Assessment Anak Dengan Autisme di Pusat Layanan Autis Pemerintah Daerah Provinsi Riau

WhatsApp Image 2018-01-10 at 13.06.10

Pengukuran neuropsikologi dengan EEG dari anak dengan autisme di PLA Provinsi Riau (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Pemeriksaan anak dengan autis, khususnya pada usia dini adalah penting.  Hal ini sebagai potret kondisi anak untuk menentukan jenis terapi apa saja yang akan diberikan.  Pemeriksaan tersebut sebaiknya dilakukan secara menyeluruh atau full assessment untuk mengetahui sumber gangguan dan masalah yang dihadapi anak.   Hal ini karena berkaitan dengan terapi yang sedang dan akan dilakukan seperti terapi behavioral, medis, nutrisi, dan pharmakologi.

 

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu bekerjasama dengan Pusat Layanan Autis, Suku Dinas Pendidikan, Pemerintah Daerah Provinsi Riau menyelenggarakan assessment anak dengan autisme dalam perspektif neuropsikologi.  Pemeriksaan ini dilakukan pada 10 – 14 Januari 2018 di Pusat Layanan Autis (PLA) Riau, yang beralamat di Jl. Bakti I, Tengkerang Baru, Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Riau.   Pengetesan ini dilakukan kepada 40 siswa PLA Riau.

WhatsApp Image 2018-01-15 at 20.13.14 (1)

Pengukuran fungsi psikologi anak dengan autisme di PLA Provinsi Riau (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Pengetesan dilakukan untuk melihat fungsi neuropsikologi, yaitu fungsi psikologis dan fungsi neurobiology.  Pengukuran fungsi psikologis dilakukan untuk melihat kemampuan anak dalam hal  kecerdasan, self-awareness, theory of mind, pemahaman, fleksibilitas berpikir dan lain-lain.  Pengukuran fungsi psikologis ini dilakukan dengan alat ukur psikologi serta skala perilaku yang diisi oleh orang tua, terapis, dan psikolog.  Fungsi neuobiologi diukur melalui alat elektroensefalografi (EEG) untuk melihat aktivitas gelombang otak betha, tetha, delta, dan alpha terhadap fungsi dan aktvitas berpikir.  Pengukuran dengan EEG ini dapat melihat sejauh mana kecukupan neurotransmiter dalam aktivitas belajar.

WhatsApp Image 2018-01-15 at 20.13.14 (2)

Foto bersama staf PLA Riau dan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu setelah pengukuran anak autis di PLA Provinsi Riau (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

Hasil pengukuran yang dilakukan ini akan memberikan informasi sejauh mana efektivitas terapi yang dilakukan atau evaluasi terhadap terapi.  Terapi bagi anak autis yang dilakukan di PLA Riau antara lain terapi okupasi, terapi wicara, terapi sensori integrasi, dan terapi belajar.  Informasi ini penting bagi terapis dan orang tua untuk melakukan strategi terhadap terapi yang diberikan.  Tidak hanya terapi namun treatment lain yang diberikan kepada anak autis seperti diet makanan, obat-obatan bahkan tidak menutup kemungkinan terapi sel punca atau stem cell.

 

Orang tua siswa PLA Riau antusias terhadap assessment yang dilakukan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Banyak orang tua dari PLA Riau yang tidak mengetahui bahwa anak autis mengalami masalah atau gangguan di otaknya.  Melalui assessment yang dilakukan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dengan menggunakan EEG, dapat mengetahui kondisi otak dari buah hati mereka.  Hal ini dapat memberikan pencerahan kepada orang tua terhadap pola asuh dan pendidikan yang mereka lakukan di rumah (Ags/Klinik Psikonerologi Hang Lekiu)

 

AUTISME DAN GANGGUAN PERKEMBANGAN NEUROBIOLOGI OTAK

Sensory Processing Disorder (SPD) pada anak bawah tiga tahun adalah fenomena yang akan merujuk kepada berbagai gangguan.  Salah satu gangguan yang bermuara dari SPD adalah gangguan spektrum autis (Autism Spectrum Disorder / ASD).  Di sisi lain, kelompok ASD yang masih mampu belajar namun dimasukkan kepada dalam gangguan kesulitan belajar adalah PDD-NOS dan ASPERGER.

