Pelayanan Pendidikan Inklusi Terlengkap di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Anak Berkebutuhan Khusus dan Pelayanan Inklusi

inklusi

Anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di pendidikan inklusi perlu pendampingan dalam bentuk terapi yang berkelanjutan. Keterbatasan yang dimiliki anak bukan menjadi penghalang dalam memperoleh pendidikan, namun perlu penyesuaian terhadap hambatan yang dimiliki. Pendampingan ini tidak hanya disekolah namun juga dalam bentuk terapi. Melalui terapi yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus, diharapkan mereka mampu meningkatkan keterampilan dalam pendidikan formal inklusi yang diambil.

Anak berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.

Salah satu pelayana inklusi yang diberikan adalah kepada anak yang mengalami masalah dalam tumbuh kembang.  Anak berkebutuhan khusus tersebut adalah anak dengan autisme, cerebral palsy, dyslexia, ADHD, down syndrome, borderline intellectual.

Pendidikan inklusi adalah bentuk pendidikan yang menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal pada umumnya untuk belajar. Pengertian pendidikan inklusi adalah sebuah pelayanan pendidik an bagi peserta didik yang mempunyai kebutuhan pendidikan khusus di sekolah regular ( SD, SMP, SMU, dan SMK) yang tergolong luar biasa baik dalam arti kelainan, lamban belajar maupun berkesulitan belajar lainnya.

Oleh karena itu pelayanan pendidikan inklusi diharapkan tidak hanya memberikan materi akademis saja, namun juga memberikan pelayanan terapi. Pelayanan yang terintegrasi antara pendidikan akademis dan terapi diharapkan akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak lebih baik.

Pelayanan Sekolah Inklusi Di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

20161102_122540

Pelayanan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu bekerjasama dengan PKBM Metakognisi menyelenggarakan pendidikan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus seperti borderline intellectual, down syndrome, dyslexia, dan autism. Pendidikan inklusi ini terintegrasi dengan pelayanan terapi yang diberikan kepada anak sesuai dengan jenis gangguan yang dialami.

Melalui pendidikan dan pelayanan terapi yang terintegrasi ini, anak berkebutuhan khusus akan mendapatkan dokumen akademis seperti raport dan ijasah . Mereka akan diikutsertakan dalam ujian kesetaraan yaitu Paket A (setara SD), Paket B (Setara SMP), dan Paket C (setara SMA). Pelayanan pendidikan ini akan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan individu.

Pemeriksaan dan Terapi

IMG_20170313_160727_908

Pemeriksaan fungsi psikologi dari anak berkebutuhan khusus (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Disisi lain, anak berkebutuhan khusus perlu dilakukan pemeriksaan yang lengkap untuk mengetahui sumber gangguan. Diagnosa yang tepat berdasarkan pemeriksaan yang akurat akan sangat mendukung keberhasilan dan efektivitas terapi yang dilakukan.

Pemeriksaan yang dilakukan tidak hanya meliputi faktor psikologis semata. Namun juga faktor fisik atau fisiologi tubuh anak perlu diperhatikan juga. Pemeriksaan yang dilakukan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu adalah pemeriksaan fungsi psikologi dengan test kesulitan belajar dan fungsi neurobiologi melalui EEG (elektroensefalografi). Jika dirasakan perlu adanya pemeriksaan lanjut, maka akan dirujuk untuk pemeriksaan MRI atau pencitraan otak yang lebih lengkap. Hasil pemeriksaan lengkap ini akan menentukan jenis terapi apa saja yang perlu dilakukan. Adapun terapi yang dilakukan antara lain adalah terapi neurofeedback, terapi metakognitif, fisioterapi, sensori integrasi, dan computer interaktif.

Pemeriksaan lengkap ini penting untuk melihat fungsi luhur atau system syaraf pusat atau otak yang terpengaruh akibat masalah berkebutuhan khusus ini. Dari pemeriksaan tersebut akan dilihat sejauh mana fungsi otak yang dapat dioptimalkan melalui terapi yang dilakukan. Oleh karena itu pemeriksaan dan terapi sejak dini atau dibawah 5 tahun dari anak berkebutuhan khusus akan memperbaiki fungsi otak lebih optimal.

Pemeriksaan dan terapi medis untuk anak berkebutuhan khusus di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dilakukan dengan bekerjasama dengan RSPAD Gatot Subroto dan Klinik Biosel Belmont. Pemeriksaan berupa MRI dan juga intervensi medis seperti akupuntur laser dan terapi sel punca (stem cell) dilakukan di kedua instansi tersebut. Intervensi medis dilakukan untuk memperbaiki struktur sel yang rusak atau terpengaruhi akibat masalah berkebutuhan khusus sehingga fungsi fisiologi dan psikologi nya akan terperbaiki.

Terapi Neurofeedback

Proses EEG

Terapi neurofeedback untuk melatih keseimbangan antara pikiran dan perasaan (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Terapi neurofeedback diberikan untuk melatih keseimbangan antara pikiran dan perasaan anak. Anak yang mengalami gangguan emosi kurang mampu mengendalikan pikiran dan perasaannya, sehingga perlu dilatih dengan neurofeedback dengan alat bantu EEG (elektroensefalografi). Neurofeedback adalah sejenis biofeedback yang mengukur gelombang otak untuk menghasilkan sinyal yang bisa dijadikan umpan balik untuk mengajarkan pengaturan fungsi otak sendiri.

Neurofeedback biasanya diberikan dengan menggunakan video atau suara, dengan umpan balik positif untuk aktivitas otak yang diinginkan dan umpan balik negatif untuk aktivitas otak yang tidak diinginkan. Pada pelatihan neurofeedback di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, individu akan dihubungkan dengan perangkat EEG melalui Bluetooth dengan beberapa aplikasi untuk melatih fokus atau meditasi. Contohnya adalah pelatihan dimana individu harus “fokus” atau “bermeditasi” untuk mencapai suatu tujuan.  Pelatihan ini akan mengukur dan melatih mental individu dari gelombang otak yang diolah oleh aplikasi neurofeedback. Pelatihan ini melatih kemampuan individu dalam mempertahankan keseimbangan antara emosi dan pikirannya dalam keadaan sadar.  Hal ini terlihat bagaimana menyeimbangkan antara meditasi dan fokus pada saat yang bersamaan.

Terapi metakognitif.

Jpeg

Terapi metakognitif untuk melatih keterampilan metakognitif anak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Intervensi atau terapi metakognitif adalah latihan untuk melibatkan kemampuan belajar, menyimpan, dan memanggil informasi dan melibatkan kemampuan belajar, ketrampilan organisasi dan manajemen waktu, ketrampilan test tasking, ketrampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (Solanto et al., 2010). Dalam praktek penerapan metode metakognisi adalah sebagai berikut.  Anak akan diberikan pengetahuan tentang tujuan penggunaan metode tersebut, yaitu bagaimana mengendalikan proses kognitif dan aplikasinya dalam situasi belajar nyata (Smith & Strick, 1999).  Intervensi metakognitif dapat diberikan kepada anak dengan pemberian makna bahwa kapasitas kognitif anak sama seperti orang dewasa. Terapi metakoognitif yang dilakukan dengan metode MMI.

