TELAH DIBUKA! SEKOLAH INKLUSI KLINIK PSIKONEUROLOGI HANG LEKIU

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu bekerja sama dengan PKBM Metakognisi (Homeschooling Metakognisi) menyediakan pendidikan untuk anak inklusi untuk tingkatan SMP dan SMA. Pendidikan inklusi ini ditujukan untuk memberikan keterampilan hidup bagi anak berkebutuhan khusus seperti border line intellectual, autism, dyslexia, ADHD, slow learner, dan lain-lainnya.

Anak berkebutuhan khusus berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang dapat mengakomodir hambatan yang dimiliki.  Selain itu, mereka juga perlu pembekalan agar mampu bersaing di dunia kerja dan masyarakat.  Oleh karena itu, pelayanan inklusi yang diberikan, haruslah mampu memberikan keterampilan hidup dimana mereka mampu bersaing.

Pelayanan inklusi yang diberikan pada tingkatan SD dipersiapkan untuk kemampuan dasar. Pelajaran yang diberikan setara dengan sekolah dasar di pendidikan formal.  Pendidikan memfokuskan kepada kemampuan dasar yang disertai dengan terapi sesuai dengan permasalahan yang dialami seperti terapi sensori integrasi, fisioterapi elektro akupuntur, terapi metakognitif, terapi neurofeedback dan lainnya.

Fasilitas Pembelajaran-2.PNG

Kelas untuk siswa Paket A atau setara dengan SD. Kelas dalam jumlah kecil, yaitu 4 orang sehingga pembelajaran lebih optimal (Klinik Psikonuerologi Hang Lekiu)

 

Piala

PKBM Metakognisi (Homeschooling Metakognisi) memperoleh pernghargaan setiap tahunnya dalam lomba dari Dinas Pendidikan Jakarta Selatan (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Untuk tingkatan SMP dan SMA di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu adalah mempersiapkan peserta didik untuk terjun di masyarakat.  Persaingan global dan tuntutan dunia milenial sangatlah ketat dalam kemajuan ilmu dan teknologi.  Keterampilan hidup yang diberikan berupa program pelayanan Bahasa Inggris, computer, dan Keterampilan komunikasi dalam presentasi.

Peserta didik inklusi akan dibekali keterampilan berbahasa inggris dengan pelatihan TOEFL.  Mereka akan dilatih untuk meningkatkan kemampuan pengerjaan soal-soal TOEFL secara bertahap.  Mereka dibimbing untuk mampu berkomunikasi Bahasa Inggris baik secara tulisan dari soal-soal TOEFL yang diberikan.  Pelayanan ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan pengerjaan soal dan pencapaian nilai TOEFL yang membaik.

Bahasa Inggris

Pembelajaraan Bahasa Inggris dan persiapan TOEFL dengan CD Interaktif (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pelayanan berikutnya yaitu dengan keterampilan Komputer.  Peserta didik akan dilatih untuk menguasai MS OFFICE baik untuk membuat dokumen, dan presentasi.  Mereka akan dilatih untuk menggunakan komputer dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran.    Pengkondisian ini dilakukan untuk melatih siswa agar mampu menyesuaikan diri dengan teknologi yang umum digunakan saat ini.

Fasilitas presentasi

Fasilitas komputer dan presentasi siswa inklusi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Fasilitas Pembelajaran

Ruang kelas untuk pembelajaran materi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pelayanan berikutnya yaitu komunikasi dan presentasi.  Siswa akan dilatih untuk mampu membuat presentasi serta menampilkannya di depan audien.  Siswa akan dilatih bagaimana membuat konsep presentasi yang baik.  Selain itu, siswa akan dilatih juga dalam melakukan presentasi yang baik di depan audiens yaitu tutor dan teman-temannya.  Hal ini akan melatih kepercayaan diri siswa, fleksibilitas berpikir, dan kelancaran dalam berkomunikasi (verbal fluency).

