TERAPI METAKOGNITIF UNTUK SISWA TINGKATAN SMA

Kasus kesulitan belajar di tingkatan SMA memiliki tantangan yang besar. Hal ini dikarenakan tidak hanya masalah intelegensi yang menjadi tantangan, namun juga materi pelajaran di sekolah formal Indonesia yang cukup berat dan banyak. Tercatat di sekolah formal berkurikulum nasional, siswa tingkat SMA minimal memiliki 12 mata pelajaran. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi ini membutuhkan pendekatan yang dapat mengatasi permasalahan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa serta tantangan kurikulum.

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengembangkan terapi metakognitif untuk anak kesulitan belajar yang dirancang oleh Melani Arnaldi dan dipublikasikan pada International Conference on Educational and Educational Psychology (ICEEPSY) pada tahun 2011 di Turki. Melani Arnaldi menjabarkan parameter proses kognitif yang dapat digunakan untuk mengukur dan intervensi anak kesulitan belajar. Paramater ini diterapkan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dalam proses terapi dan pelatihan bagi siswa kesulitan belajar.

Cognitive Process

Parameter Proses Kognitif Melani dalam mengukur dan intervensi untuk anak kesulitan belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada tingkatan SMA, siswa sudah harus mampu melakukan evaluasi dan kreativitas dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Tahapan ini adalah tahapan pada tingkatan mahir dimana siswa di tingkatan SMA akan dipersiapkan ke perguruan tinggi ataupun dunia kerja

Pada tahapan evaluasi, siswa dilatih dalam kemampuan melakukan penilaian dari sejumlah pemahaman yang telah diperoleh. Penilaian tidak hanya berkaitan dengan pengujian sejauh mana seseorang telah menguasai informasi agar lebih tepat memecahkan masalah. Dalam tahapan ini seseorang harus memiliki tidak hanya kemampuan dasar dalam berpikir tetapi juga strtagei dalam berpikir. Karena strategi berpikir akan membantu kecepatan seseorang di dalam melakukan evaluasi. Dalam hal ini pelatihan ditujukan untuk menghilangkan unsur subyektifitas sehingga memiliki obyektivitas dalam berpikir, karena kemampuan evaluasi merupakan proses pengujian kemampuan diri yang dapat dinilai juga oleh orang lain (Reynold, miller & weiner, 2009).

Bloom (Krathwol, 2001) membagi evaluasi dalam dua tahap, yaitu: Checking dan critique. Checking adalah kemampuan mendeteksi ketidakonsistenan atau fallacies di dalam proses atau produk, menentukan apa saja process atau product memiliki konsistensi internal. Mendeteksi keefektifan prosedur yan dapat diimplementasikan. Dengan mengkoordinasikan, mendeteksi, memonitoring dan testing. Critiquing berguna untuk mendeteksi ketidak konsistenan antara produk dan criteria eksternal, menentukan prosedur untuk memberikan sebuah problem.

Pada tahapan creativity atau kreativitas kreatifitas tidak hanya membutuhkan suatu kemampuan kognitif tetapi juga afektif. Kemampuan kognitif yang tinggi meliputi memori, berpikir kritis, berpikir deduktif, analogi dan inferensi. Kemampuan afektif yang tinggi meliputi perasaan nyaman untuk mengembangkan rasio, perasaan, intuisi dan sensing yang membutuhkan hubungan intimitas yang kondusif bersama orang disekelilingnya. Kemampuan afektif antara lain adalah Rasio, Perasaan, Intuisi dan Sensing. Kombinasi kognitif dan afektif sangat penting karena sifat dari kreatifitas itu sendiri, yaitu original, psikodelik dan iluminatif.

