PELATIHAN OTAK TENGAH DENGAN NEUROFEEDBACK

Pelatihan otak tengah adalah terapi yang digunakan untuk membantu mengenali emosi individu dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosinya dengan baik.  Hal ini dilakukan melalui proses pelatihan keseimbangan antara perasaan dan pikiran dengan melatih konsentrasi individu. Individu yang mengalami masalah perkembangan otak tengah akan berdampak kepada perkembangan emosi. Pelatihan ini salah satunya dengan menggunakan alat neurofeedback.

Proses EEG

Pelatihan Neurofeedback untuk keseimbangan emosi dan pikiran atau pelatihan otak tengah (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Neurofeedback adalah sejenis biofeedback yang mengukur gelombang otak untuk menghasilkan sinyal yang bisa dijadikan umpan balik untuk mengajarkan pengaturan fungsi otak sendiri.

Biofeedback didefinisikan sebagai proses untuk mendapatkan kesadaran yang lebih besar terhadap banyak fungsi fisiologis terutama dengan menggunakan instrumen yang memberikan informasi tentang aktivitas sistem yang sama, dengan tujuan untuk dapat memanipulasinya sesuka hati. Beberapa proses yang bisa dikendalikan meliputi gelombang otak, nada otot, kelarutan kulit, denyut jantung dan persepsi nyeri. Pada pelatihan neurofeedback, informasi yang digunakan sebagai pelatihan adalah gelombang otak.

Neurofeedback biasanya diberikan dengan menggunakan video atau suara, dengan umpan balik positif untuk aktivitas otak yang diinginkan dan umpan balik negatif untuk aktivitas otak yang tidak diinginkan.

Salah satu alat yang digunakan dalam melakukan pelatihan neurofeedback adalah EEG (elektroensephalografi). EEG membaca aktivitas listrik otak, khususnya pikiran. Manusia memiliki sekitar 86 miliar neuron di otak yang mengendalikan seluruh tubuh Anda dan membangkitkan pikiran di kepala. Neuron ini menyala dengan frekuensi tertentu. Perangkat EEG membaca frekuensi ini dengan membaca aktivitas listrik yang diproduksi oleh neuron. Para ilmuwan telah sepakat untuk membagi frekuensi ini di pita frekuensi yang berbeda. Semua pita frekuensi telah dipelajari secara intensif dan dikaitkan dengan beberapa keadaan pikiran:

Gelombang Delta (1-3 Hz): Meditasi terdalam dan tidur nyenyak

Gelombang Theta (4-7 Hz): Tidur normal dan meditasi normal

Gelombang Alpha (8-12 Hz): Relaksasi / refleksi

Gelombang Beta (13-30 Hz): Pemikiran aktif, fokus, waspada tinggi, cemas

Gelombang Gamma (31-50 Hz): Sadar persepsi

Gelombang Otak

Gelombang otak yang digunakan dalam pengukuran EEG dan Neurofeedback (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada pelatihan neurofeedback di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, individu akan dihubungkan dengan perangkat EEG melalui Bluetooth dengan beberapa aplikasi untuk melatih fokus atau meditasi. Contohnya adalah pelatihan dimana individu harus “fokus” atau “bermeditasi” untuk mencapai suatu tujuan.  Pelatihan ini akan mengukur dan melatih mental individu dari gelombang otak yang diolah oleh aplikasi neurofeedback.

keseimbangan meditasi dan fokus

Pelatihan keseimbangan antara emosi dan pikiran dengan pengukuran pada gelombang otak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Bagaimana mengatur pikiran dan kondisi mental sehingga mampu berkonsentrasi tinggi secepat mungkin dan membuat diri menjadi relaks selama mungkin dalam keadaan sadar. Pelatihan yang diberikan seperti permainan memindahkan bola, atau mengangkat balon. Seperti yang dapat dilihat dari uraian di atas, meditasi dan fokus adalah gelombang otak yang berlawanan. Pelatihan ini melatih kemampuan individu dalam mempertahankan keseimbangan antara emosi dan pikirannya dalam keadaan sadar.  Hal ini terlihat bagaimana menyeimbangkan antara meditasi dan fokus pada saat yang bersamaan.

Oleh karena itu harus relatif tidak mudah bagi pengguna perangkat untuk menyimpang dari pelatihan yang diberikan dengan neurofeedback.  Hal ini juga akan melatih regulasi emosi dari pelatihan-pelatihan konsentrasi yang diberikan kepada individu sehingga regulasi perilakunya menjadi baik (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Intervensi Dalam Membentuk Neuroplastitas di Otak

 

WhatsApp Image 2017-12-04 at 20.29.31

Sesi foto bersama seminar ILDNS, Sabtu, 25 November 2017 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Neuroplastisitas dianggap sebagai perubahan dalam tingkatan neuron, dan bukan hanya perubahan perilaku.  Di sisi lain neuroplatisitas terjadi karena hasil dari pembelajaran (pengalaman dan pembentukan memori) dan perbaikan yang terjadi dari luka pada otak sehingga mempengaruhi besarnya sistem syaraf pusat (central nervous system / CNS).   Proses neuroplastisitas berkaitan dengan bagaimana sistem syaraf mengubah sistem encoding selama proses neruobiologi berlangsung.

Hal ini dijelaskan oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi., Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dalam seminar Introduction to Learning Disability & Neurospychology Seminars (ILDNS) dengan tema “Mekanisme Neuroplastisitas di Otak”, pada Sabtu, 25 November 2017.  Acara tersebut dihadiri oleh orang tua siswa terapi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, guru tingkatan TK, SD, dan SMP dari wilayah Jakarta Selatan.