Presentasi

Presentasi yang dilakukan setelah pembelajaran (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Diharapkan melalui pelatihan ini, maka siswa berkebutuhan khusus akan mampu bersaing di masyarakat.  Pelatihan ini merupakan strategi dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan hidup dari siswa berkebutuhan khusus dalam memenuhi tuntutan dari lingkungan atau masyarakat.  Untuk informasi dan pendaftaran kelas inklusi di Klinik Psikoneuorlogi Hang Lekiu  dapat menghubungi sdr. Muhbikun 082213386726 (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

TERAPI METAKOGNITIF UNTUK SISWA TINGKATAN SMA

Kasus kesulitan belajar di tingkatan SMA memiliki tantangan yang besar. Hal ini dikarenakan tidak hanya masalah intelegensi yang menjadi tantangan, namun juga materi pelajaran di sekolah formal Indonesia yang cukup berat dan banyak. Tercatat di sekolah formal berkurikulum nasional, siswa tingkat SMA minimal memiliki 12 mata pelajaran. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi ini membutuhkan pendekatan yang dapat mengatasi permasalahan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa serta tantangan kurikulum.

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengembangkan terapi metakognitif untuk anak kesulitan belajar yang dirancang oleh Melani Arnaldi dan dipublikasikan pada International Conference on Educational and Educational Psychology (ICEEPSY) pada tahun 2011 di Turki. Melani Arnaldi menjabarkan parameter proses kognitif yang dapat digunakan untuk mengukur dan intervensi anak kesulitan belajar. Paramater ini diterapkan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dalam proses terapi dan pelatihan bagi siswa kesulitan belajar.

Cognitive Process

Parameter Proses Kognitif Melani dalam mengukur dan intervensi untuk anak kesulitan belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada tingkatan SMA, siswa sudah harus mampu melakukan evaluasi dan kreativitas dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Tahapan ini adalah tahapan pada tingkatan mahir dimana siswa di tingkatan SMA akan dipersiapkan ke perguruan tinggi ataupun dunia kerja

Pada tahapan evaluasi, siswa dilatih dalam kemampuan melakukan penilaian dari sejumlah pemahaman yang telah diperoleh. Penilaian tidak hanya berkaitan dengan pengujian sejauh mana seseorang telah menguasai informasi agar lebih tepat memecahkan masalah. Dalam tahapan ini seseorang harus memiliki tidak hanya kemampuan dasar dalam berpikir tetapi juga strtagei dalam berpikir. Karena strategi berpikir akan membantu kecepatan seseorang di dalam melakukan evaluasi. Dalam hal ini pelatihan ditujukan untuk menghilangkan unsur subyektifitas sehingga memiliki obyektivitas dalam berpikir, karena kemampuan evaluasi merupakan proses pengujian kemampuan diri yang dapat dinilai juga oleh orang lain (Reynold, miller & weiner, 2009).

Bloom (Krathwol, 2001) membagi evaluasi dalam dua tahap, yaitu: Checking dan critique. Checking adalah kemampuan mendeteksi ketidakonsistenan atau fallacies di dalam proses atau produk, menentukan apa saja process atau product memiliki konsistensi internal. Mendeteksi keefektifan prosedur yan dapat diimplementasikan. Dengan mengkoordinasikan, mendeteksi, memonitoring dan testing. Critiquing berguna untuk mendeteksi ketidak konsistenan antara produk dan criteria eksternal, menentukan prosedur untuk memberikan sebuah problem.

Pada tahapan creativity atau kreativitas kreatifitas tidak hanya membutuhkan suatu kemampuan kognitif tetapi juga afektif. Kemampuan kognitif yang tinggi meliputi memori, berpikir kritis, berpikir deduktif, analogi dan inferensi. Kemampuan afektif yang tinggi meliputi perasaan nyaman untuk mengembangkan rasio, perasaan, intuisi dan sensing yang membutuhkan hubungan intimitas yang kondusif bersama orang disekelilingnya. Kemampuan afektif antara lain adalah Rasio, Perasaan, Intuisi dan Sensing. Kombinasi kognitif dan afektif sangat penting karena sifat dari kreatifitas itu sendiri, yaitu original, psikodelik dan iluminatif.