Tahapan Melani’s Metacognition Intervention (MMI) Untuk Terapi Anak Kesulitan Belajar yaitu dengan tida teknik terapi psikologi. Intervensi Metakognitif bekerja dengan pendekatan tiga teknik terapi psikologi (Client-centered Therapy, Behaviouristic Therapy, dan Metacognitive Therapy).   Metode Metakognitif menggunakan pendekatan belajar seperti pada sekolah umum yaitu membaca, menulis dan menceritakan kembali. Untuk mencapai target dari intervensi (perubahan dalam kognitif, emosional, dan perilaku), dibutuhkan media buku cerita dengan tema sosial intelegensi yang didalamnya menceritakan mengenai tentang cara berempati, bersimpati, ketulusan, pengorbanan, kekeceawaan, kesedihan, keceriaan dan lain-lain.

Fisioterapi

Fisioterapi Akupuntur Listrik setara akupuntur 1000 jarum

Fisioterapi elektroakupuntur (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Fisoterapi ini mampu meningkatkan fungsi fisiologi syaraf pusat dan tepi sehingga mampu meningkatkan  sensitivitas tactil.  Fisioterapi yang dilakukan adalah dengan menggunakan akupuntur listrik atau elektro akupuntur.  Teknik ini setara dengan 1000 jarum akupuntur namun tidak  menimbulkan rasa sakit serta aman bagi anak.

Melalui bantuan teknik akupuntur listrik ini, tumbuh kembang fisiologi tubuh anak dioptimalkan sehingga mampu  meningkatkan sensitivitas tactil, social initiation, receptive language, motor skills, coordination, dan rentang perhatian. Berdasarkan penelitian, alat ini dapat secara efektif meredakan gejala autisme anak dan meningkatkan kecerdasan, kemampuan bahasa, dan  kemampuan sosial adaptif.

 

Terapi Sensori Integrasi

Jpeg

Terapi sensori integrasi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Bagi anak berkebutuhan khusus yang masih mengalami gangguan perilaku dapat diperbaiki dengan terapi sensori integrasi. Hal dikarenakan anak berkebutuhan khusus seperti autis, mengalami masalah sensory processing disorder atau sensory integration dysfunction. Sensori integrasi adalah proses saraf yang melibatkan penerimaan, pengelompokkan, dan evaluasi dari informasi indrawi melalui modalitas seperti penglihatan dan pendengaran, serta memproduksi respon adaptif melalui impuls saraf yang disalurkan kepada saraf motorik. Oleh karena itu anak yang mengalami masalah sensori integration dysfunction atau sensori processing disorder memiliki masalah dalam penerimaan, pemerosesan, dan merespon informasi dari lingkungan.

Semua informasi yang kita terima tentang dunia, datang melalui sistem indera atau sensori. Karena banyak proses sensorik terjadi di dalam sistem saraf pada tingkat tidak sadar, kita biasanya tidak menyadarinya. Meskipun kita semua terbiasa dengan indra yang terlibat dalam rasa, bau, penglihatan, dan suara, namun kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa sistem saraf kita juga merasakan sentuhan, gerakan, gaya gravitasi, dan posisi tubuh.

Sama seperti mata yang mendeteksi informasi visual dan menyampaikannya ke otak untuk interpretasi, semua sistem sensorik memiliki reseptor yang mengambil informasi untuk dirasakan oleh otak. Sel di dalam kulit mengirimkan informasi tentang cahaya, sentuhan, rasa sakit, suhu, dan tekanan. Struktur dalam tubuh mendeteksi gerakan dan perubahan posisi kepala. Komponen otot, sendi, dan tendon memberi dan kesadaran akan posisi tubuh.

Anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan perilaku mengalami masalah penginderaan tersebut. Hal ini berakibat kepada perilakunya yang sering tidak sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Melalui terapi sensori integrasi ini, penerimaan, pemerosesan, dan respon tubuh dari anak dilatih agar sesuai dengan konteks yang ada.

Interaktif Komputer.

CD interaktif

Pelatihan interaktif komputer (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Melalui pelatihan interaktif computer, anak berkebutuhan khusus dilatih pemahaman konsep pelajaran dengan mudah. Proses pelatihan ini menggunakan media audio visual yang melatih konsep dan pemahaman materi pelajaran secara konkret dari gambar dan animasi yang ditampilkan. Proses belajar bagi anak menjadi mudah dan sesuai dengan keunikan individu sehingga memunculkan motivasi dalam belajar.  Pelatihan yang diberikan dengan meningkatkan kemampuan visual perception anak  dari media audio visual.

Untuk informasi dan pendaftaran pelayanan inklusi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391 wa/sms/telp). (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

 

 

TERAPI METAKOGNITIF UNTUK SISWA TINGKATAN SMA

Kasus kesulitan belajar di tingkatan SMA memiliki tantangan yang besar. Hal ini dikarenakan tidak hanya masalah intelegensi yang menjadi tantangan, namun juga materi pelajaran di sekolah formal Indonesia yang cukup berat dan banyak. Tercatat di sekolah formal berkurikulum nasional, siswa tingkat SMA minimal memiliki 12 mata pelajaran. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi ini membutuhkan pendekatan yang dapat mengatasi permasalahan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa serta tantangan kurikulum.

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengembangkan terapi metakognitif untuk anak kesulitan belajar yang dirancang oleh Melani Arnaldi dan dipublikasikan pada International Conference on Educational and Educational Psychology (ICEEPSY) pada tahun 2011 di Turki. Melani Arnaldi menjabarkan parameter proses kognitif yang dapat digunakan untuk mengukur dan intervensi anak kesulitan belajar. Paramater ini diterapkan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dalam proses terapi dan pelatihan bagi siswa kesulitan belajar.

Cognitive Process

Parameter Proses Kognitif Melani dalam mengukur dan intervensi untuk anak kesulitan belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada tingkatan SMA, siswa sudah harus mampu melakukan evaluasi dan kreativitas dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Tahapan ini adalah tahapan pada tingkatan mahir dimana siswa di tingkatan SMA akan dipersiapkan ke perguruan tinggi ataupun dunia kerja

Pada tahapan evaluasi, siswa dilatih dalam kemampuan melakukan penilaian dari sejumlah pemahaman yang telah diperoleh. Penilaian tidak hanya berkaitan dengan pengujian sejauh mana seseorang telah menguasai informasi agar lebih tepat memecahkan masalah. Dalam tahapan ini seseorang harus memiliki tidak hanya kemampuan dasar dalam berpikir tetapi juga strtagei dalam berpikir. Karena strategi berpikir akan membantu kecepatan seseorang di dalam melakukan evaluasi. Dalam hal ini pelatihan ditujukan untuk menghilangkan unsur subyektifitas sehingga memiliki obyektivitas dalam berpikir, karena kemampuan evaluasi merupakan proses pengujian kemampuan diri yang dapat dinilai juga oleh orang lain (Reynold, miller & weiner, 2009).