WhatsApp Image 2017-12-04 at 20.29.32 (1)

Sesi pemaparan teori oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada acara ini dijelaskan bagaimana proses percabangan syaraf di otak bertumbuh pesat saat masa anak-anak.  Perbaikan atau proses neuroplastitas dapat terjadi karena adanya intervensi.  Sebagaimana digambarkan oleh Melani Arnaldi, dianalogikan bagaimana otak pemikir besar seperti Einstein memiliki ukuran otak yang melebihi orang normal.

Namun perlu diperhatikan juga bagi orang tua dan guru, bahwa pengelolaan emosi yang buruk dapat berdampak kepada neuroplastistas yang maladaptif.  Stress yang berkepanjangan sehingga menyebabkan depresi akan merubah struktur kimia dan biologi dari otak.  Hal ini terjadi bagaimana otak mengalami atropi atau penyusutan baik akibat fenomena depresi ini.  Hal ini berakibat pada perilaku yang memburuk pada individu yang depresi.

Terkait dengan intervensi, beberapa hal yang dapat meningkatkan neuroplastisitas di otak adalah dengan 1) Rangsangan motorik melalui brain gym, 2) metode pembelajaran, 3) intervensi metakognitif, dan 4) Pembelajaran social dengan lima aktivitas mayor.

WhatsApp Image 2017-12-04 at 20.29.31 (1)

Sesi pemutaran video tentang kesulitan belajar, otak, sistem syaraf, dan neuroplastisitas (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara ini juga diulas sekilas tentang kesulitan belajar, penggolongan, serta intervensi yang dapat dilakukan oleh Agus Syarifudin, S.Si., Research Assistant Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Digambarkan juga melalui sesi pemutaran video tentang otak, sistem syaraf, serta neuroplastisitas.  (Agus/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Perubahan Struktur Otak Karena Depresi -II

Perubahan Stuktur Otak Pasien Depresi dan MDD

Kondisi yang paling relevan dengan uraian di atas adalah studi pencitraan saraf (neuroimaging) secara struktural yang menunjukkan bahwa individu dengan MDD  mungkin memiliki hippocampus yang relatif kecil bahkan selama periode tingkat keparahan yang berkurang secara klinis atau remisi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kemunculan penyakit yang berulang atau bertahan lama, serta kurangnya pengobatan antidepresan diperkirakan berkontribusi pada penurunan volume hippocampus yang cepat, dimana pada gilirannya dapat menjelaskan masalah ingatan pada beberapa pasien, serta beberapa gejala kelainan lainnya. (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).  Hal ini dapat dibuktikan bahwa individu yang mengalami depresi fungsi memory yang lemah dibandingkan dengan individu normal.

Otak MDD

Gambar 2. Perubahan Struktur Otak Terkait Depresi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa terjadi perubahan stuktur otak karena MDD.  Beberapa bagian otak mengalami penyusutan volume pada individu dengan MDD dibandingkan dengan individu normal.  Bagian tersebut yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate, ventral striatum, amygdala, dan hippocampus.  Namun ada juga bagian dari otak yang mengalami kenaikan volume yaitu kelenjar pituitary.  Di sisi lain, berdasarkan penelitian terjadi kenaikan dan penurunan aktivitas bagian otak.  Bagian otak yang mengalami kenaikan aktivitas yaitu amygdala dan orbitofrontal cortex.  Sedankan bagian otak lainnya yang mengalami penurunan aktivitas yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate,  dan ventral striatum.

Pada gambar 2 dapat dijelaskan yaitu (A) Stimulasi magnetik transkranial prefrontal dorsolateral cortex dan (B) stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate telah terbukti memiliki efek antidepresan pada beberapa pasien. Dasar pemikiran untuk stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate atau ventral striatum sebagian besar didasarkan pada temuan penyimpangan fungsional nuklear di wilayah ini. (C) Stimulasi saraf Vagus mungkin memiliki sifat antidepresan melalui pengaruhnya terhadap lokus koeruleus, area di otak berasal dari mana neuron norepinephrine berasal (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Pasien mungkin juga mengalami kelainan volumetrik di daerah otak subkortikal lainnya, termasuk amygdala dan ventral striatum, dan di daerah korteks, termasuk anterior cingulate cortex,  orbitofrontal cortex dan prefrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kelainan otak struktural dan fungsional pada pasien dengan gangguan MDD, dan lokasi tindakan teknik neurostimulasi baru dengan potensi antidepresan. Kelainan struktur pada otak pasien dengan gangguan MDD  telah diamati di daerah kortikal dan subkorteks. Bagian anterior cingulate cortex (ACC), terutama subgenual cingulate, dapat menunjukkan pengurangan volume (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)..

ACC terletak di bagian depan otak berupa bagian melengkung yang lebih curam dari korteks cingulate, struktur di otak depan yang membentuk kerah di sekitar corpus callosum. Bagian ini terbagi menjadi dua area yang berbeda yang diyakini memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas. Dorsal anterior cingulate cortex (dACC), sering dianggap sebagai divisi “kognisi” atau berpikir, terlibat dalam berbagai fungsi eksekutif, seperti alokasi perhatian, kesalahan dan deteksi keterbaruan, modulasi working memory, kontrol berpikir, konflik respon, dan pemilihan respons. Ventral anterior cingulate cortex (vACC), yang sering dianggap sebagai divisi “emosi”, dianggap terlibat dalam menengahi kecemasan, ketakutan, agresi, kemarahan, empati, dan kesedihan; dalam merasakan sakit fisik dan psikologis; dan dalam mengatur fungsi otonom (misal, tekanan darah, detak jantung, respirasi). Meskipun mekanisme yang tepat dimana proses ini terjadi di ACC tetap tidak diketahui, para periset telah berteori bahwa hubungan timbal balik antara dACC dan vACC membantu menjaga keseimbangan antara pemrosesan kognitif dan emosional sehingga memungkinkan pengaturan sendiri (VandenBos, 2015).  Oleh karena itu tidak mengherankan jika individu dengan gangguan depresi mengalami perubahan emosi yang ekstrem dan tidak terkendalinya fungsi kerja berpikir.