 

Merangkum SMA

Proses Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkat SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Taksonomi Bloom (Anderson & Krathwol, 2006) menggambarkan dengan jelas proses kreatifitas berpikir, yaitu Generating, Planning dan Producing. Generating adalah kemampuan untuk mengumpulkan sejumlah hipothesis, pengalaman dan pengetahuan yang relevan. Dengan mengumpulkan fakta, teori dan fakta nyata. Planning adalah kemampuan membuat perencanaan dan kerangka kombinasi dari sejumlah hipothesis diatas menjadi suatu rangkaian hubungan atau kombinasi atau alternatif baru. Producing adalah kemampuan membuat suatu keputusan dari sejumlah alternatif di atas yang telah diuji untuk menghasilkan suatu produk baru yang sesuai dengan kebutuhan situasional.

Merangkum SMA-2

Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkatan SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Berdasarkan uraian di atas, siswa tingkat SMA harus mampu melakukan evaluasi dan kreatifitas berpikir terhadap materi pelajaran yang diberikan. Mereka harus mampu melakukan checking dan critique materi pelajaran di tahapan evaluasi. Pada tahapan kreativitas berpikir mereka juga harus mampu melakukan generating, planning, dan producing dari materi pelajaran. Proses ini dilakukan siswa dengan merangkum materi pelajaran dan mempresentasikan di depan audiens. Hal ini selain melatih evaluasi dan kreativitas berpikir, juga melatih kepercayaan diri, verbal fluency, dan keterampilan berkomunikasi.

Presentasi SMA-1

Presentasi Siswa Tingkatan SMA pada Pelatihan dan Intervensi Metakognitif (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Pada akhirnya dengan menerapkan pelatihan metakognitif pada tahapan evaluasi dan kreativitas berpikir, siswa tingkatan SMA tidak hanya menuntaskan materi pelajaran atau bacaan dari buku teks. Namun mereka juga mampu mengaplikasikan materi pelajaran di kehidupan sehari-hari (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

Pelatihan dan Program Magang Kasus Kesulitan Belajar

Publikasi Paket Training

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan program training dan magang untuk kasus kesulitan belajar di awal tahun 2018.  Program ini diluncurkan bertujuan untuk memperluas wacana kesulitan belajar dan intervensinya di Indonesia.  Hal ini dilatarbelakangi dengan semakin meningkatnya kasus kesulitan belajar yang terjadi di sekolah formal.  Fenomena ini tidak diiringi dengan jumlah pusat terapi dan sumber daya manusia terapis yang terlatih untuk menangani kasus kesulitan belajar di Indonesia.

Penanganan anak kesulitan belajar berbeda dengan anak berkebutuhan khusus sehingga memerlukan pendekatan yang spesifik karena mereka masih mampu bersekolah di sekolah formal.  Sering kali pendekatan remedial yang dilakukan oleh guru di sekolah mengalami kegagalan karena adanya masalah psikologis yang sifatnya klinis. Sehingga anak dengan kesulitan belajar harus ditangani oleh ahli yaitu psikolog pendidikan atau anak agar permasalahan klinisnya terselesaikan terlebih dahulu baru mereka dapat belajar seperti siswa lainnya.  Jika permasalahan klinis ini selesai, maka siswa dapat kembali ditangani oleh guru dengan program remedial yang dilakukan di sekolah.

Berdasarkan uraian di atas, anak kesulitan belajar bukanlah anak berkebutuhan khusus karena tidak memiliki kecatatan atau disfungsi secara fisik dan mental.  Namun mereka mengalami permasalahan yang serius dalam hal akademis dan masih dapat terperbaiki.  Hal ini terbukti siswa yang mengalami kesulitan belajar mampu berpretasi hingga tingkat universitas ternama jika diintervensi dengan tepat sejak dini.

