal gerenyet urat syaraf (tics) dimana ditampilkan oleh seorang anak. Beberapa anak, yang didiagnosis dengan sindrom Tourette, akan melakukan tics ketika mereka mengalami rangsangan indra, baik jika mereka mencari atau menghindari itu.

Intervensi

sensory sistem.png

Tujuan dari intervensi adalah menormalisasi pengolahan sensorik dan integrasi untuk menghasilkan tanggapan adaptif.  Intervensi dilakukan dengan meningkatkan pengolahan sensorik untuk dampak gerakan, belajar, dan sosio-emosional serta kesejahteraan.  Gambar di atas menjelaskan bagaimana proses intervensi yang dijalankan dari mengoptimalkan sistem sensori secara bertahap hingga mampu menumbuhkan kecerdasan hingga anak mampu belajar dan mencapai prestasi akademis.

Intervensi SI atau SPD yang sukses tidak dikontrol ketat oleh terapis. Sesi ini bergantung pada keinginan anak dan motivasi intrinsik untuk berinteraksi dengan lingkungan dengan mendorong anak untuk memilih kegiatan yang akan dilakukan.  Oleh karena itu, penting dalam intervensi SPD atau SI untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak sehingga muncul motivasi intrinsiknya.

 

Daftar Pustaka

Brown, J. (2009). An introduction to identification and intervention for children with sensory processing difficulties.https://childhealthanddevelopment.files.wordpress.com/2011/04/si-presentation_for_mh_practioners.pdf. Diakses 28 januari 2016.

Lonkar, H. (2014). An overview of sensory processing disorder: use of sensory integration theory. Honors Theses. Paper 2444: Western Michigan University