Bloom (Krathwol, 2001) membagi evaluasi dalam dua tahap, yaitu: Checking dan critique. Checking adalah kemampuan mendeteksi ketidakonsistenan atau fallacies di dalam proses atau produk, menentukan apa saja process atau product memiliki konsistensi internal. Mendeteksi keefektifan prosedur yan dapat diimplementasikan. Dengan mengkoordinasikan, mendeteksi, memonitoring dan testing. Critiquing berguna untuk mendeteksi ketidak konsistenan antara produk dan criteria eksternal, menentukan prosedur untuk memberikan sebuah problem.

Pada tahapan creativity atau kreativitas kreatifitas tidak hanya membutuhkan suatu kemampuan kognitif tetapi juga afektif. Kemampuan kognitif yang tinggi meliputi memori, berpikir kritis, berpikir deduktif, analogi dan inferensi. Kemampuan afektif yang tinggi meliputi perasaan nyaman untuk mengembangkan rasio, perasaan, intuisi dan sensing yang membutuhkan hubungan intimitas yang kondusif bersama orang disekelilingnya. Kemampuan afektif antara lain adalah Rasio, Perasaan, Intuisi dan Sensing. Kombinasi kognitif dan afektif sangat penting karena sifat dari kreatifitas itu sendiri, yaitu original, psikodelik dan iluminatif.

 

Merangkum SMA

Proses Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkat SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Taksonomi Bloom (Anderson & Krathwol, 2006) menggambarkan dengan jelas proses kreatifitas berpikir, yaitu Generating, Planning dan Producing. Generating adalah kemampuan untuk mengumpulkan sejumlah hipothesis, pengalaman dan pengetahuan yang relevan. Dengan mengumpulkan fakta, teori dan fakta nyata. Planning adalah kemampuan membuat perencanaan dan kerangka kombinasi dari sejumlah hipothesis diatas menjadi suatu rangkaian hubungan atau kombinasi atau alternatif baru. Producing adalah kemampuan membuat suatu keputusan dari sejumlah alternatif di atas yang telah diuji untuk menghasilkan suatu produk baru yang sesuai dengan kebutuhan situasional.

Merangkum SMA-2

Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkatan SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Berdasarkan uraian di atas, siswa tingkat SMA harus mampu melakukan evaluasi dan kreatifitas berpikir terhadap materi pelajaran yang diberikan. Mereka harus mampu melakukan checking dan critique materi pelajaran di tahapan evaluasi. Pada tahapan kreativitas berpikir mereka juga harus mampu melakukan generating, planning, dan producing dari materi pelajaran. Proses ini dilakukan siswa dengan merangkum materi pelajaran dan mempresentasikan di depan audiens. Hal ini selain melatih evaluasi dan kreativitas berpikir, juga melatih kepercayaan diri, verbal fluency, dan keterampilan berkomunikasi.

Presentasi SMA-1

Presentasi Siswa Tingkatan SMA pada Pelatihan dan Intervensi Metakognitif (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Pada akhirnya dengan menerapkan pelatihan metakognitif pada tahapan evaluasi dan kreativitas berpikir, siswa tingkatan SMA tidak hanya menuntaskan materi pelajaran atau bacaan dari buku teks. Namun mereka juga mampu mengaplikasikan materi pelajaran di kehidupan sehari-hari (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

AUTISME: CIRI DAN GANGGUAN PADA FUNGSI KOGNITIF SOSIAL

Kanner (1943) melihat gangguan autisme berupa perilaku atau fenotip yang lebih variatif dari gangguan dalam komunikasi sosial dan atau kesulitan dalam perilaku (dalam Volkmar, Lord, Bailey, Schultz, & Klin, 2004).

Autisme adalah gangguan yang terjadi dimana mengalami kegagalan dalam interkasi sosial dan komunikasi.  Hal ini berkaitan dengan kemampuan dalam kognisi atau berpikir secara sosial dimana kurangnya kesadaran diri terhadap diri sendiri dan juga kepada orang di sekitarnya (Frith & Frith, 2007).

Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa individu dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) menunjukkan karakteristik dan awal munculnya buruknya dalam penggunaan informasi visual untuk memahami maksud dan keadaan mental orang lain, serta mengkoordinasikan perhatian secara bersamaan.

Di sisi lain, individu dengan ASD memiliki hambatan dalam kemampuan sosial ini.  Mereka kurang tanggap terhadap sinyal sosial yang berasal dari lingkungan.  Sinyal ini memungkinkan manusia untuk belajar tentang dunia dari orang lain, untuk belajar tentang orang lain, dan untuk menciptakan dunia sosial secara bersama. Sinyal sosial dapat diproses secara otomatis oleh penerima dan memungkinkan secara tidak sadar yang dipancarkan oleh pengirim, yaitu orang lain. Sinyal ini non verbal dan bertanggung jawab untuk pembelajaran sosial di tahun pertama kehidupan. Sinyal sosial juga bisa diproses secara sadar dan ini memungkinkan pemrosesan otomatis dimodulasi dan atau ditolak. Bukti untuk proses sosial tingkat tinggi ini sangatlah banyak sejak usia sekitar 18 bulan untuk individu normal (Frith & Frith, 2007).  Oleh karena itu, deteksi anak dengan autisme dapat dilakukan sejak dini dimana sang anak kesulitan dalam menangkap sinyal sosial dari orang lain.

Ciri Anak Dengan Autisme

Terkait dengan ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan fungsi sosial yang terjadi pada anak dengan autisme, berikut ini adalah ciri atau pendektian anak dengan austime

Ciri Autism Spectrum Disorder

  1. Sebanyak enam (atau lebih) item dari (1), (2), dan (3), dengan paling sedikit dua item dari point (1), dan masing-masing satu item dari point (2) dan (3):

(1) Penurunan kualitas dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua hal berikut:

(A) gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(B) kegagalan untuk mengembangkan hubungan dengan rekan sebaya yang sesuai dengan  tingkat perkembangan

(C) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati)

(D) kurangnya timbal balik sosial atau emosional

(2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi sebagaimana terwujud oleh paling sedikit salah satu dari berikut ini:

(A) Keterlambatan atau kurangnya secara keseluruhan dalam pengembangan bahasa lisan (tidak disertai upaya untuk mengkompensasi melalui mode komunikasi alternatif seperti isyarat atau mime).

(B) Pada individu dengan suara yang memadai, gangguan yang ditandai dalam kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain.

(C) Penggunaan bahasa-bahasa atau bahasa istimewa yang khas dan berulang (repetitive)

(D) Kurangnya kemampuan dalam permainan berkaitan dengan kepercayaan yang bervariasi dan spontan atau permainan imitatif sosial yang sesuai dengan tingkat perkembangan.