Hal ini adalah menjadi unik karena anak kesulitan belajar sering kali juga mengalami komorbiditas atau terjadinya dua gangguan atau lebih pada satu individu. Adapun kasus kesulitan belajar yang terjadi pada anak dari tingkatan PAUD hingga Sekolah Dasar adalah:

  1. Slow Learner
  2. ADHD (Attention Deficit / Hyperactivity Disorder)
  3. ADD (Attention Deficit Disorder)
  4. Dyscalculia
  5. Keterlambatan Bicara (Specific Language Impairment & Speech Delay)
  6. Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar
  7. Depresi Pada Anak dan Remaja
  8. Sensori Integrasi dan Sensory Processing Disorder
  9. Dyslexia

 

Guru, psikolog, konselor, terapis, orang tua, dan pemerhati pendidikan memiliki peranan penting dalam mendeteksi serta memberikan intervensi terhadap permasalahan kesulitan belajar yang dialami oleh anak.  Di sisi lain, mahasiswa program psikologi ataupun keguruan sebagai calon ujung tombak pendidikan di masa depan juga perlu memperluas pengalaman kesulitan belajar sebelum terjun di lapangan.  Kepekaan deteksi dini dan bagaimana intervensinya atas kasus kesulitan belajar dari stake holder pendidikan formal tersebut akan sangat membantu anak sehingga pencapaian akademisnya menjadi optimal.  Sehingga program pelatihan dan magang ini menjadi penting bagi lembaga ataupun individu yang berhadapan dengan kasus kesulitan belajar.

Program pelatihan ini dilakukan oleh Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, yang telah teruji dengan menangani kasus kesulitan belajar hamper 10 tahun dengan lebih dari 1000 kasus individual. Keberhasilan penanganan kasus kesulitan belajar inilah yang akan dibagikan kepada peserta pelatihan. Peserta dapat mengasah keterampilan deteksi dini dan intervensi kesulitan belajar dari berbagai kasus dengan keunikan yang berbeda-beda.

Program pelatihan dan magang ini dirancang dilakukan selama 12 minggu atau 3 bulan.  Adapun materi yang diberikan adalah

  1. Pengenalan & Pendalaman Teori
  2. Video Kasus, Bedah Kasus (Blind Cases)
  3. Pelatihan untuk observasi dan Intervensi
  4. Cara Analisa Test Psikologi

 

Diharapkan dengan waktu yang relatif panjang ini, peserta lebih dapat memahami dan mempraktekkan keterampilan deteksi dini serta intervensi kesulitan belajar selama program ini berlangsung. Pelatihan juga dilakukan secara dalam kelas kecil sehingga lebih diskusi yang dilakukan dengan pemateri dan kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. dapat lebih optimal.  Untuk informasi dan pendaftaran dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Test Kesiapan Belajar, Deteksi Dini Gangguan Sensori dan Kesulitan Belajar Pada Tingkatan PAUD dan TK

kesiapan belajar

Apakah anak siap untuk bersekolah atau memang masih harus dipersiapkan pada fase sosialisasi di PAUD dan TK? (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Lanjut ke tingkatan lebih tinggi atau tetap di PAUD atau TK?

Ini adalah pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh orang tua ataupun guru TK dan PAUD bagi siswa yang mengalami masalah dalam fase sosialisasi di tingkatan tersebut.  Dimana siswa mengalami hambatan dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas sehingga dipertanyakan kesiapannya untuk lanjut pada tingkatan di atasnya. Tentu saja perlu kearifan dalam menentukan kelanjutan sekolah siswa dengan disertai informasi dari ahli terkait kondisi terkini dan hambatan yang dialami.

Masa Sosialisasi pada PAUD dan TK

Play

Fase sosialisasi dilakukan pada tingkatan PAUD dan TK dan butuh kesiapan belajar untuk memasuki tingkatan sekolah dasar atau fase bersekolah dari anak (Klinik Anak Kesulitan Belajar)

 

Usia 3—6 tahun adalah masa konkret operasional dan waktunya untuk belajar sosialiasisasi di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan    Taman Kanak  Kanak (TK).  Namun seiring usia mereka seharusnya lanjut ke sekolah dasar untuk melanjutkan fase bersekolah.