Perubahan struktur otak dari individu dengan MDD juga telah diamati di subregional lain dari prefrontal cortex dan juga di orbitofrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Prefrontal cortex adalah bagian paling depan (depan) dari cerebrall cortex pada setiap frontal lobe dari otak.  Derah ini dibagi menjadi daerah dorsolateral dan daerah orbitofrontalPrefrontal cortex berfungsi dalam perhatian, perencanaan, ingatan kerja, dan ekspresi emosi dan perilaku sosial yang tepat; Perkembangannya pada manusia sejajar dengan peningkatan kontrol berpikir dan penghambatan perilaku saat individu tumbuh menjadi dewasa. Sebaliknya, kerusakan pada korteks prefrontal menyebabkan gangguan emosional, motorik, dan kognitif. Juga disebut area hubungan frontal (VandenBos, 2015).

Selain itu perubahan struktur otak individu depresi dapat diamati pada daerah subkortikal dimana pengurangan volume telah diamati meliputi amygdala, hippocampus dan striatum ventral (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Amygdala memliki peran penting dalam ingatan, emosi, dan persepsi terhadap ancaman dan belajar dari rasa takut. Sedangkan hippocampus berperan dalam memori dan pembaljaran (VandenBos, 2015).  .

Hal ini juga dapat bertahan selama fase remisi atau berkurangnya tingkat keparahan yang terjadi dimana hal ini mungkin membantu menjelaskan mengapa pasien dalam fase remisi terus bereaksi berlebihan terhadap rangsangan yang mengancam.Reaktivitas kognitif atau respon berpikir yang terjadi ini berkontribusi pada risiko kekambuhan di masa depan (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kertekaitan Fungsi Psikologis dan Fungsi Biologis Otak

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa  gangguan psikologis yang berkepanjangan yaitu MDD dapat merubah struktur biologis otak atau sturktur neurobiologi.  Hal ini sudah tentu juga akan mempengaruhi fungsi psikologis dari otak.  Salah satu fungsi psikologis yang terganggu adalah fungsi berpikir atau kogntif.  Sering kali orang dengan MDD tidak dapat berpikir jernih dan sesuai dengan realita atau fakta sehingga muncul delusi dan halusinasi.  Oleh karena fungsi berpikirnya terganggu, maka emosi dan perilakunya pun menjadi buruk.  Akibatnya individu dengan MDD tidak mampu berfungsi secara sosial dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Seperti digambarkan di atas, hal ini terjadi karena otak tidak mampu bekerja secara optimal.  Gangguan neurobiologis yang terjadi berdampak terhadap sekresi atau produksi neurotransmitter yang berpengaruh kepada fungsi berpikir atau kognitif.  Sinyal-sinyal listirk pada syaraf di otak tidak mampu berjalan dengan normal sehingga berpengaruh terhadap proses pengolahan informasi atau fungsi psikologis ini.  Inilah alasan mengapa individu MDD tidak mampu berpikir layaknya individu normal.

Oleh karena itu pada pasien MDD, untuk mengembalikan fungsi psikologinya kembali normal, salah satunya  yaitu fungsi berpikir atau kognitif maka perlu dilakukan terapi psikologi dan juga terapi obat.  Kombinasi obat dan terapi psikologi dilakukan karena sudah terjadi perubahan pada struktur otak atau terjadinya gangguan pada fungsi biologis.  Di sisi lain, gangguan psikologis yang terjadi tetap harus diperbaiki melalui pelatihan atau terapi sehigga fungsinya terperbaiki.

Pemberian antidepresan sebagai terapi obat perlu diawasi dengan ketat agar efektif bagi pasien.  Karena pemberian antidepresan juga memiliki efek samping yang buruk jika digunakan dalam jangka panjang.   Hal ini perlu diimbangi dengan terapi psikologi, yaitu dengan melatih fungsi berpikir dari individu dengan MDD.  Salah satu terapi psikologi atau psikoterapi yang dilakukan adalah dengan CBT (Cognitive Behavior Therapy).  Melalui CBT, individu dengan MDD dilatih untuk menyelaraskan emosi, pikiran, dan perilaku negatif yang terjadi menjadi positif.  Proses ini dilakukan minimal dengan 12 sesi  sehingga terjadi perubahan yang signifikan dan menetap (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

VandenBos, G.R. [Ed]. (2015). APA dictionary of psychology. 2nd eds. Washington, DC: APA.

aan het Rot, Marije. Mathew, S.J., & Charney, D.S. (2009). Neurobiological mechanisms in major depressive disorder. CMAJ, February, 3, 2009, 180(3).

AUTISME: CIRI DAN GANGGUAN PADA FUNGSI KOGNITIF SOSIAL

Kanner (1943) melihat gangguan autisme berupa perilaku atau fenotip yang lebih variatif dari gangguan dalam komunikasi sosial dan atau kesulitan dalam perilaku (dalam Volkmar, Lord, Bailey, Schultz, & Klin, 2004).