 

Merangkum SMA

Proses Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkat SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Taksonomi Bloom (Anderson & Krathwol, 2006) menggambarkan dengan jelas proses kreatifitas berpikir, yaitu Generating, Planning dan Producing. Generating adalah kemampuan untuk mengumpulkan sejumlah hipothesis, pengalaman dan pengetahuan yang relevan. Dengan mengumpulkan fakta, teori dan fakta nyata. Planning adalah kemampuan membuat perencanaan dan kerangka kombinasi dari sejumlah hipothesis diatas menjadi suatu rangkaian hubungan atau kombinasi atau alternatif baru. Producing adalah kemampuan membuat suatu keputusan dari sejumlah alternatif di atas yang telah diuji untuk menghasilkan suatu produk baru yang sesuai dengan kebutuhan situasional.

Merangkum SMA-2

Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkatan SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Berdasarkan uraian di atas, siswa tingkat SMA harus mampu melakukan evaluasi dan kreatifitas berpikir terhadap materi pelajaran yang diberikan. Mereka harus mampu melakukan checking dan critique materi pelajaran di tahapan evaluasi. Pada tahapan kreativitas berpikir mereka juga harus mampu melakukan generating, planning, dan producing dari materi pelajaran. Proses ini dilakukan siswa dengan merangkum materi pelajaran dan mempresentasikan di depan audiens. Hal ini selain melatih evaluasi dan kreativitas berpikir, juga melatih kepercayaan diri, verbal fluency, dan keterampilan berkomunikasi.

Presentasi SMA-1

Presentasi Siswa Tingkatan SMA pada Pelatihan dan Intervensi Metakognitif (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Pada akhirnya dengan menerapkan pelatihan metakognitif pada tahapan evaluasi dan kreativitas berpikir, siswa tingkatan SMA tidak hanya menuntaskan materi pelajaran atau bacaan dari buku teks. Namun mereka juga mampu mengaplikasikan materi pelajaran di kehidupan sehari-hari (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

SLOW LEARNER DAN PENANGANAN DI SEKOLAH FORMAL

Seminar Slow Learner

Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. sebagai pembicara tunggal di acara “Seminar Introduction to Learning Disability & Neuropsychology: Kupas Tuntas Slow Learner”, Sabtu, 19 Agustus 2017 (Klinik Psikonurologi Hang Lekiu)

Secara umum anak slow learner dapat diketahui dari pencapaian skow IQ berkisar 70-90.  Dimana anak dengan slow learner sering kali mengalami kegagalan dalam pencapaian akademisnya.  Mereka juga sering kalah bersaing dengan teman sebayanya.  Akibatnya anak slow learner dapat mengalami gangguan emosional dan perilaku.  Di sisi lain, anak slow learner tidak dapat dibedakan secara fisik dengan anak normal.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi.,Psi. dalam Seminar Introduction to  Learning Disability: Kupas Tuntas Slow Learner”, Sabtu, 19 Agutus 2017 di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Acara ini dihadiri oleh perwakilan guru dan psikolog dari sekolah dasar dan PKBM atau Homeschooling di Jakarta Selatan.  Perwakilan sekolah tersebut anatara lain SD Gemala Ananda, SD Islam Al Azhar 1 (Pusat), PKBM Kramat Pela, PKBM Pelita, PKBM Kalibata, dan Homeschooling Edukasi.

IMG20170819102055.jpg

Foto bersama peserta seminar dengan Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi.,M.Psi.,Psi., Sabtu, 19 Agustus 2017 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara tersebut disampaikan bahwa penyebab terjadinya slow learner karena adanya keterlambatan perkembangan sejak dalamkandungan, dimana biasanya hal ini terjadi karena genetik atau keturunan.  Lebih lanjut, slow learner akan menunjukkan gangguan dalam kelemahan daya tangkap indera dan lambatnya kecepatan proses informasi di otak.  Namun biasanya anak slow learner akan mengalami perbaikan saat usianya mencapai di atas 14 tahun.  Mereka akan mengalami pencapaian yang sama dengan anak normal lainnya pada usia tersebut.