Di sisi lain, beberapa siswa dapat mengalami hambatan yaitu gangguan sensori (sensory processing disorder /SPD atau sensory integration disorder) dan kesulitan belajar.  Hal ini terjadi  di mana siswa mengalami masalah dalam penerimaan,   pengolahan,   dan   respon   terhadap sensori yang diterima sehingga mereka mengalami masalah    dalam kegiatan belajar mengajar di PAUD dan TK.

Prevalensi SPD pada anak usia taman kanak-kanak cukup tinggi. Berdasarkan penelitian Ahn, Miller, Milberger, dan McIntosh (2004)  dari data persepsi  orang tua dengan anak usia taman kanak-kanak saat penerimaan siswa baru, anak yang mengalami SPD dapat mencapai 5,3%.

Sensory Processing Disorder (SPD) dan Kesulitan Belajar?

Gangguan sensori (SPD) dapat terjadi pada beberapa atau keseluruhan dari sistem indrawi    termasuk sentuhan/peraba, pendengaran, penglihatan, perasa, penciuman,  motorik tubuh (proprioceptive),  dan keseimbangan. Ganguan sensori ini dapat  berdampak negatif   kepada perkembangan dan kemampuan fungsi dari perilaku, emosi,   motorik, dan   kognitif   atau berpikir.

SPD

Gangguan Sensory Processing Disorder (SPD) atau Sensory Integration Disorder (SID) yang berkaitan dengan masalah lainnya, salah satunya adalah kesulitan belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Gangguan atau masalah  SPD merupakan hulu dari berbagai gangguan bahkan       kesulitan belajar di usia bersekolah seperti austime, ADHD, Slow learner, Keterlambatan Bicara, Disleksia, Diskalkulia.

Deteksi Dini SPD dan Kesulitan Belajar

Usia anak pada tingkatan PAUD dan TK adalah kunci dalam deteksi dini  terhadap hambatan yang dialami sebelum    mereka masuk usia bersekolah atau sekolah dasar (SD).

Pada usia ini, anak sedang mengalami  pertumbuhan yang pesat atau golden age sehingga jika dideteksi mengalami hambatan lalu segera diintervensi kepada ahli seperti psikolog atau dokter anak, maka perbaikan yang terjadi   menjadi optimum.

Oleh karena itu, guru dan manajemen dari PAUD dan TK sudah selayaknya peka terhadap gangguan atau masalah SPD dan Kesulitan belajar yang berpotensi dialami siswa didik.

Permasalahan kesiapan belajar tidak hanya kemampuan baca, tulis, dan berhitung, tapi bagaimana sensori bekerja optimal sehingga fungsi berpikir (kognitif), emosi, dan    perilaku siswa siap untuk belajar di tingkat lebih tinggi. Solusi dari penanganan masalah ini adalah melalui deteksi dini dan pengetesan kesiapan belajar siswa yang           mencakup kepekaan terhadap SPD.

Ciri Anak dengan Hambatan Sensori (SPD)  Pada Tingkatan PAUD dan TK

  1. Tidak melakukan kontak mata
  2. Over-sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, orang lain
  3. Kesulitan dalam berteman
  4. Kesulitan berganti pakaian, makan, tidur, dan / atau pelatihan toilet
  5. Ceroboh; keterampilan motorik yang buruk; lemah
  6. Sering marah atau marahnya berkepanjangan
  7. Sulit mengikuti aturan di kelas atau arahan dari guru
  8. Tidak bisa menenangkan diri
  9. Tidak mengucapkan kalimat dengan benar
  10. Tidak komunikasi dua arah
  11. Kosa kata yang kurang dari 50 kata

Pelayanan Test Kesiapan Belajar Siswa PAUD & TK

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan layanan Pengetesan Kesiapan Belajar dengan kepekaan SPD.     Informasi hasil tes dapat merujuk orang tua untuk melakukan intervensi kepada ahli dan bagi guru dapat  dijadikan dasar pengelolaan siswa di kelas pada tahun  ajaran yang berlangsung.

