Pelayanan Pendidikan Inklusi Terlengkap di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Anak Berkebutuhan Khusus dan Pelayanan Inklusi

inklusi

Anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di pendidikan inklusi perlu pendampingan dalam bentuk terapi yang berkelanjutan. Keterbatasan yang dimiliki anak bukan menjadi penghalang dalam memperoleh pendidikan, namun perlu penyesuaian terhadap hambatan yang dimiliki. Pendampingan ini tidak hanya disekolah namun juga dalam bentuk terapi. Melalui terapi yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus, diharapkan mereka mampu meningkatkan keterampilan dalam pendidikan formal inklusi yang diambil.

Anak berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.

Salah satu pelayana inklusi yang diberikan adalah kepada anak yang mengalami masalah dalam tumbuh kembang.  Anak berkebutuhan khusus tersebut adalah anak dengan autisme, cerebral palsy, dyslexia, ADHD, down syndrome, borderline intellectual.

Pendidikan inklusi adalah bentuk pendidikan yang menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal pada umumnya untuk belajar. Pengertian pendidikan inklusi adalah sebuah pelayanan pendidik an bagi peserta didik yang mempunyai kebutuhan pendidikan khusus di sekolah regular ( SD, SMP, SMU, dan SMK) yang tergolong luar biasa baik dalam arti kelainan, lamban belajar maupun berkesulitan belajar lainnya.

Oleh karena itu pelayanan pendidikan inklusi diharapkan tidak hanya memberikan materi akademis saja, namun juga memberikan pelayanan terapi. Pelayanan yang terintegrasi antara pendidikan akademis dan terapi diharapkan akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak lebih baik.

Pelayanan Sekolah Inklusi Di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

20161102_122540

Pelayanan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu bekerjasama dengan PKBM Metakognisi menyelenggarakan pendidikan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus seperti borderline intellectual, down syndrome, dyslexia, dan autism. Pendidikan inklusi ini terintegrasi dengan pelayanan terapi yang diberikan kepada anak sesuai dengan jenis gangguan yang dialami.

Melalui pendidikan dan pelayanan terapi yang terintegrasi ini, anak berkebutuhan khusus akan mendapatkan dokumen akademis seperti raport dan ijasah . Mereka akan diikutsertakan dalam ujian kesetaraan yaitu Paket A (setara SD), Paket B (Setara SMP), dan Paket C (setara SMA). Pelayanan pendidikan ini akan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan individu.

Pemeriksaan dan Terapi

IMG_20170313_160727_908

Pemeriksaan fungsi psikologi dari anak berkebutuhan khusus (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Disisi lain, anak berkebutuhan khusus perlu dilakukan pemeriksaan yang lengkap untuk mengetahui sumber gangguan. Diagnosa yang tepat berdasarkan pemeriksaan yang akurat akan sangat mendukung keberhasilan dan efektivitas terapi yang dilakukan.

Pemeriksaan yang dilakukan tidak hanya meliputi faktor psikologis semata. Namun juga faktor fisik atau fisiologi tubuh anak perlu diperhatikan juga. Pemeriksaan yang dilakukan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu adalah pemeriksaan fungsi psikologi dengan test kesulitan belajar dan fungsi neurobiologi melalui EEG (elektroensefalografi). Jika dirasakan perlu adanya pemeriksaan lanjut, maka akan dirujuk untuk pemeriksaan MRI atau pencitraan otak yang lebih lengkap. Hasil pemeriksaan lengkap ini akan menentukan jenis terapi apa saja yang perlu dilakukan. Adapun terapi yang dilakukan antara lain adalah terapi neurofeedback, terapi metakognitif, fisioterapi, sensori integrasi, dan computer interaktif.

Pemeriksaan lengkap ini penting untuk melihat fungsi luhur atau system syaraf pusat atau otak yang terpengaruh akibat masalah berkebutuhan khusus ini. Dari pemeriksaan tersebut akan dilihat sejauh mana fungsi otak yang dapat dioptimalkan melalui terapi yang dilakukan. Oleh karena itu pemeriksaan dan terapi sejak dini atau dibawah 5 tahun dari anak berkebutuhan khusus akan memperbaiki fungsi otak lebih optimal.

Pemeriksaan dan terapi medis untuk anak berkebutuhan khusus di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dilakukan dengan bekerjasama dengan RSPAD Gatot Subroto dan Klinik Biosel Belmont. Pemeriksaan berupa MRI dan juga intervensi medis seperti akupuntur laser dan terapi sel punca (stem cell) dilakukan di kedua instansi tersebut. Intervensi medis dilakukan untuk memperbaiki struktur sel yang rusak atau terpengaruhi akibat masalah berkebutuhan khusus sehingga fungsi fisiologi dan psikologi nya akan terperbaiki.

Terapi Neurofeedback

Proses EEG

Terapi neurofeedback untuk melatih keseimbangan antara pikiran dan perasaan (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Terapi neurofeedback diberikan untuk melatih keseimbangan antara pikiran dan perasaan anak. Anak yang mengalami gangguan emosi kurang mampu mengendalikan pikiran dan perasaannya, sehingga perlu dilatih dengan neurofeedback dengan alat bantu EEG (elektroensefalografi). Neurofeedback adalah sejenis biofeedback yang mengukur gelombang otak untuk menghasilkan sinyal yang bisa dijadikan umpan balik untuk mengajarkan pengaturan fungsi otak sendiri.

Neurofeedback biasanya diberikan dengan menggunakan video atau suara, dengan umpan balik positif untuk aktivitas otak yang diinginkan dan umpan balik negatif untuk aktivitas otak yang tidak diinginkan. Pada pelatihan neurofeedback di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, individu akan dihubungkan dengan perangkat EEG melalui Bluetooth dengan beberapa aplikasi untuk melatih fokus atau meditasi. Contohnya adalah pelatihan dimana individu harus “fokus” atau “bermeditasi” untuk mencapai suatu tujuan.  Pelatihan ini akan mengukur dan melatih mental individu dari gelombang otak yang diolah oleh aplikasi neurofeedback. Pelatihan ini melatih kemampuan individu dalam mempertahankan keseimbangan antara emosi dan pikirannya dalam keadaan sadar.  Hal ini terlihat bagaimana menyeimbangkan antara meditasi dan fokus pada saat yang bersamaan.

Terapi metakognitif.

Jpeg

Terapi metakognitif untuk melatih keterampilan metakognitif anak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Intervensi atau terapi metakognitif adalah latihan untuk melibatkan kemampuan belajar, menyimpan, dan memanggil informasi dan melibatkan kemampuan belajar, ketrampilan organisasi dan manajemen waktu, ketrampilan test tasking, ketrampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (Solanto et al., 2010). Dalam praktek penerapan metode metakognisi adalah sebagai berikut.  Anak akan diberikan pengetahuan tentang tujuan penggunaan metode tersebut, yaitu bagaimana mengendalikan proses kognitif dan aplikasinya dalam situasi belajar nyata (Smith & Strick, 1999).  Intervensi metakognitif dapat diberikan kepada anak dengan pemberian makna bahwa kapasitas kognitif anak sama seperti orang dewasa. Terapi metakoognitif yang dilakukan dengan metode MMI.