Oleh karena itu dalam menghadapi anak slow learner, guru di sekolah sudah selayaknya memahami kondisi anak tersebut.  Proses remedial yang dilakukan di sekolah pun lebih berat dibandingkan anak lainnya.  Hal ini terjadi karena anak slow learner mengalami masalah dalam proses pemanggilan informasi (retrieval) dan recall memory.  Meskipun anak slow learner secara umum mampu mempertahankan konsentrasi dan tampak lebih tekun, namun kesulitan dalam hal pengolahan informasi.  Sehingga guru harus mampu menyederhanakan bahasa dan kosa kata yang digunakan kepada anak slow learner agar mereka mampu menangkap kata kunci dalam proses belajar menjadi lebih mudah.  Selain itu juga dalam pemberian tugas kepada anak slow learner diharapkan agar guru mempermudah mereka misalnya tugas yang diberikan lebih sedikit karena memang mereka mengalami masalah dalam pemerosesan informasi.

Berkaitan dengan kebijakan inklusi dan juga penerimaan siswa baru, Melani Arnaldi menyampaikan bahwa sering kali  sekolah kecolongan dengan menerima anak slow learner.  Hal ini terjadi karena proses seleksi yang tidak ketat.  Di sisi lain juga anak slow learner biasanya menampakkan kegagalan dalam akademis saat kelas 3 SD.  Oleh karena itu, sudah selayaknya sekolah dengan kebijakan inklusi memberikan standar yang berbeda dalam pencapaian KKM kepada anak slow learner dibandingkan anak normal.

IMG20170819093041.jpg

Pemutaran video pengenalan slow learner dan video kasus intervensi slow learner (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu). 

Dalam acara tersebut disajikan pula pemutaran video pengenalan slow learner dan deteksi dini gangguan kesulitan belajar oleh Agus Syarifudin, S.Si, asisten Riset di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Peserta antusias dalam sesi tanya jawab dalam kegiatan seminar ini yang dibawakan oleh Melani Arnaldi sebagai pemibicara tunggal.  Para guru menanyakan bagaimana deteksi dini, trik dan tips menanangani anak slow learner di kelas khususnya di sekolah dasar.  Dan juga bagaimana menghadapi orang tua agar dibantu proses belajar anak slow learner di rumah.     (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Seminar Kupas Tuntas Slow Learner

Publikasi 19 Agustus 2017--Iklan

Ikuti Seminar Kupas Tuntas Slow Learner

Ketahui lebih dalam tentang penyebab slow learner, ciri-ciri anak slow learner, dan bagaimana penanganannya di rumah dan sekolah.

Bermanfaat bagi orang tua dan guru di sekolah dasar yang menangani anak slow learner serta pencapaian akademis yang rendah serta cukup mengkhawatirkan.

Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut

Agus (0856-1785-391)  & Muhbikun (0822-1338-6726) [WA/SMS/TELP]

Deteksi Dini Anak Kebutuhan Khusus dan Kesulitan Belajar

Kasus kesulitan belajar di sekolah formal dapat mencapai 10% dari populasi siswa di sekolah formal.  Kasus tersebut belum termasuk anak kebutuhan khusus yang tidak tertangani dan masuk ke dalam sekolah inklusi ataupun sekolah luar biasa.

Anak kesulitan belajar seperti slow learner, ADHD, ADD, Dyslexia, Dyscalculia, PDD-NOS, dan Asperger sering kali tidak terdeksi sejak dini, khususnya di usia dini (di bawah lima tahun).  Hal tersebut berdampak pada terlambatnya penanganan atau intervensinya. Sering kali anak kesulitan belajar baru diketahui serta diterapi pada usia sekolah dasar.  Jika diketahui sejak usia dini maka perbaikan yang terjadi akan dibantu dengan pertumbuhan dan perkembangan anak secara alamiah yang pesat pada usia dini.

Oleh sebab itu deteksi dini anak kebutuhan khusus dan kesulitan belajar sangat penting.  Hal ini juga seharusnya menjadi prioritas bagi orang tua, guru PAUD, dan TK sebelum anak memasuki usia sekolah dasar. Jika guru dan orang tua merasa bahwa si anak memiliki perbedaan dalam fungsi kognitif, afektif, dan perilaku yang berbeda dibandingkan dengan teman sebaya pada umumnya, maka patut diduga adanya permasalahan kesulitan belajar ataupun kebutuhan khusus.