Tahapan Test yang dilakukan yaitu:

  1. Test fungsi psikologis (psikotest)
  2. Test neurobrain (EEG)
  3. Konseling hasil test

Test dapat dilakukan secara perseorangan (individual) atau klasikal yang diselenggarakan oleh pihak sekolah TK dan PAUD.

Untuk tingkatan TK dan PAUD di wilayah JABODETABEK Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan promo biaya test, yaitu biaya test tersebut diserahkan kepada kebijakan pihak sekolah dan ketersediaan budget yang tersedia untuk penerimaan siswa baru atau yang lanjut ke sekolah dasar pada tahun ajaran baru, 2018/2019.

Kontak person

Agus (08561785391 wa/sms)

Muhbikun (082213386726 wa/sms)

Yakub (081908877279 wa/sms)

SLOW LEARNER DAN PENANGANAN DI SEKOLAH FORMAL

Seminar Slow Learner

Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. sebagai pembicara tunggal di acara “Seminar Introduction to Learning Disability & Neuropsychology: Kupas Tuntas Slow Learner”, Sabtu, 19 Agustus 2017 (Klinik Psikonurologi Hang Lekiu)

Secara umum anak slow learner dapat diketahui dari pencapaian skow IQ berkisar 70-90.  Dimana anak dengan slow learner sering kali mengalami kegagalan dalam pencapaian akademisnya.  Mereka juga sering kalah bersaing dengan teman sebayanya.  Akibatnya anak slow learner dapat mengalami gangguan emosional dan perilaku.  Di sisi lain, anak slow learner tidak dapat dibedakan secara fisik dengan anak normal.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi.,Psi. dalam Seminar Introduction to  Learning Disability: Kupas Tuntas Slow Learner”, Sabtu, 19 Agutus 2017 di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Acara ini dihadiri oleh perwakilan guru dan psikolog dari sekolah dasar dan PKBM atau Homeschooling di Jakarta Selatan.  Perwakilan sekolah tersebut anatara lain SD Gemala Ananda, SD Islam Al Azhar 1 (Pusat), PKBM Kramat Pela, PKBM Pelita, PKBM Kalibata, dan Homeschooling Edukasi.

IMG20170819102055.jpg

Foto bersama peserta seminar dengan Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi.,M.Psi.,Psi., Sabtu, 19 Agustus 2017 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara tersebut disampaikan bahwa penyebab terjadinya slow learner karena adanya keterlambatan perkembangan sejak dalamkandungan, dimana biasanya hal ini terjadi karena genetik atau keturunan.  Lebih lanjut, slow learner akan menunjukkan gangguan dalam kelemahan daya tangkap indera dan lambatnya kecepatan proses informasi di otak.  Namun biasanya anak slow learner akan mengalami perbaikan saat usianya mencapai di atas 14 tahun.  Mereka akan mengalami pencapaian yang sama dengan anak normal lainnya pada usia tersebut.

Oleh karena itu dalam menghadapi anak slow learner, guru di sekolah sudah selayaknya memahami kondisi anak tersebut.  Proses remedial yang dilakukan di sekolah pun lebih berat dibandingkan anak lainnya.  Hal ini terjadi karena anak slow learner mengalami masalah dalam proses pemanggilan informasi (retrieval) dan recall memory.  Meskipun anak slow learner secara umum mampu mempertahankan konsentrasi dan tampak lebih tekun, namun kesulitan dalam hal pengolahan informasi.  Sehingga guru harus mampu menyederhanakan bahasa dan kosa kata yang digunakan kepada anak slow learner agar mereka mampu menangkap kata kunci dalam proses belajar menjadi lebih mudah.  Selain itu juga dalam pemberian tugas kepada anak slow learner diharapkan agar guru mempermudah mereka misalnya tugas yang diberikan lebih sedikit karena memang mereka mengalami masalah dalam pemerosesan informasi.