Autisme adalah gangguan yang terjadi dimana mengalami kegagalan dalam interkasi sosial dan komunikasi.  Hal ini berkaitan dengan kemampuan dalam kognisi atau berpikir secara sosial dimana kurangnya kesadaran diri terhadap diri sendiri dan juga kepada orang di sekitarnya (Frith & Frith, 2007).

Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa individu dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) menunjukkan karakteristik dan awal munculnya buruknya dalam penggunaan informasi visual untuk memahami maksud dan keadaan mental orang lain, serta mengkoordinasikan perhatian secara bersamaan.

Di sisi lain, individu dengan ASD memiliki hambatan dalam kemampuan sosial ini.  Mereka kurang tanggap terhadap sinyal sosial yang berasal dari lingkungan.  Sinyal ini memungkinkan manusia untuk belajar tentang dunia dari orang lain, untuk belajar tentang orang lain, dan untuk menciptakan dunia sosial secara bersama. Sinyal sosial dapat diproses secara otomatis oleh penerima dan memungkinkan secara tidak sadar yang dipancarkan oleh pengirim, yaitu orang lain. Sinyal ini non verbal dan bertanggung jawab untuk pembelajaran sosial di tahun pertama kehidupan. Sinyal sosial juga bisa diproses secara sadar dan ini memungkinkan pemrosesan otomatis dimodulasi dan atau ditolak. Bukti untuk proses sosial tingkat tinggi ini sangatlah banyak sejak usia sekitar 18 bulan untuk individu normal (Frith & Frith, 2007).  Oleh karena itu, deteksi anak dengan autisme dapat dilakukan sejak dini dimana sang anak kesulitan dalam menangkap sinyal sosial dari orang lain.

Ciri Anak Dengan Autisme

Terkait dengan ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan fungsi sosial yang terjadi pada anak dengan autisme, berikut ini adalah ciri atau pendektian anak dengan austime

Ciri Autism Spectrum Disorder

  1. Sebanyak enam (atau lebih) item dari (1), (2), dan (3), dengan paling sedikit dua item dari point (1), dan masing-masing satu item dari point (2) dan (3):

(1) Penurunan kualitas dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua hal berikut:

(A) gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(B) kegagalan untuk mengembangkan hubungan dengan rekan sebaya yang sesuai dengan  tingkat perkembangan

(C) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati)

(D) kurangnya timbal balik sosial atau emosional

(2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi sebagaimana terwujud oleh paling sedikit salah satu dari berikut ini:

(A) Keterlambatan atau kurangnya secara keseluruhan dalam pengembangan bahasa lisan (tidak disertai upaya untuk mengkompensasi melalui mode komunikasi alternatif seperti isyarat atau mime).

(B) Pada individu dengan suara yang memadai, gangguan yang ditandai dalam kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain.

(C) Penggunaan bahasa-bahasa atau bahasa istimewa yang khas dan berulang (repetitive)

(D) Kurangnya kemampuan dalam permainan berkaitan dengan kepercayaan yang bervariasi dan spontan atau permainan imitatif sosial yang sesuai dengan tingkat perkembangan.

(3) Membatasi pola perilaku, minat, dan kegiatan yang berulang serta khas, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya salah satu dari berikut ini:

(A) Meliputi keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang khas  dan terbatas  dimana  tidak normal, baik dalam intensitas maupun fokus perhatian.

(B) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual yang sifatnya non fungsional tertentu

(C) Perilaku motorik yang selalu berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(D) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada setidaknya satu dari area berikut, dengan onset sebelum 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa seperti yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) bermain simbolis atau imajinatif.

C. Gangguan ini tidak diperhitungkan dengan baik oleh Rett’s Disorder atau gangguan disintegratif masa kanak-kanak.

American Psychiatric Association. (DSM-IV-TR). Washington, DC, 2000:75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Ciri-Ciri Asperger Syndrome

A. Kerusakan kualitatif dalam interaksi sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh paling sedikit dua dari hal berikut ini:

(1) Gangguan yang ditandai dalam penggunaan beberapa perilaku nonverbal seperti tatapan mata-mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh untuk mengatur interaksi sosial.

(2) Kegagalan untuk mengembangkan hubungan sebaya yang sesuai dengan tingkat perkembangan

(3) Kurangnya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau prestasi dengan orang lain (misalnya karena kurangnya menunjukkan, membawa, atau menunjukkan objek yang diminati orang lain)

(4) Kurangnya timbal balik sosial atau emosional

B. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan memiliki ciri khusus, seperti yang ditunjukkan sekurang-kurangnya oleh 1 hal berikut:

(1) Meliputi kesibukan dengan satu atau beberapa pola kepentingan yang khusus dan pembatasan yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokus.

(2) Ketidakpatuhan terhadap rutinitas atau ritual nonfungsional tertentu

(3) Gaya motorik yang khas dan berulang (misalnya gerakan tangan atau jari mengepakkan atau memutar, atau gerakan tubuh utuh yang kompleks)

(4) Keasyikan yang terus-menerus dengan bagian-bagian benda

C. Gangguan ini menyebabkan kerusakan klinis yang signifikan di area kerja sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.

D. Tidak ada penundaan umum yang signifikan secara klinis dalam bahasa (misalnya kata tunggal yang digunakan pada usia 2 tahun, frase komunikatif yang digunakan pada usia 3 tahun)

E. Tidak ada keterlambatan perkembangan kognitif yang signifikan secara klinis atau dalam pengembangan keterampilan membantu diri yang sesuai dengan usia, perilaku adaptif (selain dalam hal interaksi sosial), dan keingintahuan tentang lingkungan di masa kecil.