Ciri-ciri yang menjadi pertanda perlu atau tidaknya diperiksakan dapat terlihat antara lain:

  • Adanya permasalahan pada makan atau tidur anak
  • Menolak untuk pergi kepada siapa pun kecuali orang tua atau pengasuhnya
  • Tidak merasa nyaman saat berpakaian
  • Jarang bermain dengan mainan
  • Menolak atau melawan saat diminta berpelukan
  • Tidak bisa menenangkan diri
  • Badannya lemah, mudah sakit, alergi, kaku, atau ada keterlambatan motorik
  • Tidak ada kontak mata
  • Tidak mengucapkan kalimat dengan benar
  • Tidak mampu berkomunikasi dua arah
  • Hanya memiliki kosa kata di bawah 50 kata

Jika anak dirasakan memiliki hambatan seperti di atas, maka seharusnya orang tua, guru PAUD dan TK, atau pun pihak seleksi penerimaan siswa baru sekolah dasar segera merujuk anak terkait kepada ahli yaitu psikolog anak dan psikolog pendidikan yang menangani anak kesulitan belajar ataupun anak berkebutuhan khusus.

Di sisi lain, seleksi masuk sekolah dasar adalah hal yang genting atau krusial dalam menentukan masa depan anak.  Hal ini menjadi penting karena anak yang diduga mengalami kesulitan belajar ataupun berkebutuhan khusus tersebut jika telah dideteksi sejak dini kepada ahli, maka dapat segera diintervensi atau ditindaklanjuti.  Tentu hal ini akan sangat membantu tumbuh kembangnya menjadi lebih optimal dan pencapaian akademisnya pun menjadi lebih baik.

Terkait permasalahan di atas, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan pelayanan “Deteksi Dini Anak Kesulitan Belajar dan Anak Berkebutuhan Khusus.”  Pelayanan ini ditujukan sebaiknya pada anak usia dini dan anak usia sekolah dasar.  Pelayanan yang diberikan berupa pengukuran fungsi psikologis melalui test kesulitan belajar dan fungsi neurobiologis dengan electroencephalography (EEG).

IMG_20170313_160727_908.jpg

Gambar di atas menunjukkan test fungsi psikologis (kognitif) atau test kesulitan belajar pada anak usia dini.  Test ini akan menunjukkan bagaimana fungsi psikologis anak terkait dengan proses belajar dan mengajar.  Pada test fungsi kognitif akan melihat potensi kecerdasan, kemampuan attention, konsentrasi, memory jangka panjang dan jangka pendek, analisa, sintesa, evaluasi, fleksibilitas berpikir, kreativitas berpikir, fleksibilitas berpikir, kreativitas berpikir, Verbal Fluency, Self Awareness, Self Concept, Self Regulation, dan lain-lain. Anak kesulitan belajar ataupun anak berkebutuhan khusus, biasanya terdeksi mengalami masalah dari fungsi-fungsi tersebut.

 

P_20170223_171320.jpg

Tes fungsi kognitif ini kemudian di konfirmasi dengan hasil EEG untuk melihat fungsi neurobiologis dari otak, misalnya kadar neurotransmiter dan aktivitas dari lobus-lobus di otak saat proses belajar dan mengajar dilakukan.  Gambar di atas adalah bagaimana proses pengukuran EEG dilakukan pada anak.

EEG Anak Normal vs Anak Kesubel Gambar di atas adalah hasil pengukuran EEG perbandingan antara anak kesulitan belajar dengan anak normal.  Terlihat anak kesulitan belajar mengalami masalah di neurokimia dan neurobiologisnya.  Warna aktivitas otak kearah biru menandakan fungsinya semakin baik, jika warnanya merah menandakan adanya masalah dari fungsi neurobiologisnya.

hasil eeg emotive Gambar di atas adalah hasil pengukuran EEG untuk mengetahui keseimbangan antara perasaan dan pikiran anak saat belajar.  Pengukuran ini dapat melihat sejauh mana kemampuan inhibition pada executive function pada anak.  Anak kesulitan belajar dan anak berkebutuhan khusus terbukti mengalami masalah di executive function, khususnya masalah inhibition.