(3) Membatasi pola perilaku, minat, dan kegiatan yang berulang serta khas, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya salah satu dari berikut ini:

(A) Meliputi keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang khas  dan terbatas  dimana  tidak normal, baik dalam intensitas maupun fokus perhatian.

(B) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual yang sifatnya non fungsional tertentu

(C) Perilaku motorik yang selalu berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(D) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada setidaknya satu dari area berikut, dengan onset sebelum 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa seperti yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) bermain simbolis atau imajinatif.

C. Gangguan ini tidak diperhitungkan dengan baik oleh Rett’s Disorder atau gangguan disintegratif masa kanak-kanak.

American Psychiatric Association. (DSM-IV-TR). Washington, DC, 2000:75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Ciri-Ciri Asperger Syndrome

A. Kerusakan kualitatif dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua dari hal berikut ini:

(1) Gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(2) Kegagalan untuk mengembangkan hubungan sebaya yang sesuai dengan tingkat perkembangan

(3) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati orang lain)

(4) Kurangnya timbal balik sosial atau emosional

B. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan memiliki ciri khusus, seperti yang ditunjukkan sekurang-kurangnya oleh 1 hal berikut:

(1) Meliputi kesibukan dengan satu atau beberapa pola kepentingan yang khusus dan pembatasan yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokus.

(2) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual nonfungsional tertentu

(3) Gaya motorik yang khas dan berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(4) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

C. Gangguan ini menyebabkan kerusakan klinis yang signifikan di area kerja sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.

D. Tidak ada penundaan umum yang signifikan secara klinis dalam bahasa (misalnya kata tunggal yang digunakan pada usia 2 tahun, frase komunikatif yang digunakan pada usia 3 tahun)

E. Tidak ada keterlambatan perkembangan kognitif yang signifikan secara klinis atau dalam pengembangan keterampilan membantu diri yang sesuai dengan usia, perilaku adaptif (selain dalam hal interaksi sosial), dan keingintahuan tentang lingkungan di masa kecil.

F. Kriteria tidak ditemukan pada Gangguan Perkembangan Pervasif atau Skizofrenia spesifik lainnya.

American Psychiatric Association. DSM-IV-TR. Washington, DC,  2000, hal. 75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Autisme Dan Fungsi Otak Sosial

Berdasarkan dari uraian di atas terkait dengan ciri-ciri austime, maka jelaslah adanya gangguan dari fungsi kerja otak.  Secara umum peneliti melihat adanya gangguan kognisi atau berpikir secara fungsi sosial yang dialami oleh individu dengan autisme.  Hal ini ditunjukkan dengan ketidakmampuan individu dengan auitisem dalam menafsirkan sinyal sosial dari lingkungan.

Berikut ini adalah bagian otak yang berfungsi dalam kognitif sosial yaitu mengolah informasi sosial.  Bagian otak tersebut, yaitu medial prefrontal cortex (MPFC), Anterior Cingulate Cortex (ACC), Anterior Insula (AI), Inferior Frontal Gyrus (IFG), Inter Parietal Sulcus (IPS), Amygdala, Temporo-Parietal Junction (TPJ), posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) (Frith & Frith, 2007).

Otak Sosial

Gambar Bagian Otak dan Fungsi Kognitif Sosial (Frith & Frith, 2007).

Berdasarkan gambar di atas bagian otak dan fungsi yang terkait dengan kognisi sosial yaitu:

  1. Amigdala adalah struktur kompleks yang terbenam di lobus temporal anterior terlibat dalam menafsirkan nilai-nilai sosial, misalnya, kepercayaan terhadap objek seperti
  2. Medial Prefrontal Cotex (MPFC) secara konsisten diaktifkan saat memikirkan keadaan mental diri dan orang lain.
  3. Aktivitas di Anterior Cingulate Cortex (ACC) dan Anterior Insula (AI), yang berada di bawah bagian antara lobus frontal dan temporal, dikaitkan dengan pengalaman emosi seperti rasa sakit dan jijik pada diri sendiri dan orang lain.
  4. Aktivitas pada Inferios Frontal Gyrus (IFG) dan Intra Parietal Sulcus (IPS) terjadi sebagai respons terhadap tindakan eksekusi dan observasi tindakan.
  5. Aktivitas di Temporo Parietal Junction (TPJ) nampaknya berhubungan dengan pengambilan perspektif, baik spasial dan mental, dan karenanya dengan pemahaman kepercayaan yang salah.
  6. Aktivitas di posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) ditimbulkan oleh observasi aksi dan saat membaca maksud dari tindakan (Frith & Frith, 2007).

Oleh karena itu intervensi anak autisme dilakukan sebaiknya sejak usia dini dimana tumbuh kembang biologis, khususnya otak terjadi sangat pesat.  Pelatihan yang dilakukan adalah dengan merangsang sensori indera agar peka terhadap sinyal sosial serta bagaimana  mengaktifkan fungsi kerja otak sosial dalam pengolahan sinyal sosial dari lingkungan.  Terapi yang dapat dilakukan untuk intervensi anak dengan autisme adalah fisioterapi sensori motorik, terapi sensori integrasi, dan terapi metakognitif. Terapi yang terintegrasi dan menyeluruh ini adalah kunci dari keberhasilan terhadap perbaikan dan kemajuan tumbuh kembang pada anak dengan autisme.

 

Referensi

Frith, C.D. & Frith, U.  Social Cognition in Humans. Current Biology, 17(16): R724–R732, DOI 10.1016/j.cub.2007.05.068

Johnson, C.P. Myers, S.M. &  Council on Children With Disabilities.(2007). Identification and Evaluation of Children With Autism Spectrum Disorders.  PEDIATRICS, 120(5): 1183-1215.

Volkmar, F.R., Lord, C. Bailey, A. Schultz, R.T., & Klin, A. (2004). Autism and pervasive developmental disorders. Journal of Child Psychology and Psychiatry 45(1):135–170.

Buku Kupas Tuntas Masalah Anak Slow Learner

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu menerbitkan buku bertemakan anak slow learner dengan penulis kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, Melani Arnaldi, M.Psi., Psi.

Publikasi ini adalah rangkuman hasil penelitian di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

P_20170316_123254.jpg

 

Sitasi buku:

A. Melani. (2016). “Kupas tuntas masalah anak: slow learner (keterlambatan perkembangan fungsi bahasa dan bicara). Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, Jakarta: 45 hlm.

Softcover spiral kawat. Harga Rp. 100.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Buku ini membahas masalah anak lambat belajar (slow learner) dan bagaimana intervensinya. Di buku ini dijelaskan secara gamblang bagaimana pendekatan neuropsikologi, neurosains, dan psikologi untuk menangani anak slow learner di rumah atau pun di sekolah.

Buku ini dapat menjadi pegangan bagi orang tua, guru, psikolog, mahasiswa pendidikan atau psikologi, praktisi pendidikan, pemerhati pendidikan, dan terapis anak kesulitan belajar atau anak berkebutuhan khusus yang menanganii anak slow learner (lamabat belajar).