Tahapan Melani’s Metacognition Intervention (MMI) Untuk Terapi Anak Kesulitan Belajar yaitu dengan tida teknik terapi psikologi. Intervensi Metakognitif bekerja dengan pendekatan tiga teknik terapi psikologi (Client-centered Therapy, Behaviouristic Therapy, dan Metacognitive Therapy).   Metode Metakognitif menggunakan pendekatan belajar seperti pada sekolah umum yaitu membaca, menulis dan menceritakan kembali. Untuk mencapai target dari intervensi (perubahan dalam kognitif, emosional, dan perilaku), dibutuhkan media buku cerita dengan tema sosial intelegensi yang didalamnya menceritakan mengenai tentang cara berempati, bersimpati, ketulusan, pengorbanan, kekeceawaan, kesedihan, keceriaan dan lain-lain.

Fisioterapi

Fisioterapi Akupuntur Listrik setara akupuntur 1000 jarum

Fisioterapi elektroakupuntur (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Fisoterapi ini mampu meningkatkan fungsi fisiologi syaraf pusat dan tepi sehingga mampu meningkatkan  sensitivitas tactil.  Fisioterapi yang dilakukan adalah dengan menggunakan akupuntur listrik atau elektro akupuntur.  Teknik ini setara dengan 1000 jarum akupuntur namun tidak  menimbulkan rasa sakit serta aman bagi anak.

Melalui bantuan teknik akupuntur listrik ini, tumbuh kembang fisiologi tubuh anak dioptimalkan sehingga mampu  meningkatkan sensitivitas tactil, social initiation, receptive language, motor skills, coordination, dan rentang perhatian. Berdasarkan penelitian, alat ini dapat secara efektif meredakan gejala autisme anak dan meningkatkan kecerdasan, kemampuan bahasa, dan  kemampuan sosial adaptif.

 

Terapi Sensori Integrasi

Jpeg

Terapi sensori integrasi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Bagi anak berkebutuhan khusus yang masih mengalami gangguan perilaku dapat diperbaiki dengan terapi sensori integrasi. Hal dikarenakan anak berkebutuhan khusus seperti autis, mengalami masalah sensory processing disorder atau sensory integration dysfunction. Sensori integrasi adalah proses saraf yang melibatkan penerimaan, pengelompokkan, dan evaluasi dari informasi indrawi melalui modalitas seperti penglihatan dan pendengaran, serta memproduksi respon adaptif melalui impuls saraf yang disalurkan kepada saraf motorik. Oleh karena itu anak yang mengalami masalah sensori integration dysfunction atau sensori processing disorder memiliki masalah dalam penerimaan, pemerosesan, dan merespon informasi dari lingkungan.

Semua informasi yang kita terima tentang dunia, datang melalui sistem indera atau sensori. Karena banyak proses sensorik terjadi di dalam sistem saraf pada tingkat tidak sadar, kita biasanya tidak menyadarinya. Meskipun kita semua terbiasa dengan indra yang terlibat dalam rasa, bau, penglihatan, dan suara, namun kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa sistem saraf kita juga merasakan sentuhan, gerakan, gaya gravitasi, dan posisi tubuh.

Sama seperti mata yang mendeteksi informasi visual dan menyampaikannya ke otak untuk interpretasi, semua sistem sensorik memiliki reseptor yang mengambil informasi untuk dirasakan oleh otak. Sel di dalam kulit mengirimkan informasi tentang cahaya, sentuhan, rasa sakit, suhu, dan tekanan. Struktur dalam tubuh mendeteksi gerakan dan perubahan posisi kepala. Komponen otot, sendi, dan tendon memberi dan kesadaran akan posisi tubuh.

Anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan perilaku mengalami masalah penginderaan tersebut. Hal ini berakibat kepada perilakunya yang sering tidak sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Melalui terapi sensori integrasi ini, penerimaan, pemerosesan, dan respon tubuh dari anak dilatih agar sesuai dengan konteks yang ada.

Interaktif Komputer.

CD interaktif

Pelatihan interaktif komputer (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Melalui pelatihan interaktif computer, anak berkebutuhan khusus dilatih pemahaman konsep pelajaran dengan mudah. Proses pelatihan ini menggunakan media audio visual yang melatih konsep dan pemahaman materi pelajaran secara konkret dari gambar dan animasi yang ditampilkan. Proses belajar bagi anak menjadi mudah dan sesuai dengan keunikan individu sehingga memunculkan motivasi dalam belajar.  Pelatihan yang diberikan dengan meningkatkan kemampuan visual perception anak  dari media audio visual.

Untuk informasi dan pendaftaran pelayanan inklusi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391 wa/sms/telp). (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

 

 

AUTISME: CIRI DAN GANGGUAN PADA FUNGSI KOGNITIF SOSIAL

Kanner (1943) melihat gangguan autisme berupa perilaku atau fenotip yang lebih variatif dari gangguan dalam komunikasi sosial dan atau kesulitan dalam perilaku (dalam Volkmar, Lord, Bailey, Schultz, & Klin, 2004).

Autisme adalah gangguan yang terjadi dimana mengalami kegagalan dalam interkasi sosial dan komunikasi.  Hal ini berkaitan dengan kemampuan dalam kognisi atau berpikir secara sosial dimana kurangnya kesadaran diri terhadap diri sendiri dan juga kepada orang di sekitarnya (Frith & Frith, 2007).

Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa individu dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) menunjukkan karakteristik dan awal munculnya buruknya dalam penggunaan informasi visual untuk memahami maksud dan keadaan mental orang lain, serta mengkoordinasikan perhatian secara bersamaan.

Di sisi lain, individu dengan ASD memiliki hambatan dalam kemampuan sosial ini.  Mereka kurang tanggap terhadap sinyal sosial yang berasal dari lingkungan.  Sinyal ini memungkinkan manusia untuk belajar tentang dunia dari orang lain, untuk belajar tentang orang lain, dan untuk menciptakan dunia sosial secara bersama. Sinyal sosial dapat diproses secara otomatis oleh penerima dan memungkinkan secara tidak sadar yang dipancarkan oleh pengirim, yaitu orang lain. Sinyal ini non verbal dan bertanggung jawab untuk pembelajaran sosial di tahun pertama kehidupan. Sinyal sosial juga bisa diproses secara sadar dan ini memungkinkan pemrosesan otomatis dimodulasi dan atau ditolak. Bukti untuk proses sosial tingkat tinggi ini sangatlah banyak sejak usia sekitar 18 bulan untuk individu normal (Frith & Frith, 2007).  Oleh karena itu, deteksi anak dengan autisme dapat dilakukan sejak dini dimana sang anak kesulitan dalam menangkap sinyal sosial dari orang lain.