Berkaitan dengan kebijakan inklusi dan juga penerimaan siswa baru, Melani Arnaldi menyampaikan bahwa sering kali  sekolah kecolongan dengan menerima anak slow learner.  Hal ini terjadi karena proses seleksi yang tidak ketat.  Di sisi lain juga anak slow learner biasanya menampakkan kegagalan dalam akademis saat kelas 3 SD.  Oleh karena itu, sudah selayaknya sekolah dengan kebijakan inklusi memberikan standar yang berbeda dalam pencapaian KKM kepada anak slow learner dibandingkan anak normal.

IMG20170819093041.jpg

Pemutaran video pengenalan slow learner dan video kasus intervensi slow learner (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu). 

Dalam acara tersebut disajikan pula pemutaran video pengenalan slow learner dan deteksi dini gangguan kesulitan belajar oleh Agus Syarifudin, S.Si, asisten Riset di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Peserta antusias dalam sesi tanya jawab dalam kegiatan seminar ini yang dibawakan oleh Melani Arnaldi sebagai pemibicara tunggal.  Para guru menanyakan bagaimana deteksi dini, trik dan tips menanangani anak slow learner di kelas khususnya di sekolah dasar.  Dan juga bagaimana menghadapi orang tua agar dibantu proses belajar anak slow learner di rumah.     (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Seminar Kupas Tuntas Slow Learner

Publikasi 19 Agustus 2017--Iklan

Ikuti Seminar Kupas Tuntas Slow Learner

Ketahui lebih dalam tentang penyebab slow learner, ciri-ciri anak slow learner, dan bagaimana penanganannya di rumah dan sekolah.

Bermanfaat bagi orang tua dan guru di sekolah dasar yang menangani anak slow learner serta pencapaian akademis yang rendah serta cukup mengkhawatirkan.

Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut

Agus (0856-1785-391)  & Muhbikun (0822-1338-6726) [WA/SMS/TELP]

Gangguan Bicara dan Berbahasa pada Anak Keterlambatan Bicara

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu telah mengadakan seminar Speech Delay atau Keterlambatan Bicara dalam rangkaian “Seminar Introduction to Learning Disability and Neurpscyhology “ pada Sabtu, 12 Februari 2017.

 

Acara tersebut di hadiri oleh Guru PAUD, TK, SD, dan mahasiswa Fakultas Psikologi dari UIN Syarif Hdayatullah Jakarta.   Acara ini cukup mendapat respon yang positif dari peserta.  Mereka cukup antusias mengikuti penjelasan dari Dr. (candt). Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. sebagai pembicara utama di seminar tersebut.

WhatsApp Image 2017-05-28 at 08.37.19

Foto bersama Dr. (candt). Melani Arnaldi, M.Psi., Psi bersama peserta seminar “Speech Delay (Keterlambatan Bicara) di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara ini dijelaskan bahwa keterlambatan bicara adalah salah satu deteksi dari gangguan tumbuh kembang pada anak dimana dapat bermuara kepada berbagai jenis gangguan pada anak.  Keterlambagan bicara pada anak usia dini dapat merujuk kepada gangguan ADHD, Slow learner, Autisme, Gangguan Pendengaran atau tuna rungu, dan lain-lain. Oleh karena itu deteksi dini anak yang mengalami keterlambatan bicara atau speech delay menjadi penting bagi guru PAUD, TK, ataupun orang tua agar dapat diantisipasi dengan merujuk kepada ahli sejak dini.

 

Dijelaskan oleh Dr. (candt). Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., keterlambatan bicara adalah hambatan bicara yang terjadi akibat adanya gangguan pada kemampuan bicara. Kemampuan bicara tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengeluarkan suara tetapi juga berkaitan dengan kemampuan dalam memahami isi pembicaraan.

WhatsApp Image 2017-05-28 at 08.37.19 (1)

Peserta seminar Speech Delay (Keterlambatan Bicara) antusia dalam sesi testimoni dan berbagi pengalaman menghadapi anak keterlambatan bicara (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Secara umum, keterlambatan bicara terdiri atas dua gangguan yaitu gangguan berbicara dan gangguan berbahasa.  Oleh karena itu guru PAUD, TK ataupun SD pada kelas bawah harus peka terhadap permasalahan ini.  Ciri dari gangguan tersebut dapat dijelaskan di bawah ini.