Miliki buku ini dan ketahui lebih dalam bagaimana penanganan anak slow learner di rumah dan sekolah agar pencapaian akademisnya menjadi lebih baik.

Bab dalam buku:

  • Apa Yang Dimaksud Dengan Anak Yang Mengalami Slow Learner?
  • Mengapa Anak Slow Learner Memiliki IQ Yang Rendah?
  • Apa Saja Tahapan Proses Kognitif Yang Dapat Menghambat Fungsi Kognitif Pada Anak Slow Learner?
  • Apakah Masalah Slow Learner Bersumber Dari Masalah Neurotransmiter?
  • Apakah Masalah Neurontransmiter Pada Anak Slow Learner Membuat Anak Menjadi Sangat Sensitif?
  • Lemahnya Syaraf Vestibulocochlear (CN VIII) Sebagai Penyebab Lambatnya Proses Retrieval Pada Anak Slow Learner
  • Bagaimana Proses Pembelajaran Dapat Mendorong Terjadinya Proses Neuroplastisitas Di Otak Anak Yang Mengalami Slow Learner?
  • Apakah Obat Dan Fisioterapi Penting Di Berikan Pada Anak Yang Mengalami Slow Learner?
  • Apakah Anak Slow Learner Membutuhkan Remedial Di Sekolah?
  • Mengapa Terapi Metakognitif Pada Anak Slow Learner Dibutuhkan Setelah Anak Berhasil Melewati Terapi Wicara?
  • Terapi Metakognitif
  • Apakah Ada Komorbiditas Yang Dialami Anak Dengan Slow Learner?
  • Apa Saja Kualifikasi Observer Dalam Pengisian Skala Deteksi Masalah Anak Slow Learner.

 

Pemesanan dapat dilakukan ke Agus 08561785391 (wa/sms/telp)

TERAPI SENSORI INTEGRASI METAKOGNITIF

Melani Arnaldi

Sensori integrasi adalah suatu proses neurologi yang berfungsi mengorganisasikan informasi dari tubuh dan dunia luar dalam dunia sehari-hari.

Proses ini bekerja sebagai system di saraf pusat yang berisi jutaan neuron di sumsum tulang belakang dan otak.  Dalam kenyataannya, gangguan kemampuan sensori integrasi yang dialami anak sejak lahir akan mengganggu proses pengorganisasian, pikiran, dan perilaku.  Kondisi ini dapat dilihat, bagaimana regulasi diri anak dalam mengontrol aktivitas perilakunya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Banyak sekali permasalahan anak kebutuuhan khusus yang membutuhkan terapi sensori integrasi di tujuh tahun awal kehidupannya, seperti ADHD, Autisme, Cerebal Palsy, PDD-NOS.

Gejala yang dapat terlihat, yaitu:

  1. Terlalu sensitif atau kurang sensitive terhadap sentuhan, gerakan, penglihatan, atau suara di lingkungan
  2. Tingkatan aktivitas yang tidak biasa seperti anak lainnya, dapat sangat aktif atau kurang aktif
  3. Mudah terganggu; miskin perhatian terhadap tugas
  4. Keterlambatan dalam bicara, keterampilan motoric, atau pretasi akademis
  5. Masalah koordinasi seperti kikuk atau canggung
  6. Miskin kesadaran tubuh
  7. Kesulitan belajar tugas baru atau mencari tahu bagaimana untuk bermain dengan mainan baru
  8. Tampak tidak teratur di hamper setiap waktu
  9. Kesulitan dengan transisi antara kegiatan atau lingkungan baru
  10. Keterampilan sosial yang belum matang
  11. Impulsif atau kurangnya pengendalian diri
  12. Kesulitan menenangkan diri setelah terganggu secara emosional
  13. Masalah self regulation

 

Masalah sistem sensitivitas tactil 

Sistem tactil bermain di dalam kemampuan fisik, mental, dan emosional di dalam membentuk perilaku.  Setiap orang memiliki sensitivitas tactile ketika semua fungsi penginderaannya dapat menghantarkan informasi di dalam fungsi persepsi visual, planning motoric, body awareness, maupun terhadap kemampuan social skill.  Kondisi ini sangat mempengaruhi rasa aman secara emosional dan kemampuan belajar secara akademik.  Terdapat dua kemampuan dasar sensitivitas tactile yang harus dimiliki, pertama kemampuan sensitivitas untuk mempertahankan diri, kemampuan sensitivitas untuk membedakan rangsang, dan kemampuan  untuk mengontrol sensitivitas dari susunan saraf pusat.

Kondisi ini biasanya dialami oleh anak-anak yang mengalami hipersensitivitas atau hiposensitivitas.  Bahkan kesulitan membedakan rangsang penginderaan

Masalah sensitivitas vestibular

Sistem vestibular adalah kemampuan memperoleh keseimbangan antara gerak dan koordinasi pikiran. Salah satu cara yang digunakan adalah menghubungkan pesan sensoris ke bagian syaraf pusat melalui pengalaman yang dibuat sampai terbentuknya kerangka kerja dari syaraf pusat secara efektif.

Pada umumnya anak yang mengalami gangguan sensitivitas vestibular, akan mengalami masalah pada saat bermain.  Umumnya anak akan sering terjatuh, menabrak barang-barang, sampai denngan kesulitan untuk duduk diam saat membaca.  Emosinya sering terlihat naik turun, dengan attention yang tidak terpelihara dalam waktu yang diharapkan.  Melalui terapi sensori integrasi yang dikombinasikan dengan metode metakognitif, anak akan diajarkan bagaimana dapat mengendalikan pikirannya untuk mengontrol gerak tubuhnya agar terjadi keseimbangan antara sensasi yang masuk, gerak, gravitasi, keseimbangan, dan ruang.

Masalah Sistem Propioseptik

Sistem propioseptik adalah kemampuan diri untuk mengontol posisi gerak tubuh.  Kondisi ini berkaitan dengan proses integrasi antara sensasi gerak dan sentuhan.  Proses penerimaan sensasi propioseptik berkaitan dengan otot, ligament, tendon, dan lapisan penguhung antar motorik gerak.  Kemampuan ini berkaitan dengan posisi anak untuk menerima pesan tanpa dia sadari pada akhirnya, sehingga terjadi automatisasi gerak yang fleksibel, tidak terkesan kaku dan memiliki kemampuan control motoric yang       terencana.

Masalah Asosiatif

Masalah asosiatif berkaitan dengan bagaimana seseorang memproses semua panca inderanya dengan baik.  Masalah ini berkaitan dengan masalah memproses informasi bahasa pada indera pendengaran, proses mengartikulasikan kata-kata saat berbicara, kemampuan terahadap proses persepsi penglihatan dan gerak mata, masalah koordinasi terhadap kemampuan fungsi pengecapan saat makan, masalah kontrol fungsi toilet training dan masalah tidur.  Masalah ini pada umumnya dialami anak apabila setelah berusia 4 tahun belum bisa melakukannya dengan baik.  Masalah ini dikatakan penting, karena kemampuan asosiatif adalah kemampuan pertama anak untuk dapat belajar, termasuk belajar membaca, menulis, dan merasakan masalah-masalah social secara emosional.