Ciri Anak Dengan Autisme

Terkait dengan ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan fungsi sosial yang terjadi pada anak dengan autisme, berikut ini adalah ciri atau pendektian anak dengan austime

Ciri Autism Spectrum Disorder

  1. Sebanyak enam (atau lebih) item dari (1), (2), dan (3), dengan paling sedikit dua item dari point (1), dan masing-masing satu item dari point (2) dan (3):

(1) Penurunan kualitas dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua hal berikut:

(A) gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(B) kegagalan untuk mengembangkan hubungan dengan rekan sebaya yang sesuai dengan  tingkat perkembangan

(C) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati)

(D) kurangnya timbal balik sosial atau emosional

(2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi sebagaimana terwujud oleh paling sedikit salah satu dari berikut ini:

(A) Keterlambatan atau kurangnya secara keseluruhan dalam pengembangan bahasa lisan (tidak disertai upaya untuk mengkompensasi melalui mode komunikasi alternatif seperti isyarat atau mime).

(B) Pada individu dengan suara yang memadai, gangguan yang ditandai dalam kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain.

(C) Penggunaan bahasa-bahasa atau bahasa istimewa yang khas dan berulang (repetitive)

(D) Kurangnya kemampuan dalam permainan berkaitan dengan kepercayaan yang bervariasi dan spontan atau permainan imitatif sosial yang sesuai dengan tingkat perkembangan.

(3) Membatasi pola perilaku, minat, dan kegiatan yang berulang serta khas, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya salah satu dari berikut ini:

(A) Meliputi keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang khas  dan terbatas  dimana  tidak normal, baik dalam intensitas maupun fokus perhatian.

(B) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual yang sifatnya non fungsional tertentu

(C) Perilaku motorik yang selalu berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(D) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada setidaknya satu dari area berikut, dengan onset sebelum 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa seperti yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) bermain simbolis atau imajinatif.

C. Gangguan ini tidak diperhitungkan dengan baik oleh Rett’s Disorder atau gangguan disintegratif masa kanak-kanak.

American Psychiatric Association. (DSM-IV-TR). Washington, DC, 2000:75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Ciri-Ciri Asperger Syndrome

A. Kerusakan kualitatif dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua dari hal berikut ini:

(1) Gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(2) Kegagalan untuk mengembangkan hubungan sebaya yang sesuai dengan tingkat perkembangan

(3) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati orang lain)

(4) Kurangnya timbal balik sosial atau emosional

B. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan memiliki ciri khusus, seperti yang ditunjukkan sekurang-kurangnya oleh 1 hal berikut:

(1) Meliputi kesibukan dengan satu atau beberapa pola kepentingan yang khusus dan pembatasan yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokus.

(2) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual nonfungsional tertentu

(3) Gaya motorik yang khas dan berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(4) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

C. Gangguan ini menyebabkan kerusakan klinis yang signifikan di area kerja sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.

D. Tidak ada penundaan umum yang signifikan secara klinis dalam bahasa (misalnya kata tunggal yang digunakan pada usia 2 tahun, frase komunikatif yang digunakan pada usia 3 tahun)

E. Tidak ada keterlambatan perkembangan kognitif yang signifikan secara klinis atau dalam pengembangan keterampilan membantu diri yang sesuai dengan usia, perilaku adaptif (selain dalam hal interaksi sosial), dan keingintahuan tentang lingkungan di masa kecil.

F. Kriteria tidak ditemukan pada Gangguan Perkembangan Pervasif atau Skizofrenia spesifik lainnya.

American Psychiatric Association. DSM-IV-TR. Washington, DC,  2000, hal. 75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Autisme Dan Fungsi Otak Sosial

Berdasarkan dari uraian di atas terkait dengan ciri-ciri austime, maka jelaslah adanya gangguan dari fungsi kerja otak.  Secara umum peneliti melihat adanya gangguan kognisi atau berpikir secara fungsi sosial yang dialami oleh individu dengan autisme.  Hal ini ditunjukkan dengan ketidakmampuan individu dengan auitisem dalam menafsirkan sinyal sosial dari lingkungan.

Berikut ini adalah bagian otak yang berfungsi dalam kognitif sosial yaitu mengolah informasi sosial.  Bagian otak tersebut, yaitu medial prefrontal cortex (MPFC), Anterior Cingulate Cortex (ACC), Anterior Insula (AI), Inferior Frontal Gyrus (IFG), Inter Parietal Sulcus (IPS), Amygdala, Temporo-Parietal Junction (TPJ), posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) (Frith & Frith, 2007).

Otak Sosial

Gambar Bagian Otak dan Fungsi Kognitif Sosial (Frith & Frith, 2007).

Berdasarkan gambar di atas bagian otak dan fungsi yang terkait dengan kognisi sosial yaitu:

  1. Amigdala adalah struktur kompleks yang terbenam di lobus temporal anterior terlibat dalam menafsirkan nilai-nilai sosial, misalnya, kepercayaan terhadap objek seperti
  2. Medial Prefrontal Cotex (MPFC) secara konsisten diaktifkan saat memikirkan keadaan mental diri dan orang lain.
  3. Aktivitas di Anterior Cingulate Cortex (ACC) dan Anterior Insula (AI), yang berada di bawah bagian antara lobus frontal dan temporal, dikaitkan dengan pengalaman emosi seperti rasa sakit dan jijik pada diri sendiri dan orang lain.
  4. Aktivitas pada Inferios Frontal Gyrus (IFG) dan Intra Parietal Sulcus (IPS) terjadi sebagai respons terhadap tindakan eksekusi dan observasi tindakan.
  5. Aktivitas di Temporo Parietal Junction (TPJ) nampaknya berhubungan dengan pengambilan perspektif, baik spasial dan mental, dan karenanya dengan pemahaman kepercayaan yang salah.
  6. Aktivitas di posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) ditimbulkan oleh observasi aksi dan saat membaca maksud dari tindakan (Frith & Frith, 2007).

Oleh karena itu intervensi anak autisme dilakukan sebaiknya sejak usia dini dimana tumbuh kembang biologis, khususnya otak terjadi sangat pesat.  Pelatihan yang dilakukan adalah dengan merangsang sensori indera agar peka terhadap sinyal sosial serta bagaimana  mengaktifkan fungsi kerja otak sosial dalam pengolahan sinyal sosial dari lingkungan.  Terapi yang dapat dilakukan untuk intervensi anak dengan autisme adalah fisioterapi sensori motorik, terapi sensori integrasi, dan terapi metakognitif. Terapi yang terintegrasi dan menyeluruh ini adalah kunci dari keberhasilan terhadap perbaikan dan kemajuan tumbuh kembang pada anak dengan autisme.

 

Referensi

Frith, C.D. & Frith, U.  Social Cognition in Humans. Current Biology, 17(16): R724–R732, DOI 10.1016/j.cub.2007.05.068

Johnson, C.P. Myers, S.M. &  Council on Children With Disabilities.(2007). Identification and Evaluation of Children With Autism Spectrum Disorders.  PEDIATRICS, 120(5): 1183-1215.