Diharapkan dengan pengukuran dari fungsi kognitif dan dikonfirmasi dari fungsi neurobiologis akan mampu memberikan diaognosa yang kuat terhadap gangguan yang dialami.  Hal ini menjadi penting terhadap penentuan jenis dan frekuensi intervensi yang akan dilakukan seperti terapi wicara, sensori integrasi, atau metakognitif.  Selain itu, hal tersebut dapat memberikan informasi kepada orang tua bagaimana pola asuh, dukungan keluarga atau lingkungan kepada anak, ataupun strategi belajar yang dapat diterapkan di rumah.

*****

Informasi dan pendaftaran “Deteksi Dini Anak Kesulitan Belajar dan Kebutuhan Khusus” dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391).

Dyscalculia Facts

Public Campaiagn Dyscalucia5.jpg

“Number Sense” pada dasarnya mengacu kepada “fluiditas dan fleksibilitas dengan angka,” dari seorang siswa (Gersten & Chard, 2001). Dia  memiliki cita rasa apa artinya angka-angka, memahami hubungan antara angka yang satu dengan yang lain, mampu melakukan mental matematika, memahami representasi simbolik, dan dapat menggunakan angka-angka dalam berbagai situasi.  Ketahui lebih dalam kaitan “Number Sense” dengan Dyscalculia dalam seminar  Seminar “Introduction to Learning Disabilities & Neuropsychology

.

.

Seminar “Introduction to Learning Disabilities & Neuropsychology” ||Dyscalculia ||Sabtu, 25 Februari 2017|| Pembicara: Melani Arnaldi, M.Psi., Psi (Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, Ahli Neuropsikologi Anak dan Pendidikan) || Cp. Agus (08561785391)

.

.

.

#dyscalculia #kesulitanbelajarmatematika #kesulitanbelajar #learningdisabilities #psikologi #psychology #childpsychology #psikologianak #neuropsychology #neurology #neurobiology #seminar #orangtua #parent #mahasiswa #KlinikPsikoneurologiHangLekiu

 

Dyscalculia Facts

public-campaiagn-dyscalucia4

Bagian otak terkait dengan perhitungan atau aritmatika yaitu Angular Gyrus hemipshere kiri, Intraparietal sulcus hemisphere kiri, dan Intraparietal sulcus hemisphere kanan. Kenali lebih jauh bagian-bagian tersebut dan fungsinya dalam intervensi kesulitan belajar Matematika (Dyscalculia).

Seminar “Introduction to Learning Disaabilities & Neuropsychology ||Dyscalculia ||Sabtu, 25 Februari 2017|| Pembicara: Melani Arnaldi, M.Psi., Psi (Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, Ahli Neuropsikologi Anak dan Pendidikan) || Cp. Agus (08561785391)

#dyscalculia #kesulitanbelajarmatematika #kesulitanbelajar
#learningdisabilities #psikologi #psychology #childpsychology #psikologianak #neuropsychology #neurology #neurobiology #seminar #orangtua #parent #mahasiswa #KlinikPsikoneurologiHangLekiu

Dyscalculia Facts

public-campaiagn-dyscalucia3

Dyscalculia problems are difficulties in understanding concepts of Measure, Number, Calculation, Counting, Memory, Spatial/Temporal.

Seminar “Introduction to Learning Disaabilities & Neuropsychology ||Sabtu, 25 Februari 2017|| Pembicara: Melani Arnaldi, M.Psi., Psi (Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, Ahli Neuropsikologi Anak dan Pendidikan) || Cp. Agus (08561785391)
.
#dyscalculia #kesulitanbelajarmatematika #kesulitanbelajar #learningdisabilities #psikologi #psychology #childpsychology #psikologianak #neuropsychology #neurology #neurobiology #seminar #orangtua #parent #mahasiswa #KlinikPsikoneurologiHangLekiu