Proses Tahapan Terapi Sensori Integrasi Metakognisi

sensory-sistem

Seperti yang kita ketahui bahwa mekanise kerja otak dapat terjadi dari berbagai macam bentuk proses.     Diantaranya proses lateralisasi yang dapat menutupi ketidakmampuan prosses bahasa disebagian belah otak.  Pada proses kemampuan sensori integrasi       memang memiliki proses yang runtut berbeda dengan fungsi kongitif bahasa.

Masalah keruntutan ini yang menyebabkan proses terapi harus dilakukan dengan sejumlah tahap secara berurutan.  Dimana dari gambar diatas dapat terlihat bahwasanya tahap paling mendasar harus terpenuhi keterampilannya sebelum naik ke tahap di atasnya.

Proses neurologi berfungsi untuk mengorganisasikan sensasi dari tubuh dan lingkungan, serta membuat tubuh lebih efektif di dalam merespon informasi dari lingkungan. Proses ini harus menjadi program yang secara otomatis berfungsi di saat input sensori masuk.  Proses automatisasi ini dapat diperoleh dari proses pelatihan secara motorik  dan melalui proses belajar, melalui metode metakognisi.

Proses terapi akan melalui tahap, dimana anak akan dilatih secara motorik untuk merangsang system penginderaan, menerima sensitivitas dari lingkungan, baru kemudian masuk ke tahap sensori motorik dan perceptual motorik untuk melakukan sejumlah perintah yang diharapkan.

Setelah proses pelatihan dianggap telah mampu mencapai tahapan yang optimal, barulah seorang anak  memasuki tahap proses berpikir.  Proses berpikir ini termasuk kemampuan untuk membuat strategi, pengambilan keputusan, membuat planning, membuat cerita, hingga munculnya insight di dalam bentuk self-talk.  Proses berpikir yang telah di dasar dengan kemampuan sensori motorik yang optimal akan mewujudkan suatu koordinasi regulasi diri yang baik.  Kondisi ini yang diharapkan dapat terwujud melalui terapi yang dilakukan secara rutin dan disiplin.  Proses yang    dilakukan akan menghasilkan proses neuroplastisitas di otak sehingga hasilnya prosesnya dapat merubah sturktur otak secara keselurahan.

Pentingkah fisioterapi ?

Fisoterapi dengan elektro akupuntur mampu meningkatkan fungsi fisiologi syaraf pusat dan tepi sehingga mampu meningkatkan kecerdasan.  Fisioterapi yang dilakukan adalah dengan menggunakan akupuntur listrik atau elektro akupuntur.  Teknik ini setara dengan 1000 jarum akupuntur namun tidak  menimbulkan rasa sakit serta aman bagi anak.

Fisioterapi Akupuntur Listrik setara akupuntur 1000 jarum

Melalui bantuan teknik akupuntur listrik ini, tumbuh kembang fisiologi tubuh anak dioptimalkan sehingga mampu meningkatkan kecerdasan. Berdasarkan penelitian, alat ini dapat secara efektif meredakan gejala autisme anak dan meningkatkan kecerdasan, kemampuan bahasa, dan    kemampuan sosial adaptif.

Referensi

Alberta Human Services. (2015). Sensory integration and sensory integration dysfunction. http://www.humanservices.alberta.ca/documents/PDD/pdd-central-sensory-integration-dysfunction.pdf. Diakses 9 November 2016.

Brown, J. (2009). An introduction to identification and intervention for children with sensory processing difficulties.https://childhealthanddevelopment.files.wordpress.com/2011/04/si-presentation_for_mh_practioners.pdf. Diakses 28 Januari 2016

Tian YP1Qi RLi XLWang YLZhang YJi THou CYWang LJ. Acupuncture for promoting intelligence of children–an observation on 37 cases with mental retardation. Journal  of Traditional  Chinese Medicene. 2010 Sep;30(3):176-9

Pelatihan Terapis ADHD Angkatan II: Intervensi ADHD Bagi Orang Tua Dan Guru

IMG_4858.JPG

Sesi foto bersama peserta pelatihan terapis ADHD angkatan II dengan Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan pelatihan terapis ADHD untuk angkatan ke II.  Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 21 November 2015.  Pelatihan ini dihadiri dari perwakilan guru dari SD Al Azhar 01 Pusat, SD Muhammadiyah 5 Limau, SD Muhammadiyah 28 Cipulir, orang tua anak dengan ADHD, dan pemerhati pendidikan.

Kegiatan pelatihan ini merupakan acara berkesinambungan tentang pelatihan intervensi kesulitan belajar yang setiap bulannya diadakan oleh Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Tema yang diangkat berbeda-beda tiap bulannya serta terkait dengan kasus kesulitan belajar, yaitu ADHD, ADD, Keterlambatan Bicara, Slow Learner, Gangguan Emosional, Gangguan Perilaku, Ekspresi Bahasa, dan lain-lain. Pelatihan tersebut diadakan dua kali dalam sebulan yaitu minggu kedua dan keempat dengan kapasitas peserta adalah sepuluh orang per pelatihan.  Untuk bulan November 2015, tema yang diangkat adalah kasus Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD).

IMG_4850

Sesi video kasus, penayangan intervensi anak ADHD dengan terapi Metakognitif (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pelatihan satu hari tentang ADHD ini terdiri atas tahapan studi kasus, pengenalan teori, video kasus, pengenalan screening ADHD, dan pengenalan intervensi ADHD dengan pembicara tunggal Melani Arnaldi, M.Psi., Psi sebagai Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

Pelatihan ini diperdalam dengan screening dan intervensi yang dilakukan melalui penayangan video kasus terapi anak dengan ADHD.  Peserta melihat bagaimana perilaku anak dengan ADHD, khususnya yang komorbid dengan mood disorder atau manic depresive dan intervensi yang dilakukan oleh Melani Arnaldi, M.Psi., Psi.,  beserta terapis lain dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Selanjutnya peserta melakukan latihan untuk mengisi alat test screening ADHD yang diberikan.

Pada pelatihan ini dijelaskan oleh Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., bagaimana menangani anak dengan ADHD di sekolah formal dan juga di rumah.  Khusus di sekolah atau kelas, bagaimana menangani anak dengan ADHD khususnya agar anak dapat mengikuti pelajaran dengan baik.  Bagaimana cara menasehati anak di sekolah dilakukan pada saat yang tepat, yaitu saat anak duduk tenang atau kelelahan setelah bermain.  Saat di rumah, anak dinasehati saat sebelum tidur.  Momen ini biasanya efektif dalam menasehati anak dibandingkan saat mereka sedang melakukan kesalahan atau aktif beraktivitas yang membahayakan dirinya dan orang lain.