Volkmar, F.R., Lord, C. Bailey, A. Schultz, R.T., & Klin, A. (2004). Autism and pervasive developmental disorders. Journal of Child Psychology and Psychiatry 45(1):135–170.

AUTISME DAN GANGGUAN PERKEMBANGAN NEUROBIOLOGI OTAK

Sensory Processing Disorder (SPD) pada anak bawah tiga tahun adalah fenomena yang akan merujuk kepada berbagai gangguan.  Salah satu gangguan yang bermuara dari SPD adalah gangguan spektrum autis (Autism Spectrum Disorder / ASD).  Di sisi lain, kelompok ASD yang masih mampu belajar namun dimasukkan kepada dalam gangguan kesulitan belajar adalah PDD-NOS dan ASPERGER.

Prevalensi individu autis tidak dapat dianggap remeh.  Bahkan fenomena ini cenderung menjadi epidemi.  UNESCO menyebutkan pada tahun 2011 lalu memperkirakan bahwa ada 35 juta orang dengan autisme di dunia. Ini berarti rata-rata ada enam orang dengan autis per 1000 orang dari populasi dunia. Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 pernah menduga jumlah anak autis di Indonesia sekitar 112 ribu dengan rentang 5-19 tahun. Angka ini keluar berdasarkan hitungan prevalensi autis sebesar 1,68 per 1000 anak di bawah 15 tahun. Dengan jumlah anak usia 5-19 tahun di Indonesia sejumlah sekitar 66 juta menurut Badan Pusat Statistik pada 2010, didapatlah angka 112 ribu tersebut (Priherdityo, 2016).

Bagaimana autisme dan kaitannya dengan gangguan yang terjadi pada otak kini telah diungkap oleh para peneliti.  Salah satu penelitian yang menceritakan gangguan pada otak terkait dengan autisme dilakukan oleh Emanuel DiCicco-Bloom, Catherine Lord,  Lonnie Zwaigenbaum,  Eric Courchesne,  Stephen R. Dager,  Christoph Schmitz,  Robert T. Schultz,  Jacqueline Crawley, dan Larry J. Young di tahun 2006 yang berjudul “The Developmental Neurobiology of Autism Spectrum Disorder” dan diterbitkan di The Journal of Neuroscience.

Menurut DiCicco-Bloom, et al. (2006) gangguan spektrum autisme (ASD) adalah salah satu gangguan paling parah pada masa kanak-kanak dalam hal prevalensi, morbiditas, hasil, dampak pada keluarga, dan biaya kepada masyarakat.  Lebih lanjut penelitian DiCicco-Bloom  et al. Melihat ASD sekarang diakui sebagai gangguan perkembangan otak prenatal (pada masa kehamilan) dan pasca kelahiran.

Selama masa kanak-kanak, volume otak dengan ASD menunjukkan pembesaran abnormal, namun perbedaan ini sedikit berkurang pada masa kanak-kanak atau masa remaja. Pola ini baru saja terdeteksi baru-baru ini karena sebagian besar sejarah 70 tahunnya, kelainan otak ASD dipandang statis. Dengan demikian, kemungkinan kelainan pertumbuhan usia tergantung tidak dihargai (Courchesne, 2004 dalam DiCicco-Bloom et. al., 2006).

Penelitian DiCicco-Bloom et al., (2006) menyebutkan adanya kelainan pertumbuhan kompleks dari cerebellum, cerebrum, dan amigdala dan kemungkinan perbedaan hippocampus. Perbedaan usia terkait dalam pertumbuhan wilayah otak tertentu juga terlihat dalam meta-analisis.

Dijelaskan lebih lanjut oleh DiCicco-Bloom  et al., (2006) ukuran otak telah didefinisikan dengan menggunakan lingkar kepala, indikator volume yang dapat diandalkan terutama pada masa kanak-kanak; Perhitungan volumetrik menggunakan magnetic resonance imaging (MRI); dan bobot otak postmortem (setelah kematian).

Saat lahir, lingkar kepala rata-rata pada pasien ASD kira-kira seperti individu normal. Namun, pada usia 3-4 tahun, ukuran otak di ASD melebihi rata-rata normal sebesar 10% berdasarkan studi MRI in vivo dan meta-analisis berat otak postmortem dan morfometri MRI (Courchesne et al., 2001; Sparks et al., 2001; Sparks et al., ., 2002; Redcay dan Courchesne, 2005 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

DiCicco-Bloom et al., (2006) menjelaskan bahwa pembesaran otak dari individu ASD, dimana seseorang mungkin telah memperkirakan adanya peningkatan penanda neuronal yang disebabkan oleh kepadatan neuronal atau synaptic yang meningkat. Namun, penanda ini tidak seperti pada individu normal.  Pada individu ASD indikator tersebut menunjukkan adanya penurunan pada anak berusia 3 sampai 4 tahun (Friedman et al., 2003 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

Kombinasi penanda molekul yang berubah dan peningkatan materi putih dan abu-abu dapat mencerminkan perubahan pada:

(1) jumlah dan ukuran neuron dan glia;

(2) penjabaran akson, dendrit dan sinapsis;

(3) Pemangkasan porodendritik;

(4) kematian sel terprogram;

(5) produksi kolom kortikal;

(6) mielinasi.

Perbedaan atau gangguan pada biologis otak dari individu dengan ASD tentu berpengaruh terhadap fungsi kerja otak ataupun psikologisnya. Tercatat beberapa kemampuan yang terganggu antara lain bahasa, perhatian, komunikasi, dan interaksi sosial. Banyak penelitian pemetaan otak dengan fMRI yang berfokus interaksi sosial. Penelitian fMRI paling awal difokuskan pada persepsi sosial, seperti pengenalan orang melalui wajah. Karya yang lebih baru telah meneliti persepsi ekspresi wajah, perhatian bersama, empati, dan kognisi sosial.  Hal ini di dapat dijelaskan dari gambar di bawah ini

ASD

Keterangan gambar.

Fungsional kelainan MRI diamati pada ASD. A,  MRI koroner ini menunjukkan belahan otak di atas, otak kecil di bawah, dan lingkaran di atas gyrus fusiform dari lobus temporal. Contohnya menggambarkan temuan hipoaktivasi fusiform gyrus yang sering dihadapi pada pria remaja dengan ASD (kanan) dibandingkan dengan usia dan IQ yang sesuai dengan kontrol sehat pria (kiri). Sinyal merah / kuning menunjukkan daerah otak yang secara signifikan lebih aktif selama persepsi wajah; Sinyal di daerah pertunjukan biru lebih aktif selama persepsi objek nonface. Perhatikan kurangnya aktivasi wajah pada anak laki-laki dengan ASD tapi rata-rata tingkat aktivasi objek bukan wajah.

B, diagram skematik otak dari orientasi lateral dan medial yang menggambarkan luas area otak yang ditemukan secara hypoactive di ASD selama berbagai tugas kognitif dan persepsi yang secara eksplisit bersifat sosial. Beberapa bukti menunjukkan bahwa daerah-daerah ini terkait untuk membentuk jaringan “otak sosial” (DiCicco-Bloom et al., 2006).