Neuropsikologi Berbahasa

Neuropsikologi dalam berbahasa dan aktivitas lobus di otak terkait dengan aktivitas bicara dan berbahasa (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada gangguan berbicara ditandai dengan:

  1. Pengucapan kata yang salah dan tidak sesuai dengan perkembangan usia
  2. Menunjukkan adanya ketidaklancaran dalam berbahasa
  3. Memiliki kualitas suara yang buruk
  4. Berbicara dengan suara keras atau pelan yang sangat berlebihan

 

Sedangkan pada kasus gangguan berbahasa dapat ditandai dengan:

  1. Adanya permasalahan dari berbahasa
    1. Phonology
    2. Morphology
    3. Syntax
  2. Adanya Permasalahan Isi dari Bahasa (semantik)
  3. Adanya masalah dalam penggunaan bahasa (pragmatik)
  4. Kosakata yang minim
  5. Menunjukkan pembentukan konsep yang lemah
  6. Tidak memahami nuansa, humor, dan bahasa non verbal
  7. Memiliki masalah dalam menyampaikan atau berbicara dengan orang lain

Dari gambar di atas terlihat bagaimana aktivitas dari otak terkait dengan kemampuan berbicara dan berbahasa anak.  Fungsi dari bagian-bagian inilah yang menjadi landasan dalam terapi terhadap anak keterlambatan bicara.

Kemampuan Psikologis dalam berbahasa

Fungsi psikologis yang terlibat dalam berbicara dan berbahasa dari seorang anak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dari gambar di atas terlihat bagaimana fungsi psikologis juga berperan penting dalam keterampilan berbicara dan berbahasa dari seorang anak.  Self-concept dan theory of mind adalah salah satu fungsi psikologis yang penting dalam melatih kemampuan berbicara dan berbahasa dari seorang anak.  Kemampuan ini akan merujuk kepada kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi dimana anak sudah memiliki kepercayaan diri untuk berkomunikasi dengan orang sekitarnya.

Oleh karena itu salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru PAUD, TK, SD dan orang tua dalam melatih kemampuan berbicara dan berbahasa dari anak usia dini adalah dengan terapi mendongeng.  Dijelaskan bahwa mendongeng mengaktifkan area cortex, yaitu area frontal cortex, motor cortex,  sensory cortex dan broca, serta wrenick.  Mendongeng mengaktifkan motor, auditoy, somato sensory, dan indera visual dimana anak lebih mudah mengingat dibandingkan membaca buku.  Mendongeng menghasilkan motivasi untuk menggerakan tindakan pada anak dan hormon dompamine. Terjadinya Neural Coupling dimana pendengar menerjemahkan cerita ke dalam ide atau pengertiannya sendiri.  Intonasi dan percikan kata-kata saat medongeng memudahkan otak anak untuk membayangkan serta mengelaborasi cerita dan melatih berbahasa.  Mendongeng menggerakkan emosi, menghasilkan ikatan antara pembaca dan karakter. Mendongeng juga menciptakan karakter, dan otak anak dilatih untuk mengidentifikasi karakter pada cerita.

Selain itu, guru dan orang tua dalam melatih kemampuan berbahasa dari anak usia dini juga harus memperhatikan karakteristik anak.  Anak masih berkarakter egosentris atau masih mementingkan dirinya sendiri.  Pendidik termasuk orang tua harus mampu mengeluarkan anak dari kehidupan egosentris dengan pembatasan sikap dan perilaku yang tegas.  Pendidik harus mampu memainkan karakter otoriter, permisif, dan demokrasi dalam situasi yang berbeda sesuai dengan konteks yang ada.  Sehingga pendidik harus berperilaku lentur atau fleksibel dalam menghadapi anak.  Selain itu aktivitas pembelajaran bahasa dilakukan dengan mendongeng ataupun media komunikasi yang menarik (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)