F. Kriteria tidak ditemukan pada Gangguan Perkembangan Pervasif atau Skizofrenia spesifik lainnya.

American Psychiatric Association. DSM-IV-TR. Washington, DC,  2000, hal. 75 (dalam Johnson, Myers,  &  Council on Children With Disabilities, 2007).

Autisme Dan Fungsi Otak Sosial

Berdasarkan dari uraian di atas terkait dengan ciri-ciri austime, maka jelaslah adanya gangguan dari fungsi kerja otak.  Secara umum peneliti melihat adanya gangguan kognisi atau berpikir secara fungsi sosial yang dialami oleh individu dengan autisme.  Hal ini ditunjukkan dengan ketidakmampuan individu dengan auitisem dalam menafsirkan sinyal sosial dari lingkungan.

Berikut ini adalah bagian otak yang berfungsi dalam kognitif sosial yaitu mengolah informasi sosial.  Bagian otak tersebut, yaitu medial prefrontal cortex (MPFC), Anterior Cingulate Cortex (ACC), Anterior Insula (AI), Inferior Frontal Gyrus (IFG), Inter Parietal Sulcus (IPS), Amygdala, Temporo-Parietal Junction (TPJ), posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) (Frith & Frith, 2007).

Otak Sosial

Gambar Bagian Otak dan Fungsi Kognitif Sosial (Frith & Frith, 2007).

Berdasarkan gambar di atas bagian otak dan fungsi yang terkait dengan kognisi sosial yaitu:

  1. Amigdala adalah struktur kompleks yang terbenam di lobus temporal anterior terlibat dalam menafsirkan nilai-nilai sosial, misalnya, kepercayaan terhadap objek seperti
  2. Medial Prefrontal Cotex (MPFC) secara konsisten diaktifkan saat memikirkan keadaan mental diri dan orang lain.
  3. Aktivitas di Anterior Cingulate Cortex (ACC) dan Anterior Insula (AI), yang berada di bawah bagian antara lobus frontal dan temporal, dikaitkan dengan pengalaman emosi seperti rasa sakit dan jijik pada diri sendiri dan orang lain.
  4. Aktivitas pada Inferios Frontal Gyrus (IFG) dan Intra Parietal Sulcus (IPS) terjadi sebagai respons terhadap tindakan eksekusi dan observasi tindakan.
  5. Aktivitas di Temporo Parietal Junction (TPJ) nampaknya berhubungan dengan pengambilan perspektif, baik spasial dan mental, dan karenanya dengan pemahaman kepercayaan yang salah.
  6. Aktivitas di posterios Superior Temporal Sulcus (pSTS) ditimbulkan oleh observasi aksi dan saat membaca maksud dari tindakan (Frith & Frith, 2007).

Oleh karena itu intervensi anak autisme dilakukan sebaiknya sejak usia dini dimana tumbuh kembang biologis, khususnya otak terjadi sangat pesat.  Pelatihan yang dilakukan adalah dengan merangsang sensori indera agar peka terhadap sinyal sosial serta bagaimana  mengaktifkan fungsi kerja otak sosial dalam pengolahan sinyal sosial dari lingkungan.  Terapi yang dapat dilakukan untuk intervensi anak dengan autisme adalah fisioterapi sensori motorik, terapi sensori integrasi, dan terapi metakognitif. Terapi yang terintegrasi dan menyeluruh ini adalah kunci dari keberhasilan terhadap perbaikan dan kemajuan tumbuh kembang pada anak dengan autisme.

 

Referensi

Frith, C.D. & Frith, U.  Social Cognition in Humans. Current Biology, 17(16): R724–R732, DOI 10.1016/j.cub.2007.05.068

Johnson, C.P. Myers, S.M. &  Council on Children With Disabilities.(2007). Identification and Evaluation of Children With Autism Spectrum Disorders.  PEDIATRICS, 120(5): 1183-1215.

Volkmar, F.R., Lord, C. Bailey, A. Schultz, R.T., & Klin, A. (2004). Autism and pervasive developmental disorders. Journal of Child Psychology and Psychiatry 45(1):135–170.

AUTISME DAN GANGGUAN PERKEMBANGAN NEUROBIOLOGI OTAK

Sensory Processing Disorder (SPD) pada anak bawah tiga tahun adalah fenomena yang akan merujuk kepada berbagai gangguan.  Salah satu gangguan yang bermuara dari SPD adalah gangguan spektrum autis (Autism Spectrum Disorder / ASD).  Di sisi lain, kelompok ASD yang masih mampu belajar namun dimasukkan kepada dalam gangguan kesulitan belajar adalah PDD-NOS dan ASPERGER.

Prevalensi individu autis tidak dapat dianggap remeh.  Bahkan fenomena ini cenderung menjadi epidemi.  UNESCO menyebutkan pada tahun 2011 lalu memperkirakan bahwa ada 35 juta orang dengan autisme di dunia. Ini berarti rata-rata ada enam orang dengan autis per 1000 orang dari populasi dunia. Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 pernah menduga jumlah anak autis di Indonesia sekitar 112 ribu dengan rentang 5-19 tahun. Angka ini keluar berdasarkan hitungan prevalensi autis sebesar 1,68 per 1000 anak di bawah 15 tahun. Dengan jumlah anak usia 5-19 tahun di Indonesia sejumlah sekitar 66 juta menurut Badan Pusat Statistik pada 2010, didapatlah angka 112 ribu tersebut (Priherdityo, 2016).