Keterangan

IFG, [gyrus frontal inferior]  dimana hipoakf saat peniruan ekspresi wajah;

PSTS, [Posterior sulcus temporal superior] dimana hipoaktif atau aktivitasnya rendah selama persepsi ekspresi wajah dan tatapan mata);

SFG [superior frontal gyrus] dimana hipoaktif atau aktivitasnya rendah selama teori tugas pikiran, yaitu, ketika mengambil perspektif orang lain;

A [amigdala]  dimana hipoaktif atau rendah aktivitasnya selama berbagai tugas sosial;

FG [fusiform gyrus] juga dikenal sebagai area wajah fusiform dan hipoaktif atau rendah aktivitasnya selama persepsi identitas pribadi (Schultz, 2005; Schultz and Robins, 2005 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

Studi ini menunjukkan bahwa defisit keterampilan ASD disertai oleh berkurangnya aktivitas saraf di daerah yang biasanya mengatur domain fungsional spesifik. Sebagai contoh, defisit dalam perhatian bersama dikaitkan dengan penurunan aktivitas pada sulkus temporal superior posterior (Pelphrey et al., 2005 DiCicco-Bloom et al., 2006), sedangkan defisit dalam persepsi sosial dan atau keterlibatan emosional serta gairah dikaitkan dengan aktivitas yang berkurang pada amigdala (Baron- Cohen et al., 1999; Critchley et al., 2000; Pierce Et al., 2001 DiCicco-Bloom et al., 2006).

Dari uraian tersebut jelas bahwa gangguan biologis pada otak diantaranya pada cerebellum dapat mengarah kepada ASD dimana terjadi gangguan perilaku dan kognitif (fungsi berpikir).  Hal ini juga berpengaruh pada perkembangan otak di awal tumbuh kembang anak khususnya pada otak depan dan cerebral cortex yang dapat diketahui melalui pencitraan otak khususnya fMRI. (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Referensi

DiCicco-Bloom, E., E. Lord, L. Zwaigenbaum, E. Courchesne, S.R. Dager, C. Schmitz, R.T. Schultz, J. Crawley, & L.J. Young. (2006). The developmental neurobiology of autism spectrum disorder. The Journal of Neuroscience, 26(26):6897– 6906

Priherdityo, E. (2016). Indonesia Masih ‘Gelap’ Tentang Autisme. CNN INDONESIA, Kamis, 07/04/2016. Diakses 18 Juli 2017, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160407160237-255-122409/indonesia-masih-gelap-tentang-autisme/

Penerimaan Siswa Baru Homeschooling Metakognisi Tahun 2017-2018

Anak kesulitan belajar seperti ADHD, ADD, Slow Learner, PDD-NOS, Asperger, Dyslexia, dan Dyscalculia jika tidak diintervensi sejak dini maka permasalahannya menjadi komplek.  Anak kesulitan belajar yang tidak tertangani tersebut bisa comorbid dengan depresi dan masalah klinis lainnya.  Sehingga mereka tidak mampu mengikuti tuntutan dari sekolah formal.

Permasalahan tersebut akan semakin menumpuk pada usia remaja, yaitu siswa SMP dan SMA dimana dapat menjadi gangguan emosional dan perilaku.  Salah satu permasalahan tersebut adalah siswa menjadi enggan untuk bersekolah dan mengurung diri di rumah.  Bila hal ini terjadi, maka perlu penanganan yang menyeluruh dimana masalah psikologis tertangani namun pendidikannya tidak tertinggal.

Salah satu pelayananan dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu adalah Homeschooling Metakognisi.  Pelayanan yang diberikan adalah pelayanan menyeluruh antara terapi psikologis dan ketersedian legalitas pendidikan siswa.

Tahapan seleksi

Siswa yang bergabung di Homeschooling Metakognisi terlebih dulu dilihat permasalahan akademis dan psikologis yang dialami.  Siswa akan dites dan diobservasi terkait masalah kesulitan belajar yang yang terjadi.  Berdasarkan hasil test, observasi, dan permasalahannya seperti siswa sulit untuk mengikuti tuntutan sekolah formal, seperti kehadiran di kelas, kriteria ketuntasan minimum (KKM) mata pelajaran, ataupun permasalahan sosialisasi akan dirujuk untuk terapi secara penuh dan dipulihkan permasalahannya melalui pendidikan alternatif atau homeschooling.

Pelayanan Pendidikan

Siswa yang tergabung di Homeschooling Metakognisi akan menjalani terapi metakognitif dan terapi lainnya hingga permasalahannya menjadi tuntas.  Pembelajaran dilakukan dengan seminggu 4 kali pertemuan selama 2  – 4 jam.  Siswa akan belajar materi yang sama dengan materi yang diberikan pada sekolah formal dengan kurikulum nasional.

 

20161102_122540

Ruang Belajar Siswa tingkatan SMP dan SMA di Homeschooling Metakognisi

 

 

 

Jpeg

Ruang Belajar Kelompok di Homeschooling Metakognisi

 

 

2016111182820

Ruang Belajar Kelompok dan Multi Media di Homeschooling Metakognisi

 

 

Siswa Homeschooling atau PKBM Metakognisi akan mendapatkan perlakuan yang setara dengan sekolah formal di tiap tingkatan yaitu SD, SMP, dan SMA.  Siswa akan dievaluasi setiap semesternya dan disajikan dalam bentuk raport.  Selain itu, siswa pada tingkatan akhir akan menempuh ujian nasional kesetaraaan Paket A untuk tingkatan SD, Paket B untuk tingkatan SMP, dan Paket C untuk tingkatan SMA, yang diselenggarakan oleh pemerintah dan mendapatkan ijasah.  Ijasah tersebut dapat digunakan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Profil Homeschooling Metakognisi

Homeschooling Metakognisi sudah berbadan hukum dibawah Yayasan Melani Metakognisi Indonesia sejak tahun 2012.  Ijin operasional penyelenggaraan pendidikan terdaftar dengan nomor 003/1151/317407/-1.851.33.  PKBM Metakognisi memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) yang terdaftar di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu P9948188.

Pendaftaran Siswa Baru.

Pendaftaran siswa baru periode 1 dibuka Mei 2017 – Agustus 2017.  Untuk pendaftaran siswa baru dapat menghubungi sdr. Agus (08561785319) atau Muhbikun (082213386726).

Deteksi Dini Anak Kebutuhan Khusus dan Kesulitan Belajar

Kasus kesulitan belajar di sekolah formal dapat mencapai 10% dari populasi siswa di sekolah formal.  Kasus tersebut belum termasuk anak kebutuhan khusus yang tidak tertangani dan masuk ke dalam sekolah inklusi ataupun sekolah luar biasa.