Dijelaskan juga bagaimana dengan alat atau skala screening ADHD ini dapat membantu sekolah.  Melalui skala atau alat screening ADHD yang diisi oleh orang tua dan guru kelas, dapat digunakan oleh guru kelas, guru bimbingan dan konseling, serta manajemen sekolah ketika berhadapan dengan orang tua siswa dengan ADHD jika perilaku anaknya sudah mengganggu aktivitas kelas atau siswa lain.  Pengisian ini dapat dijadikan landasan atau bukti bagaimana perilaku anak tersebut telah cukup menganggu sehingga siswa bersangkutan perlu dibawa ke psikolog untuk diperiksa atau diterapi lebih lanjut.

IMG_4853

Sesi pengenalan dan pengisian alat atau skala screening anak dengan ADHD yang dibawakan oleh Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Peserta antusias dan merespon positif pelatihan ini. Mahmudah S.Pd, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 28 Cipulir mengatakan bahwa guru dan sekolah sangat membutuhkan pelatihan seperti ini dalam rangka meningkatakan kualitas dalam bertugas.  Tita Dewi Pursita, S.Pd, guru SD Al Azhar 01 Pusat mengatakan acara ini sangat baik dan dibutuhkan supaya guru bisa mengetahui serta menangani anak-anak yang ADHD dan hiperaktif dengan metode yang tepat.  Sebagai guru bimbingan konseling, Nurulfadillah, S.Psi mengatakan bahwa acara ini sangat baik dan bermanfaat untuk profesi beliau sebagai konselor di sekolah atau bimbingan konseling.  Ibu Titah, sebagai orang tua dari anak dengan ADHD menyambut baik acara ini karena bermanfaat dan bagus sekali untuk orang tua yang mempunyai anak dengan ADHD. (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

TERAPI ANAK KESULITAN BELAJAR DENGAN METODE MMI (Melani’s Metacognition Intervention)

Anak Kesulitan Belajar dan Metakognitif

Anak kesulitan belajar secara umum dapat dikenali dari pencapaian akademik yang rendah atau tidak stabil, dan atau perilaku yang mengganggu di sekolah.  Berbagai hambatan psikologis pada anak dapat mengakibatkan kesulitan belajar dan pencapaian prestasi akademik yang rendah.  Bisa jadi anak kesulitan belajar menunjukkan intelegensi yang normal ataupun tinggi. Akan tetapi memiliki masalah dalam membaca dan berhitung. Seperti disleksia (gangguan membaca), disotographia (gangguan mengeja), diskalkulia (gangguan berhitung), difraksia (gangguan motorik), dispasia (gangguan bicara dan bahasa) (Paternotte & Buitellar, 2010).

Salah satu terapi anak kesulitan belajar adalah dengan metode metakognisi.  Sebelum menjelaskan apa itu terapi metakognitif, ada baiknya kita menyimak arti metakognisi itu sendiri.  Seperti Fernandez-Duque et al.,( 2000 hal. 324) dalam artikel “Awareness and Metacognition” menjelaskan:

      “We acknowledge the possible contribution of unconscious processes, but favor a central role of awareness in metacognition. We welcome Shimamura’s (this issue) extension of the concept of metacognitive regulation to include aspects of working memory, and its relation to executive attention”.

 Metakognisi adalah pengetahuan tentang unconsciousness process dari peran awareness, sampai terbentuknya self-regulation yang berhubungan dengan working memory dan executive attention.

Intervensi atau terapi metakognitif adalah latihan untuk melibatkan kemampuan belajar, menyimpan, dan memanggil informasi dan melibatkan kemampuan belajar, ketrampilan organisasi dan manajemen waktu, ketrampilan test tasking, ketrampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (Solanto et al., 2010). Dalam praktek penerapan metode metakognisi adalah sebagai berikut.  Anak akan diberikan pengetahuan tentang tujuan penggunaan metode tersebut, yaitu bagaimana mengendalikan proses kognitif dan aplikasinya dalam situasi belajar nyata (Smith & Strick, 1999).  Intervensi metakognitif dapat diberikan kepada anak dengan pemberian makna bahwa kapasitas kognitif anak sama seperti orang dewasa.

Reynold, Weiner, dan Miller (2009), menyebutkan tiga proses bagaimana pengetahuan dapat termasuk di dalam komponen metakognitif, sebagai berikut:

  1. Declarative: Pengulangan pengetahuan dengan penjelasan proses kognitif melalui neuroscience, psikologi, dan intervensi, termasuk kemampuan dalam persepsi, membaca, menulis, berbicara, pemahaman, penyelesaian masalah dan memory. (Metakognitif)
  2. Procedural: Pengetahuan dalam tahapan proses, tentang apa apa yang terjadi pada proses kognitif dari neuroscience (Metastrategi).
  3. Conditional: Pengetahuan dalam menggunakan strategi untuk membantu kognitif proses (Epistemologi).

Tahapan Melani’s Metacognition Intervention (MMI) Untuk Terapi Anak Kesulitan Belajar.

Intervensi Metakognitif bekerja dengan pendekatan tiga teknik terapi psikologi (Client-centered Therapy, Behaviouristic Therapy, dan Metacognitive Therapy).   Metode Metakognitif menggunakan pendekatan belajar seperti pada sekolah umum yaitu membaca, menulis dan menceritakan kembali. Untuk mencapai target dari intervensi (perubahan dalam kognitif, emosional, dan perilaku), dibutuhkan media buku cerita dengan tema sosial intelegensi yang didalamnya menceritakan mengenai tentang cara berempati, bersimpati, ketulusan, pengorbanan, kekeceawaan, kesedihan, keceriaan dan lain-lain.

 

P_20170323_154750.jpg

Terapi Metakognitif dengan buku cerita dapat membantu pemahaman dari anak kesulitan belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Seluruh proses belajar dapat berdiri sendiri tetapi berkaitan secara simultan dan saling berpengaruh antara satu dengan yang lainnya.  Metode belajar dengan pendekatan  metakognitif ini dilakukan dengan media buku cerita, yang disebut Metacognitive Intervention (MMI) (Arnaldi, 2011). Pendekatan ini merupakan metode intervensi dengan dasar dasar teori metakognitif pada anak kesulitan belajar.

Di bawah ini adalah tahapan intervensi yang diadaptasi untuk anak dengan masalah hambatan perkembangan awareness.  Tahapan pertama fokus untuk meningkatkan kapasitas kognitif dasar, seperti konsentrasi, memori, dan pemahaman. Tahapan kedua difokuskan untuk belajar proses fisik dan kognitif.  Pendekatan ini menggunakan teknik Behaviouristic untuk mengkondisikan apa yang telah dipelajari anak di lingkungannya.  Tahapan ketiga menggunakan teknik metakognitif yang terdiri dari strategi belajar, evaluasi dan kreativitas berpikir (Arnaldi, 2011).