Bagaimana autisme dan kaitannya dengan gangguan yang terjadi pada otak kini telah diungkap oleh para peneliti.  Salah satu penelitian yang menceritakan gangguan pada otak terkait dengan autisme dilakukan oleh Emanuel DiCicco-Bloom, Catherine Lord,  Lonnie Zwaigenbaum,  Eric Courchesne,  Stephen R. Dager,  Christoph Schmitz,  Robert T. Schultz,  Jacqueline Crawley, dan Larry J. Young di tahun 2006 yang berjudul “The Developmental Neurobiology of Autism Spectrum Disorder” dan diterbitkan di The Journal of Neuroscience.

Menurut DiCicco-Bloom, et al. (2006) gangguan spektrum autisme (ASD) adalah salah satu gangguan paling parah pada masa kanak-kanak dalam hal prevalensi, morbiditas, hasil, dampak pada keluarga, dan biaya kepada masyarakat.  Lebih lanjut penelitian DiCicco-Bloom  et al. Melihat ASD sekarang diakui sebagai gangguan perkembangan otak prenatal (pada masa kehamilan) dan pasca kelahiran.

Selama masa kanak-kanak, volume otak dengan ASD menunjukkan pembesaran abnormal, namun perbedaan ini sedikit berkurang pada masa kanak-kanak atau masa remaja. Pola ini baru saja terdeteksi baru-baru ini karena sebagian besar sejarah 70 tahunnya, kelainan otak ASD dipandang statis. Dengan demikian, kemungkinan kelainan pertumbuhan usia tergantung tidak dihargai (Courchesne, 2004 dalam DiCicco-Bloom et. al., 2006).

Penelitian DiCicco-Bloom et al., (2006) menyebutkan adanya kelainan pertumbuhan kompleks dari cerebellum, cerebrum, dan amigdala dan kemungkinan perbedaan hippocampus. Perbedaan usia terkait dalam pertumbuhan wilayah otak tertentu juga terlihat dalam meta-analisis.

Dijelaskan lebih lanjut oleh DiCicco-Bloom  et al., (2006) ukuran otak telah didefinisikan dengan menggunakan lingkar kepala, indikator volume yang dapat diandalkan terutama pada masa kanak-kanak; Perhitungan volumetrik menggunakan magnetic resonance imaging (MRI); dan bobot otak postmortem (setelah kematian).

Saat lahir, lingkar kepala rata-rata pada pasien ASD kira-kira seperti individu normal. Namun, pada usia 3-4 tahun, ukuran otak di ASD melebihi rata-rata normal sebesar 10% berdasarkan studi MRI in vivo dan meta-analisis berat otak postmortem dan morfometri MRI (Courchesne et al., 2001; Sparks et al., 2001; Sparks et al., ., 2002; Redcay dan Courchesne, 2005 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

DiCicco-Bloom et al., (2006) menjelaskan bahwa pembesaran otak dari individu ASD, dimana seseorang mungkin telah memperkirakan adanya peningkatan penanda neuronal yang disebabkan oleh kepadatan neuronal atau synaptic yang meningkat. Namun, penanda ini tidak seperti pada individu normal.  Pada individu ASD indikator tersebut menunjukkan adanya penurunan pada anak berusia 3 sampai 4 tahun (Friedman et al., 2003 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

Kombinasi penanda molekul yang berubah dan peningkatan materi putih dan abu-abu dapat mencerminkan perubahan pada:

(1) jumlah dan ukuran neuron dan glia;

(2) penjabaran akson, dendrit dan sinapsis;

(3) Pemangkasan porodendritik;

(4) kematian sel terprogram;

(5) produksi kolom kortikal;

(6) mielinasi.

Perbedaan atau gangguan pada biologis otak dari individu dengan ASD tentu berpengaruh terhadap fungsi kerja otak ataupun psikologisnya. Tercatat beberapa kemampuan yang terganggu antara lain bahasa, perhatian, komunikasi, dan interaksi sosial. Banyak penelitian pemetaan otak dengan fMRI yang berfokus interaksi sosial. Penelitian fMRI paling awal difokuskan pada persepsi sosial, seperti pengenalan orang melalui wajah. Karya yang lebih baru telah meneliti persepsi ekspresi wajah, perhatian bersama, empati, dan kognisi sosial.  Hal ini di dapat dijelaskan dari gambar di bawah ini

ASD

Keterangan gambar.

Fungsional kelainan MRI diamati pada ASD. A,  MRI koroner ini menunjukkan belahan otak di atas, otak kecil di bawah, dan lingkaran di atas gyrus fusiform dari lobus temporal. Contohnya menggambarkan temuan hipoaktivasi fusiform gyrus yang sering dihadapi pada pria remaja dengan ASD (kanan) dibandingkan dengan usia dan IQ yang sesuai dengan kontrol sehat pria (kiri). Sinyal merah / kuning menunjukkan daerah otak yang secara signifikan lebih aktif selama persepsi wajah; Sinyal di daerah pertunjukan biru lebih aktif selama persepsi objek nonface. Perhatikan kurangnya aktivasi wajah pada anak laki-laki dengan ASD tapi rata-rata tingkat aktivasi objek bukan wajah.

B, diagram skematik otak dari orientasi lateral dan medial yang menggambarkan luas area otak yang ditemukan secara hypoactive di ASD selama berbagai tugas kognitif dan persepsi yang secara eksplisit bersifat sosial. Beberapa bukti menunjukkan bahwa daerah-daerah ini terkait untuk membentuk jaringan “otak sosial” (DiCicco-Bloom et al., 2006).