Anak kesulitan belajar seperti slow learner, ADHD, ADD, Dyslexia, Dyscalculia, PDD-NOS, dan Asperger sering kali tidak terdeksi sejak dini, khususnya di usia dini (di bawah lima tahun).  Hal tersebut berdampak pada terlambatnya penanganan atau intervensinya. Sering kali anak kesulitan belajar baru diketahui serta diterapi pada usia sekolah dasar.  Jika diketahui sejak usia dini maka perbaikan yang terjadi akan dibantu dengan pertumbuhan dan perkembangan anak secara alamiah yang pesat pada usia dini.

Oleh sebab itu deteksi dini anak kebutuhan khusus dan kesulitan belajar sangat penting.  Hal ini juga seharusnya menjadi prioritas bagi orang tua, guru PAUD, dan TK sebelum anak memasuki usia sekolah dasar. Jika guru dan orang tua merasa bahwa si anak memiliki perbedaan dalam fungsi kognitif, afektif, dan perilaku yang berbeda dibandingkan dengan teman sebaya pada umumnya, maka patut diduga adanya permasalahan kesulitan belajar ataupun kebutuhan khusus.

Ciri-ciri yang menjadi pertanda perlu atau tidaknya diperiksakan dapat terlihat antara lain:

  • Adanya permasalahan pada makan atau tidur anak
  • Menolak untuk pergi kepada siapa pun kecuali orang tua atau pengasuhnya
  • Tidak merasa nyaman saat berpakaian
  • Jarang bermain dengan mainan
  • Menolak atau melawan saat diminta berpelukan
  • Tidak bisa menenangkan diri
  • Badannya lemah, mudah sakit, alergi, kaku, atau ada keterlambatan motorik
  • Tidak ada kontak mata
  • Tidak mengucapkan kalimat dengan benar
  • Tidak mampu berkomunikasi dua arah
  • Hanya memiliki kosa kata di bawah 50 kata

Jika anak dirasakan memiliki hambatan seperti di atas, maka seharusnya orang tua, guru PAUD dan TK, atau pun pihak seleksi penerimaan siswa baru sekolah dasar segera merujuk anak terkait kepada ahli yaitu psikolog anak dan psikolog pendidikan yang menangani anak kesulitan belajar ataupun anak berkebutuhan khusus.

Di sisi lain, seleksi masuk sekolah dasar adalah hal yang genting atau krusial dalam menentukan masa depan anak.  Hal ini menjadi penting karena anak yang diduga mengalami kesulitan belajar ataupun berkebutuhan khusus tersebut jika telah dideteksi sejak dini kepada ahli, maka dapat segera diintervensi atau ditindaklanjuti.  Tentu hal ini akan sangat membantu tumbuh kembangnya menjadi lebih optimal dan pencapaian akademisnya pun menjadi lebih baik.

Terkait permasalahan di atas, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan pelayanan “Deteksi Dini Anak Kesulitan Belajar dan Anak Berkebutuhan Khusus.”  Pelayanan ini ditujukan sebaiknya pada anak usia dini dan anak usia sekolah dasar.  Pelayanan yang diberikan berupa pengukuran fungsi psikologis melalui test kesulitan belajar dan fungsi neurobiologis dengan electroencephalography (EEG).

IMG_20170313_160727_908.jpg

Gambar di atas menunjukkan test fungsi psikologis (kognitif) atau test kesulitan belajar pada anak usia dini.  Test ini akan menunjukkan bagaimana fungsi psikologis anak terkait dengan proses belajar dan mengajar.  Pada test fungsi kognitif akan melihat potensi kecerdasan, kemampuan attention, konsentrasi, memory jangka panjang dan jangka pendek, analisa, sintesa, evaluasi, fleksibilitas berpikir, kreativitas berpikir, fleksibilitas berpikir, kreativitas berpikir, Verbal Fluency, Self Awareness, Self Concept, Self Regulation, dan lain-lain. Anak kesulitan belajar ataupun anak berkebutuhan khusus, biasanya terdeksi mengalami masalah dari fungsi-fungsi tersebut.

 

P_20170223_171320.jpg

Tes fungsi kognitif ini kemudian di konfirmasi dengan hasil EEG untuk melihat fungsi neurobiologis dari otak, misalnya kadar neurotransmiter dan aktivitas dari lobus-lobus di otak saat proses belajar dan mengajar dilakukan.  Gambar di atas adalah bagaimana proses pengukuran EEG dilakukan pada anak.

EEG Anak Normal vs Anak Kesubel Gambar di atas adalah hasil pengukuran EEG perbandingan antara anak kesulitan belajar dengan anak normal.  Terlihat anak kesulitan belajar mengalami masalah di neurokimia dan neurobiologisnya.  Warna aktivitas otak kearah biru menandakan fungsinya semakin baik, jika warnanya merah menandakan adanya masalah dari fungsi neurobiologisnya.

hasil eeg emotive Gambar di atas adalah hasil pengukuran EEG untuk mengetahui keseimbangan antara perasaan dan pikiran anak saat belajar.  Pengukuran ini dapat melihat sejauh mana kemampuan inhibition pada executive function pada anak.  Anak kesulitan belajar dan anak berkebutuhan khusus terbukti mengalami masalah di executive function, khususnya masalah inhibition.

Diharapkan dengan pengukuran dari fungsi kognitif dan dikonfirmasi dari fungsi neurobiologis akan mampu memberikan diaognosa yang kuat terhadap gangguan yang dialami.  Hal ini menjadi penting terhadap penentuan jenis dan frekuensi intervensi yang akan dilakukan seperti terapi wicara, sensori integrasi, atau metakognitif.  Selain itu, hal tersebut dapat memberikan informasi kepada orang tua bagaimana pola asuh, dukungan keluarga atau lingkungan kepada anak, ataupun strategi belajar yang dapat diterapkan di rumah.

*****

Informasi dan pendaftaran “Deteksi Dini Anak Kesulitan Belajar dan Kebutuhan Khusus” dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391).

TERAPI SENSORI INTEGRASI METAKOGNITIF

Melani Arnaldi

Sensori integrasi adalah suatu proses neurologi yang berfungsi mengorganisasikan informasi dari tubuh dan dunia luar dalam dunia sehari-hari.

Proses ini bekerja sebagai system di saraf pusat yang berisi jutaan neuron di sumsum tulang belakang dan otak.  Dalam kenyataannya, gangguan kemampuan sensori integrasi yang dialami anak sejak lahir akan mengganggu proses pengorganisasian, pikiran, dan perilaku.  Kondisi ini dapat dilihat, bagaimana regulasi diri anak dalam mengontrol aktivitas perilakunya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Banyak sekali permasalahan anak kebutuuhan khusus yang membutuhkan terapi sensori integrasi di tujuh tahun awal kehidupannya, seperti ADHD, Autisme, Cerebal Palsy, PDD-NOS.