Prevalensi individu autis tidak dapat dianggap remeh.  Bahkan fenomena ini cenderung menjadi epidemi.  UNESCO menyebutkan pada tahun 2011 lalu memperkirakan bahwa ada 35 juta orang dengan autisme di dunia. Ini berarti rata-rata ada enam orang dengan autis per 1000 orang dari populasi dunia. Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 pernah menduga jumlah anak autis di Indonesia sekitar 112 ribu dengan rentang 5-19 tahun. Angka ini keluar berdasarkan hitungan prevalensi autis sebesar 1,68 per 1000 anak di bawah 15 tahun. Dengan jumlah anak usia 5-19 tahun di Indonesia sejumlah sekitar 66 juta menurut Badan Pusat Statistik pada 2010, didapatlah angka 112 ribu tersebut (Priherdityo, 2016).

Bagaimana autisme dan kaitannya dengan gangguan yang terjadi pada otak kini telah diungkap oleh para peneliti.  Salah satu penelitian yang menceritakan gangguan pada otak terkait dengan autisme dilakukan oleh Emanuel DiCicco-Bloom, Catherine Lord,  Lonnie Zwaigenbaum,  Eric Courchesne,  Stephen R. Dager,  Christoph Schmitz,  Robert T. Schultz,  Jacqueline Crawley, dan Larry J. Young di tahun 2006 yang berjudul “The Developmental Neurobiology of Autism Spectrum Disorder” dan diterbitkan di The Journal of Neuroscience.

Menurut DiCicco-Bloom, et al. (2006) gangguan spektrum autisme (ASD) adalah salah satu gangguan paling parah pada masa kanak-kanak dalam hal prevalensi, morbiditas, hasil, dampak pada keluarga, dan biaya kepada masyarakat.  Lebih lanjut penelitian DiCicco-Bloom  et al. Melihat ASD sekarang diakui sebagai gangguan perkembangan otak prenatal (pada masa kehamilan) dan pasca kelahiran.

Selama masa kanak-kanak, volume otak dengan ASD menunjukkan pembesaran abnormal, namun perbedaan ini sedikit berkurang pada masa kanak-kanak atau masa remaja. Pola ini baru saja terdeteksi baru-baru ini karena sebagian besar sejarah 70 tahunnya, kelainan otak ASD dipandang statis. Dengan demikian, kemungkinan kelainan pertumbuhan usia tergantung tidak dihargai (Courchesne, 2004 dalam DiCicco-Bloom et. al., 2006).

Penelitian DiCicco-Bloom et al., (2006) menyebutkan adanya kelainan pertumbuhan kompleks dari cerebellum, cerebrum, dan amigdala dan kemungkinan perbedaan hippocampus. Perbedaan usia terkait dalam pertumbuhan wilayah otak tertentu juga terlihat dalam meta-analisis.

Dijelaskan lebih lanjut oleh DiCicco-Bloom  et al., (2006) ukuran otak telah didefinisikan dengan menggunakan lingkar kepala, indikator volume yang dapat diandalkan terutama pada masa kanak-kanak; Perhitungan volumetrik menggunakan magnetic resonance imaging (MRI); dan bobot otak postmortem (setelah kematian).

Saat lahir, lingkar kepala rata-rata pada pasien ASD kira-kira seperti individu normal. Namun, pada usia 3-4 tahun, ukuran otak di ASD melebihi rata-rata normal sebesar 10% berdasarkan studi MRI in vivo dan meta-analisis berat otak postmortem dan morfometri MRI (Courchesne et al., 2001; Sparks et al., 2001; Sparks et al., ., 2002; Redcay dan Courchesne, 2005 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

DiCicco-Bloom et al., (2006) menjelaskan bahwa pembesaran otak dari individu ASD, dimana seseorang mungkin telah memperkirakan adanya peningkatan penanda neuronal yang disebabkan oleh kepadatan neuronal atau synaptic yang meningkat. Namun, penanda ini tidak seperti pada individu normal.  Pada individu ASD indikator tersebut menunjukkan adanya penurunan pada anak berusia 3 sampai 4 tahun (Friedman et al., 2003 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

Kombinasi penanda molekul yang berubah dan peningkatan materi putih dan abu-abu dapat mencerminkan perubahan pada:

(1) jumlah dan ukuran neuron dan glia;

(2) penjabaran akson, dendrit dan sinapsis;

(3) Pemangkasan porodendritik;

(4) kematian sel terprogram;

(5) produksi kolom kortikal;

(6) mielinasi.