Keterangan

IFG, [gyrus frontal inferior]  dimana hipoakf saat peniruan ekspresi wajah;

PSTS, [Posterior sulcus temporal superior] dimana hipoaktif atau aktivitasnya rendah selama persepsi ekspresi wajah dan tatapan mata);

SFG [superior frontal gyrus] dimana hipoaktif atau aktivitasnya rendah selama teori tugas pikiran, yaitu, ketika mengambil perspektif orang lain;

A [amigdala]  dimana hipoaktif atau rendah aktivitasnya selama berbagai tugas sosial;

FG [fusiform gyrus] juga dikenal sebagai area wajah fusiform dan hipoaktif atau rendah aktivitasnya selama persepsi identitas pribadi (Schultz, 2005; Schultz and Robins, 2005 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

Studi ini menunjukkan bahwa defisit keterampilan ASD disertai oleh berkurangnya aktivitas saraf di daerah yang biasanya mengatur domain fungsional spesifik. Sebagai contoh, defisit dalam perhatian bersama dikaitkan dengan penurunan aktivitas pada sulkus temporal superior posterior (Pelphrey et al., 2005 DiCicco-Bloom et al., 2006), sedangkan defisit dalam persepsi sosial dan atau keterlibatan emosional serta gairah dikaitkan dengan aktivitas yang berkurang pada amigdala (Baron- Cohen et al., 1999; Critchley et al., 2000; Pierce Et al., 2001 DiCicco-Bloom et al., 2006).

Dari uraian tersebut jelas bahwa gangguan biologis pada otak diantaranya pada cerebellum dapat mengarah kepada ASD dimana terjadi gangguan perilaku dan kognitif (fungsi berpikir).  Hal ini juga berpengaruh pada perkembangan otak di awal tumbuh kembang anak khususnya pada otak depan dan cerebral cortex yang dapat diketahui melalui pencitraan otak khususnya fMRI. (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Referensi

DiCicco-Bloom, E., E. Lord, L. Zwaigenbaum, E. Courchesne, S.R. Dager, C. Schmitz, R.T. Schultz, J. Crawley, & L.J. Young. (2006). The developmental neurobiology of autism spectrum disorder. The Journal of Neuroscience, 26(26):6897– 6906

Priherdityo, E. (2016). Indonesia Masih ‘Gelap’ Tentang Autisme. CNN INDONESIA, Kamis, 07/04/2016. Diakses 18 Juli 2017, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160407160237-255-122409/indonesia-masih-gelap-tentang-autisme/

MEMORI DAN KERJA OTAK

Sering kali kita teringat peristiwa masa lalu saat duduk santai.  Kenangan atau informasi tersebut dapat dengan mudah kita ingat kembali, namun ada juga yang mudah kita lupakan sehingga sulit untuk dipanggil kembali.  Begitu pula dengan anak saat melakukan ujian.  Ada yang mudah mengingat dan ada juga yang sulit meski sudah di latih berulang-ulang.  Bagaimana ini terjadi?  Inilah kerja dari memori yang berproses di otak.

Memori harus dianggap sebagai kumpulan kemampuan yang didukung oleh seperangkat otak dan sistem kognitif yang beroperasi secara kooperatif.  Setiap sistem dari bagian otak membuat kontribusi fungsional yang berbeda.

Memori adalah kelompok mekanisme atau proses yang pengalaman membentuk kita, mengubah otak kita dan perilaku kita. Ada pepatah dimana “Hidup adalah memori kecuali untuk saat ini yang berlalu begitu cepat sehingga kita tidak dapat menangkapnya ketika berlalu.”

Oleh karena itu memori bertujuan untuk memegang rincian kehidupan sehari-hari, seperti mengingat untuk mengambil kunci yang kita miliki, baju atau mantel, atau makan siang, mengingat di mana kami parkir mobil, mengingat dijadwalkan janji, juga untuk menyimpan informasi dalam pikiran untuk hanya dalam waktu singkat.

Kerja Memori

Secara umum informasi dalam memori dilakukan proses encoding, consolidation dan storage, serta retrieval.  Untuk memahami memori, dengan tahapan proses yang berbeda yang terlibat dalam memori  yaitu kenangan harus diciptakan, kenangan harus disimpan / dipertahankan lebih lama, kenangan dapat dipanggil kembali.

Defisit dalam memori terlihat di beberapa penundaan yang panjang setelah belajar dan dapat mencerminkan penurunan dalam tahap memori ini. Penurunan encoding awal kenangan bisa mencegah informasi  untuk diproses pada tahapan awal.  Penurunan dalam storage (penyimpanan), maintainance (pemeliharaan), atau consolidation (konsolidasi) kenangan dapat menyebabkan informasi meluruh secara abnormal dan cepat seiring waktu.

memory

Diagram Memori dan Kerja Otak. Diolah dari Banich & Compton (2011)

Bagian Otak Terkait Kerja Memori

Kerja memori tidak spesifik hanya di satu bagian otak saja.  Seperti tampak pada gambar di atas, beberapa bagian otak bekerja sama dalam pemerosesan informasi ataupun memori.  Terkait pemerosesan memori, bagian otak tersebut adalah Parietal kotek bagian kiri, Basal ganglia, amigdala, anterior temporal, prefrontal cortex, dan hippocampus.  Bagian-bagian tersebut saling bekerja sama dan dalam waktu yang bersamaan saat mengolah informasi.  Kerja mereka tidak terpisahkan dan saling melengkapi.