Gejala yang dapat terlihat, yaitu:

  1. Terlalu sensitif atau kurang sensitive terhadap sentuhan, gerakan, penglihatan, atau suara di lingkungan
  2. Tingkatan aktivitas yang tidak biasa seperti anak lainnya, dapat sangat aktif atau kurang aktif
  3. Mudah terganggu; miskin perhatian terhadap tugas
  4. Keterlambatan dalam bicara, keterampilan motoric, atau pretasi akademis
  5. Masalah koordinasi seperti kikuk atau canggung
  6. Miskin kesadaran tubuh
  7. Kesulitan belajar tugas baru atau mencari tahu bagaimana untuk bermain dengan mainan baru
  8. Tampak tidak teratur di hamper setiap waktu
  9. Kesulitan dengan transisi antara kegiatan atau lingkungan baru
  10. Keterampilan sosial yang belum matang
  11. Impulsif atau kurangnya pengendalian diri
  12. Kesulitan menenangkan diri setelah terganggu secara emosional
  13. Masalah self regulation

 

Masalah sistem sensitivitas tactil 

Sistem tactil bermain di dalam kemampuan fisik, mental, dan emosional di dalam membentuk perilaku.  Setiap orang memiliki sensitivitas tactile ketika semua fungsi penginderaannya dapat menghantarkan informasi di dalam fungsi persepsi visual, planning motoric, body awareness, maupun terhadap kemampuan social skill.  Kondisi ini sangat mempengaruhi rasa aman secara emosional dan kemampuan belajar secara akademik.  Terdapat dua kemampuan dasar sensitivitas tactile yang harus dimiliki, pertama kemampuan sensitivitas untuk mempertahankan diri, kemampuan sensitivitas untuk membedakan rangsang, dan kemampuan  untuk mengontrol sensitivitas dari susunan saraf pusat.

Kondisi ini biasanya dialami oleh anak-anak yang mengalami hipersensitivitas atau hiposensitivitas.  Bahkan kesulitan membedakan rangsang penginderaan

Masalah sensitivitas vestibular

Sistem vestibular adalah kemampuan memperoleh keseimbangan antara gerak dan koordinasi pikiran. Salah satu cara yang digunakan adalah menghubungkan pesan sensoris ke bagian syaraf pusat melalui pengalaman yang dibuat sampai terbentuknya kerangka kerja dari syaraf pusat secara efektif.

Pada umumnya anak yang mengalami gangguan sensitivitas vestibular, akan mengalami masalah pada saat bermain.  Umumnya anak akan sering terjatuh, menabrak barang-barang, sampai denngan kesulitan untuk duduk diam saat membaca.  Emosinya sering terlihat naik turun, dengan attention yang tidak terpelihara dalam waktu yang diharapkan.  Melalui terapi sensori integrasi yang dikombinasikan dengan metode metakognitif, anak akan diajarkan bagaimana dapat mengendalikan pikirannya untuk mengontrol gerak tubuhnya agar terjadi keseimbangan antara sensasi yang masuk, gerak, gravitasi, keseimbangan, dan ruang.

Masalah Sistem Propioseptik

Sistem propioseptik adalah kemampuan diri untuk mengontol posisi gerak tubuh.  Kondisi ini berkaitan dengan proses integrasi antara sensasi gerak dan sentuhan.  Proses penerimaan sensasi propioseptik berkaitan dengan otot, ligament, tendon, dan lapisan penguhung antar motorik gerak.  Kemampuan ini berkaitan dengan posisi anak untuk menerima pesan tanpa dia sadari pada akhirnya, sehingga terjadi automatisasi gerak yang fleksibel, tidak terkesan kaku dan memiliki kemampuan control motoric yang       terencana.

Masalah Asosiatif

Masalah asosiatif berkaitan dengan bagaimana seseorang memproses semua panca inderanya dengan baik.  Masalah ini berkaitan dengan masalah memproses informasi bahasa pada indera pendengaran, proses mengartikulasikan kata-kata saat berbicara, kemampuan terahadap proses persepsi penglihatan dan gerak mata, masalah koordinasi terhadap kemampuan fungsi pengecapan saat makan, masalah kontrol fungsi toilet training dan masalah tidur.  Masalah ini pada umumnya dialami anak apabila setelah berusia 4 tahun belum bisa melakukannya dengan baik.  Masalah ini dikatakan penting, karena kemampuan asosiatif adalah kemampuan pertama anak untuk dapat belajar, termasuk belajar membaca, menulis, dan merasakan masalah-masalah social secara emosional.

Proses Tahapan Terapi Sensori Integrasi Metakognisi

sensory-sistem

Seperti yang kita ketahui bahwa mekanise kerja otak dapat terjadi dari berbagai macam bentuk proses.     Diantaranya proses lateralisasi yang dapat menutupi ketidakmampuan prosses bahasa disebagian belah otak.  Pada proses kemampuan sensori integrasi       memang memiliki proses yang runtut berbeda dengan fungsi kongitif bahasa.

Masalah keruntutan ini yang menyebabkan proses terapi harus dilakukan dengan sejumlah tahap secara berurutan.  Dimana dari gambar diatas dapat terlihat bahwasanya tahap paling mendasar harus terpenuhi keterampilannya sebelum naik ke tahap di atasnya.

Proses neurologi berfungsi untuk mengorganisasikan sensasi dari tubuh dan lingkungan, serta membuat tubuh lebih efektif di dalam merespon informasi dari lingkungan. Proses ini harus menjadi program yang secara otomatis berfungsi di saat input sensori masuk.  Proses automatisasi ini dapat diperoleh dari proses pelatihan secara motorik  dan melalui proses belajar, melalui metode metakognisi.

Proses terapi akan melalui tahap, dimana anak akan dilatih secara motorik untuk merangsang system penginderaan, menerima sensitivitas dari lingkungan, baru kemudian masuk ke tahap sensori motorik dan perceptual motorik untuk melakukan sejumlah perintah yang diharapkan.

Setelah proses pelatihan dianggap telah mampu mencapai tahapan yang optimal, barulah seorang anak  memasuki tahap proses berpikir.  Proses berpikir ini termasuk kemampuan untuk membuat strategi, pengambilan keputusan, membuat planning, membuat cerita, hingga munculnya insight di dalam bentuk self-talk.  Proses berpikir yang telah di dasar dengan kemampuan sensori motorik yang optimal akan mewujudkan suatu koordinasi regulasi diri yang baik.  Kondisi ini yang diharapkan dapat terwujud melalui terapi yang dilakukan secara rutin dan disiplin.  Proses yang    dilakukan akan menghasilkan proses neuroplastisitas di otak sehingga hasilnya prosesnya dapat merubah sturktur otak secara keselurahan.

Pentingkah fisioterapi ?

Fisoterapi dengan elektro akupuntur mampu meningkatkan fungsi fisiologi syaraf pusat dan tepi sehingga mampu meningkatkan kecerdasan.  Fisioterapi yang dilakukan adalah dengan menggunakan akupuntur listrik atau elektro akupuntur.  Teknik ini setara dengan 1000 jarum akupuntur namun tidak  menimbulkan rasa sakit serta aman bagi anak.