Perbedaan atau gangguan pada biologis otak dari individu dengan ASD tentu berpengaruh terhadap fungsi kerja otak ataupun psikologisnya. Tercatat beberapa kemampuan yang terganggu antara lain bahasa, perhatian, komunikasi, dan interaksi sosial. Banyak penelitian pemetaan otak dengan fMRI yang berfokus interaksi sosial. Penelitian fMRI paling awal difokuskan pada persepsi sosial, seperti pengenalan orang melalui wajah. Karya yang lebih baru telah meneliti persepsi ekspresi wajah, perhatian bersama, empati, dan kognisi sosial.  Hal ini di dapat dijelaskan dari gambar di bawah ini

ASD

Keterangan gambar.

Fungsional kelainan MRI diamati pada ASD. A,  MRI koroner ini menunjukkan belahan otak di atas, otak kecil di bawah, dan lingkaran di atas gyrus fusiform dari lobus temporal. Contohnya menggambarkan temuan hipoaktivasi fusiform gyrus yang sering dihadapi pada pria remaja dengan ASD (kanan) dibandingkan dengan usia dan IQ yang sesuai dengan kontrol sehat pria (kiri). Sinyal merah / kuning menunjukkan daerah otak yang secara signifikan lebih aktif selama persepsi wajah; Sinyal di daerah pertunjukan biru lebih aktif selama persepsi objek nonface. Perhatikan kurangnya aktivasi wajah pada anak laki-laki dengan ASD tapi rata-rata tingkat aktivasi objek bukan wajah.

B, diagram skematik otak dari orientasi lateral dan medial yang menggambarkan luas area otak yang ditemukan secara hypoactive di ASD selama berbagai tugas kognitif dan persepsi yang secara eksplisit bersifat sosial. Beberapa bukti menunjukkan bahwa daerah-daerah ini terkait untuk membentuk jaringan “otak sosial” (DiCicco-Bloom et al., 2006).

Keterangan

IFG, [gyrus frontal inferior]  dimana hipoakf saat peniruan ekspresi wajah;

PSTS, [Posterior sulcus temporal superior] dimana hipoaktif atau aktivitasnya rendah selama persepsi ekspresi wajah dan tatapan mata);

SFG [superior frontal gyrus] dimana hipoaktif atau aktivitasnya rendah selama teori tugas pikiran, yaitu, ketika mengambil perspektif orang lain;

A [amigdala]  dimana hipoaktif atau rendah aktivitasnya selama berbagai tugas sosial;

FG [fusiform gyrus] juga dikenal sebagai area wajah fusiform dan hipoaktif atau rendah aktivitasnya selama persepsi identitas pribadi (Schultz, 2005; Schultz and Robins, 2005 dalam DiCicco-Bloom et al., 2006).

Studi ini menunjukkan bahwa defisit keterampilan ASD disertai oleh berkurangnya aktivitas saraf di daerah yang biasanya mengatur domain fungsional spesifik. Sebagai contoh, defisit dalam perhatian bersama dikaitkan dengan penurunan aktivitas pada sulkus temporal superior posterior (Pelphrey et al., 2005 DiCicco-Bloom et al., 2006), sedangkan defisit dalam persepsi sosial dan atau keterlibatan emosional serta gairah dikaitkan dengan aktivitas yang berkurang pada amigdala (Baron- Cohen et al., 1999; Critchley et al., 2000; Pierce Et al., 2001 DiCicco-Bloom et al., 2006).

Dari uraian tersebut jelas bahwa gangguan biologis pada otak diantaranya pada cerebellum dapat mengarah kepada ASD dimana terjadi gangguan perilaku dan kognitif (fungsi berpikir).  Hal ini juga berpengaruh pada perkembangan otak di awal tumbuh kembang anak khususnya pada otak depan dan cerebral cortex yang dapat diketahui melalui pencitraan otak khususnya fMRI. (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Referensi

DiCicco-Bloom, E., E. Lord, L. Zwaigenbaum, E. Courchesne, S.R. Dager, C. Schmitz, R.T. Schultz, J. Crawley, & L.J. Young. (2006). The developmental neurobiology of autism spectrum disorder. The Journal of Neuroscience, 26(26):6897– 6906

Priherdityo, E. (2016). Indonesia Masih ‘Gelap’ Tentang Autisme. CNN INDONESIA, Kamis, 07/04/2016. Diakses 18 Juli 2017, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160407160237-255-122409/indonesia-masih-gelap-tentang-autisme/