Kerja otak terkait memori dapat dipelajari ketika otak mengalami kerusakan atau lesi.  Salah satu bagian otak terkait fungsi utama memori adalah hippocampus.  Kerusakan unilateral pada sistem hippocampus dapat menghasilkan gangguan memori pada materi khusus. Kerusakan kiri belahan, memori selektif terganggu untuk materi verbal, sedangkan setelah kerusakan belahan kanan, memori terganggu untuk materi nonverbal.

Kerja Memori, Otak, dan Terapi Kesulitan Belajar

Dari uraian di atas jelas bahwa kerja memori tidak terjadi dengan sendirinya.  Perlu adanya pelatihan sehingga proses pengolahan informasi dalam memori di otak menjadi lebih baik.  Terlebih kepada individu yang mengalami hambatan dalam pemerosesan informasi seperti pada anak kesulitan belajar.

Pemahaman kerja otak terkait memori penting dalam proses pembelajaran, pelatihan, dan juga terapi yang dilakukan pada anak kesulitan belajar.  Berdasarkan informasi tersebut psikolog, atau terapis akan melihat fungsi apa yang terganggu dalam memori dan dihubungkan dengan fungsi kerja pada bagian otak terkait.

Pemahaman neuropsikologi ini akan melihat sisi fungsi psikologis dan fungsi faal organ otak terkait dengan perilaku yang ditampilkan sehingga dapat memecahan permasalahan yang terjadi.  Dari data tersebut akan dirancang proses pembelajaran, pelatihan, ataupun proses terapi sehingga masalah yang dialami individu menjadi terselesaikan (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

Banich, M.T. & R.J. Compton.(2011). Cognitive neuroscience. 3rd eds. Wadsworth: cengage learning

 

Menelaah Otak Saat Pikiran Tergantikan

Fungsi kerja otak adalah berpikir.  Bagaimana dia menghasilkan respon atas perintah atau pun kebebasan memilih adalah sebuah rangkaian proses dari berpikir.  Produk atau hasil akhir berpikir adalah tindakan.

Bila individu berpikir atau tidak, dapat dilihat dari tindakan atau perilakunya, apakah sesuai perintah atau tidak. Ini adalah bentuk suatu keterpaksaan.  Disisi lain, individu juga bebas memilih.  Dia memiliki inisiatif, yaitu kebebasan memilih suatu tindakan.

Fungsi kerja otak adalah reaksi dari jutaan syaraf yang membentuk suatu mekanisme.  Mereka terhubungkan satu dengan yang lain dalam bentuk impuls listrik.  Reaksi kimia neurontransmitter dan kejutan listrik yang terjadi di otak, membentuk suatu rangkaian reaksi sehingga terbentuk tindakan atau perilaku.  Inilah kerja dari berpikir.

Mekanisme syaraf ini menekankan pemilihan dan awalan dari tindakan sukarela dalam ketidakhadiran perintah dari luar yang tidak dimengerti.  Sebuah proses dari berpikir.  Mekanisme ini biasanya diteliti menggunakan paradigma bahwa perbedaan pilihan gerakan merupakan diciptakan sendiri oleh partisipan dari penelitian pada setiap uji coba.

Fleming, Mars, Gladwin, dan Haggard, meniliti bagaimana ketika pikiran berubah.  Apa yang terjadi di otak.  Mekanisme apa yang terjadi secara neurologi. Mereka melihat “Kebebasan Memillih” ini dibandingkan dengan “Pilihan Terpaksa”, dimana sebuah  rangsangan dari subjek tercatat dimana tindakan untuk membuat pada setiap uji coba.

Berikut adalah rangkaian percobaan dan hasil pencitraan otak dari penelitian mereka.

action selection

Scalp Distribution

S1-locked

 

Preparation Potential

Penelitian Fleming, Mars, Gladwin, dan Haggard, ini berjudul When the brain changes its mind: flexibility of action selection in instructed and free choices, dipublikasikan dalam Cerebral Cortex, 11 February 2009.

Peneliti tersebut memperkenalkan paradigma baru untuk meneliti bentuk dari tindakan terpaksa.  Hal ini dilakukan dengan mengukur teraktifkannya proses-proses otak.  Fungsi kerja ini diawali dengan sebuah instruksi,  baik itu berbalik atau mempertahankan kebebasan dan pilihan terpaksa  dalam periode sebelum sebuah sinyal “go”.

Perintah tak terduga untuk merubah sebuah rencana tanggapan  memiliki perbedaan efek atas pilihan kebebasan dan terpaksa.  Pada percobaan terpaksa, perubahan petunjuk membangkitkan sebuah P300 yang lebih besar dari pada tidak ada perubahan petunjuk.

Hal ini menyebabkan kepada sebuah interaksi signifikan dari pilihan dan perubahan kondisi.  Percobaan Pilihan-bebas menampilkan sebuah kecenderungan melalui pola yang bertolak belakang.

Hal ini menghasilkan usulan bahwa ada perbedaan antara memperbaharui dari tindakan atas pilihan terpaksa dan bebas.

Peneliti ini mengusulkan sebuah kerangka teoritis untuk tindakan yang terbentuk dari dalam dimana mewakili dari tindakan pilihan yang masih tersisa hingga tahap akhir dalam persiapan motorik.  Kerangka teori ini menekankan tingginya modalitas dari tindakan sukarela.

 

Referensi

S.M., Fleming, R.B. Mars, & T.E. Gladwin, and P. Haggard. When the Brain Changes Its Mind: Flexibility of Action Selection in Instructed and Free Choices.  Cerebral Cortex,February 11, 2009 doi:10.1093/cercor/bhn252