Fisioterapi Akupuntur Listrik setara akupuntur 1000 jarum

Melalui bantuan teknik akupuntur listrik ini, tumbuh kembang fisiologi tubuh anak dioptimalkan sehingga mampu meningkatkan kecerdasan. Berdasarkan penelitian, alat ini dapat secara efektif meredakan gejala autisme anak dan meningkatkan kecerdasan, kemampuan bahasa, dan    kemampuan sosial adaptif.

Referensi

Alberta Human Services. (2015). Sensory integration and sensory integration dysfunction. http://www.humanservices.alberta.ca/documents/PDD/pdd-central-sensory-integration-dysfunction.pdf. Diakses 9 November 2016.

Brown, J. (2009). An introduction to identification and intervention for children with sensory processing difficulties.https://childhealthanddevelopment.files.wordpress.com/2011/04/si-presentation_for_mh_practioners.pdf. Diakses 28 Januari 2016

Tian YP1Qi RLi XLWang YLZhang YJi THou CYWang LJ. Acupuncture for promoting intelligence of children–an observation on 37 cases with mental retardation. Journal  of Traditional  Chinese Medicene. 2010 Sep;30(3):176-9

Terapi Musik Untuk Penyembuhan Psikologis

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Setiap orang pasti suka musik meski dengan genre berbeda-beda.  Jazz, clasic, pop, ataupun dangdut memiliki nuansa yang disukai setiap individu. Namun disisi lain, musik juga memiliki kekuatan penyembuhan secara psikologis, misalnya menurunkan stress, depresi, dan anxiety.  Oleh karena itu dikembangkanlah terapi musik untuk penyembuhan psikologis.

Terapi musik adalah pelayanan kesehatan yang didirikan di mana musik yang digunakan dalam hubungan terapi untuk mengatasi kebutuhan fisik, emosi, kognitif, dan sosial individu. Setelah menilai kekuatan dan kebutuhan masing-masing klien, terapis musik yang berkualitas memberikan perlakuan yang ditunjukkan termasuk membuat, menyanyi, pindah ke, dan / atau mendengarkan musik. Melalui keterlibatan musik dalam konteks terapi, kemampuan klien diperkuat dan ditransfer ke area lain dari kehidupan mereka. Terapi musik juga menyediakan jalan untuk komunikasi yang dapat membantu bagi mereka yang merasa sulit untuk mengekspresikan diri dengan kata-kata. Penelitian di terapi musik mendukung efektivitas dalam banyak bidang seperti: rehabilitasi fisik secara keseluruhan dan memfasilitasi gerakan, meningkatkan motivasi masyarakat untuk menjadi terlibat dalam pengobatan mereka, memberikan dukungan emosional bagi klien dan keluarga mereka, dan memberikan jalan keluar bagi ekspresi perasaan (American Music Therapy Association).

Musik memiliki kualitas nonverbal, kreatif, struktural, dan emosional. Ini digunakan dalam hubungan terapi untuk memfasilitasi kontak, interaksi, kesadaran diri, belajar, ekspresi diri, komunikasi, dan pengembangan pribadi (Music Therapy Association Ontario)

Terapi musik dilakukan dengan gitar didampingi terapis

Terapi musik dilakukan dengan gitar didampingi terapis (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Penelitian Jaakko Erkkilä , Marko Punkanen , Jörg Fachner , Esa Ala-Ruona , Inga Pöntiö , Mari Tervaniemi, MaunoVanhalaChristian Gold menggambarkan bahwa  terapi musik individu dikombinasikan dengan perawatan standar menjadi  efektif untuk penanganan depresi di antara orang-orang usia kerja. Hasil penelitian ini bersama dengan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terapi musik dengan kualitas tertentu adalah perangkat tambahan yang berharga untuk praktik pengobatan yang ditetapkan. Dalam artikelnya yang berjudul “Individual music therapy for depression: randomised controlled trial” menunjukkan bahwa individu dengan perawatan standar disertai terapi musik memperlihatkan perbaikan yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang hanya melakukan perawatan standar.  (Erkkilla et al, 2011).

Proses terapi musik dapat bekerja untuk memulihkan, mempertahankan, dan  atau mempromosikan mental, fisik, emosional, dan  atau kesehatan rohani dari semua orang di seluruh jangka hidup dan berfungsi secara berkelanjutan (termasuk mereka yang memiliki gangguan berat dan melemahkan kognitif, neurologis, perilaku dan / atau gangguan emosi seperti yang digariskan dalam DSM-IV-TR) (Music Therapy Association Ontario).

Selain itu seperti yang kita ketahui bahwa anak kebutuhan khusus secara potensial memiliki keterbatasan kecerdasan verbal. sehingga terapi musik juga akan mendorong anak agar dapat mengembangkan kecerdasan musik sebagai bekal kehidupan di masa depan (sebagai guru atau pemain musik dengan bakat profesional).

Oleh karena itu, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan pelayanan terapi musik yang terbukti mampu memberikan pengaruh positif secara psikologis. Terapi musik berlangsung selama satu jam, dimulai dengan session meditasi memusatkan kosentrasi dengan hipnosis musik selama 15 menit. Setelah itu anak mulai berlatih musik selama 40 menit, latihan musik kemudian  diakhiri dengan mendengarkan dan menonton pertunjukan musik klasik selama 10 menit untuk memberikan inspirasi dan memotivasi bakat yang ada.

Dengan bantuan terapis dan ahli neuropsikologi, siswa terapi musik akan di tinjau perkembangan mentalnya melalui konseling CBT dan alat EEG. Harapan untuk memperdalam keterampilan bermusik dapat terwujud sekaligus sebagai pelepasan atau release emosi mereka.  Alat musik yang digunakan untuk terapi piano, key board atau gitar yang disediakan sebagai sarana terapi.

Tidak hanya sebagai sarana terapi, peserta  terapi musik yang berbakat akan dipersiapkan untuk ujian sekolah musik agar dapat  memperoleh bersertifikat dan melanjutkan ke jenjang sekolah musik yang lebih tinggi (Yamaha/YPM).

Terapi musik dilakukan dengan frekuensi seminggu dua kali dengan durasi satu jam dengan  biaya Rp.800.000,- per bulan atau frekuensi 1 kali seminggu dengan durasi satu jam dengan biaya Rp.500.000,- per bulan

Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut info terapi musik dapat menghubungi:

Muhbikun 085813985500

Agus 08561785391

Daftar Pustaka

Music Therapy Association Ontario. http://www.musictherapyontario.com/page-1090464. Diakses 28 Februari 2015.

American Music Therapy Association. http://www.musictherapy.org/about/musictherapy/. Diakses 28 Februari 2015

Jaakko Erkkilä, Marko Punkanen, Jörg Fachner, Esa Ala-Ruona, Inga Pöntiö, Mari Tervaniemi, MaunoVanhalaChristian Gold. 2011. Individual music therapy for depression: randomised controlled trial. The British Journal of Psychiatri. 31 Juli 2011. DOI: 10.1192/bjp.bp.110.085431