Proses terapi ini juga menggunakan jam sebagai penunjuk waktu, terapis membimbing anak untuk mempertahankan konsentrasi mereka sesuai dengan   waktu yang telah ditentukan bersama.  Tahapan ini akan melatih teknik, sikap, fokus, kecepatan, koordinasi, dan ketertarikan untuk membaca.  Anak yang memiliki masalah kekurangan dalam konsentrasi, pada umumnya akan terlihat kurang memiliki kemampuan teknik membaca, focused attention, eye speed, dan motoric coordination dalam membaca (Arnaldi, 2011).

Sementara itu, anak dengan gangguan emosional dan ADHD akan memperlihatkan sikap yang lebih positif dengan menunjukkan ketertarikannya dalam membaca (awareness).  Anak yang biasanya merasa tidak nyaman, memberontak, atau tidak sesuai dengan topik pada tema buku, kemudian memiliki awareness dalam membaca.  Anak yang telah memiliki kemampuan mempertahankan konsentrasinya, secara umum telah menunjukkan self-control yang baik sehingga anak terlihat memiliki ketertarikan dalam membaca.  Untuk mencapai batas waku yang diinginkan sangatlah bervariasi tegantung pada  cognitive impairment dan gangguan emosional pada anak. Media buku untuk intervensi harus sesuai dengan kemampuan membaca dan konsentrasi.  Terdapat tiga kelompok buku cerita yang digunakan yaitu  buku cerita dengan gambar penuh di setiap halamannya, buku cerita dengan kalimat pendek dan panjang (tidak ada gambarnya), dan buku cerita yang berisi tulisan panjang dengan gambar yang sedikit (Arnaldi, 2011).

Bagi anak dengan gangguan emosional dan ADHD, pada tahap kedua   menggunakan pendekatan CCT (Client-centered Therapy) dengan buku cerita yang memiliki tema tentang afeksi, kemandirian, dan sosialisasi.  Selama proses terapi diharapkan akan terjadi elaborasi dalam memori dan pemahaman, yang akhirnya dapat diaplikasikan dalam perilaku.  Keberhasilan pada tahap ini dapat dilihat dari perubahan sikap dari perilaku maladaptif, seperti hiperaktivitas, autisme, learning motivation withdrawl menjadi adaptif dengan self-regulation yang baik. Dari intervensi ini anak diharapkan memiliki self-awareness dengan self-ideal baru dari pengetahuan yang baru dan pengalaman baru yang diperoleh dari buku cerita (Arnaldi, 2011).

Gambar

Terapi Metakognitif dengan metode merangkum melatih kemampuan kognitif anak kesulitan belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Tahap ketiga, adalah melatih strategi berpikir yang  merancang struktur kognitif anak yang memiliki cognitive distortion menjadi lebih baik (cognitive restructuring) Kondisi yang telah membaik ini ini disebabkan oleh meningkatnya kemampuan anak dalam pemahaman (recall comprehension). Dengan demikian anak dapat menganalisa konteks dengan baik (self-awareness) sampai terbentuk self-regulation.

Denckla, 1994; Stuss & Benson, 1986; Torgesen, 1994;Welsh & Pennington, 1988 (dalam Barkley, 1997 hal. 68 ) dalam artikel “Behavioral Inhibition, Sustained Attention, and Executive Functions: Constructing a Unifying Theory of ADHD” yang menjelaskan  bahwa self-regulation merupakan bagian dari EF yang terlihat dari kemampuan: (a) self-directed actions;(b) the organization of behavioral contingencies across time;(c) the use of self-directed speech, rules, or plans; (d) deferred gratification; and (e) goal-directed, future-oriented, purposive,or intentional actions.

Keberhasilan terapi dapat tercapai karena memiliki prinsip terapi kognitif yaitu

  1. Berpikir, merasakan dan perilaku adalah kesatuan dengan hubungan sebab akibat dalam mengendalikan neuron, hormon, dan sirkulasi darah (plastisitas biologik).  Fungsi kognitif adalah pusat dari kontrol untuk perasaan (emosi) dan perilaku.
  2. Easiness (kemudahan), involvedness (keterlibatan), clearness (kejelasan) dan specific techniques (teknik yang spesifik) serta metode metakognitif akan meningkatkan ketertarikan anak atau minat anak, sehingga dapat mencapai target intervensi.
  3. Insight dalam perubahan psikopatologi akan dicapai lebih cepat jika anak terlibat dalam keseluruhan aktivitas Metakognitif yang kemudian menciptakan self-awareness sebagai kendali.
  4. Tidak membutuhkan ketrampilan yang tinggi dari terapis, karena terapis hanya menjadi fasilitator anak untuk berkonsentrasi, pelatihan Metakognitif, dan pemulihan cognitive distortion melalui teknik yang sederhana dan dikenal oleh anak
  5. Manusia sebagai mahluk aktif dan responsif terhadap stimulus, sehingga dengan proses kognitifnya  mudah bereaksi secara aktif. Situasi ini akan membuat  kreativitas anak dalam berpikir.
  6. Biaya terapi yang murah, efektif, dan waktu yang singkat.

Melalui pelatihan Metakognitif dengan menggunakan buku cerita, anak akan mendapatkan ketrampilan untuk belajar di sekolah.  Kemudian terapis dapat memprediksi keberhasilan dari intervensi kepada anak kesulitan belajar dari usia 6 – 17 tahun (Arnaldi, 2011).

Referensi

Arnaldi, Melani. (2011). Cognitive process to parameter assessment learning disability of children. Procedia Social and Behavioral Science. 29, 170-178.

 Arnaldi, Melani. (2011). Effectivity method intervenes Melani’s metacognitive for learning disability of children in Indonesia. Procedia Social and Behavioural Sciences, 29,164-169.

Barkley, R.A. (1997). Behavioral Inhibition, Sustained Attention, and Executive Functions:Constructing a Unifying Theory of ADHD. Psychological Bulletin, 121(1), 65-94.

Fernandez-Duque, Diego.,  J.A. Baird, and M.I. Posner. (2000). Awareness and Metacognition. Consciousness and Cognition 9, 324–326 (2000)

Paternotte, A. & J. Buitelaar. (2010). ADHD (attention deficit hyperactivity disorder): gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas: tanda-tanda, diagnosis, terapi, serta penangannya di rumah dan di sekolah. (Julia maria van Tiel, Penerjemah). Jakarta: Prenada Media Group

Reynolds, WM, Miller, GE & Weiner, I.B. (2006). Hand book of psychology volume 7 Educational Psychology.Denver  : John Wiley & Sons

Smith, C & Strick , L. (1999). Learning disabilities A to Z. New York : A Fireside Book

Solanto, M.V., D.J. Marks, J. Wasserstein, K. Mitchell, H. Abikoff, J.Ma.J. Alvir, & M.D. Kofman. (2010). Efficacy of meta-cognitive therapy for adult ADHD. The American  Journal  of Psychiatry, 167, 958–968