DETEKSI DINI PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DILIHAT DARI KARAKTER PSIKOLOGI ANAK

BNN 1

Seminar BNN “Generasi Milenial vs Narkoba, Langkah Cerdas untuk Membesarkan Anak yang Bebas dari Penyalahgunaan Narkoba”. Acara ini diselenggarakan di Pomelotel, Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 10 April 2018. (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Penyalahgunaan narkoba adalah permasalahan yang perlu menjadi perhatian bagi orang tua. Anak perlu diawasi dan dibimbing dengan baik agar mereka tidak terkena dampak pengaruh penyalahgunaan narkoba dari lingkungan. Pengaruh narkoba perlu diwaspadai dan datang dari lingkungan seperti pergaulan, sekolah atau pendidikan, lingkungan rumah, dan lainnya.

Anak yang bermasalah cenderung mudah untuk terjerumus penyalahgunaan narkoba. Dalam menghadapi anak yang bermasalah, orang tua perlu waspadanya dengan menjalin komunikasi yang baik. Oleh karena itu masalah komunikasi dengan anak akan berdampak pada hubungan orang tua dan anak. Akibat dari hal ini adalah kurangnya mengetahui karakter anak; kurangnya menyampaikan nasehat dalam saat yang tepat; kurangnya strategi berkomunikasi; kurangnya perhatian; kurang tegas terhadap anak; kurang dapat memberikan aspirasi harapan menuju cita cita.

Hal ini dijelaskan oleh Dr. (candt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu saat diseminasi atau seminar yang diadakan oleh Badan Narkoba Nasional (BNN). Acara tersebut berupa Bedah Modul dengan tema “Generasi Milenial vs Narkoba, Langkah Cerdas untuk Membesarkan Anak yang Bebas dari Penyalahgunaan Narkoba”. Acara ini diselenggarakan di Pomelotel, Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 10 April 2018.

BNN 2

Seminar BNN yang dihadiri anggota organisasi wanita dan lembaga swadaya masyarakat yang aktif dalam pemberdayaan perempuan (seperti: Dharma Wanita Persatuan, Persit Kartika Chandra, Bhayangkari, Tim PKK, Wanita Indonesia Tanpa Tembakau, dll, Rabu, 10 April 2018 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Lebih lanjut Melani Arnaldi menjelaskan jika anak sudah mengalami masalah penyalahgunaan narkoba, maka anak akan mudah kembuh atau relaps. Hal ini terjadi karena 1) Perubahan pada struktur otak; 2) Adanya karakter melankolins 3) Kurangnya wawasan, self-awareness pada lingkungan; 4) Kurangnya pendidikan strategi memecahkan masalah; 5) Kurangnya pendampingan orang tua; 6) Perasaan sepi dan hampa; 7) Adanya Delusi dan Halusinasi; 6) Adanya Waham.

Namun di sisi lain perlu juga diwaspadai karakter anak yang berpotensi menyalahgunakan narkoba. Sifat karakter yang berpotensi mengalami penyalahgunaan narkoba yaitu karakter melankolins. Karakter tersebut jika tidak didampingi pengasuhan orang tua yang baik saat mengalami konflik dalam diri serta di lingkungan akan berpotensi mengalami masalah. Masalah tersebut dapat berujung kepada penyalahgunaan narkoba.

Di lain hal, ada karakter bawaan yang berpotensi dalam penyalahgunaan narkoba. Karakter tersebut memang mengalami gangguan perkembangan secara psikologis, antara lain ADHD, Conduct Disoder (CD), Manic-depressive (Bipolar Disorder), dan Oppositional Defiant Disorder (ODD). Ketika potensi karakter bermasalah ini bertemu dengan konflik yang terjadi pada individu, maka dapat berakibat kepada distorsi kognitif. Cara berpikir yang negatif atau bermasalah ini cenderung berpotensi dalam membuat kondisi yang ada menjadi lebih komplek. Oleh karena itu, jika orang tua sudah mengetahui anak mengalami masalah karakter bawaan ini sejak dini harus segera berkonsultasi kepada ahli seperti psikolog agar mengetahui bagaimana menghadapi anak tersebut dalam proses tumbuh kembangnya. Informasi ini penting karena anak yang bermasalah ini juga perlu penanganan yang serius dengan terapi psikologis. Jika tidak ditangani sejak dini dengan terapi dan pola asuh yang terstruktur terkait gangguan yang dialami, maka besar kemungkinan anak akan mengalami masalah penyalahgunaan narkoba.

CBT.JPG

Proses Terapi CBT dapat memperbaiki pola pikir, perasaan negatif, dan perilaku yang buruk  (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Untuk menangani masalah penyalahgunanaan narkoba harus dilakukan secara komprehensif. Hal ini perlu dilakukan intervensi medis serta psikologis pada individu. Salah satu intervensi psikologi yang dapat dilakukan adalah dengan terapi CBT. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki pola pikir individu agar dapat menurunkan tingkat depresi dan perilaku yang bermasalah. CBT adalah mencari hingga memodifikasi atau merubah pola-pola dari berpikir seseorang dimana dipercaya untuk berkontribusi kepada masalah-masalah yang dihadapi oleh individu. Terapi CBT berpusat pada diri sendiri yang sifatnya nondirectif, tetapi karena teknik ini diadaptasi sesuai dengan budaya di Indonesia teknik ini kemudian dikombinasikan dengan teknik metakognitif agar proses konseling lebih terarah.   Terapi medis yang dapat dilakukan untuk memperbaiki fisiologi dan sturktur neurobiologis yang rusak akibat narkoba antara lain adalah dengan cara memperbaiki hormonal, detoksifikasi, memperbaiki inflamasi di otak, memperbaiki sel yang rusak dengan terapi sel punca (stem sel), dan akupuntur laser.

Perubahan Struktur Otak Karena Depresi -II

Perubahan Stuktur Otak Pasien Depresi dan MDD

Kondisi yang paling relevan dengan uraian di atas adalah studi pencitraan saraf (neuroimaging) secara struktural yang menunjukkan bahwa individu dengan MDD  mungkin memiliki hippocampus yang relatif kecil bahkan selama periode tingkat keparahan yang berkurang secara klinis atau remisi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kemunculan penyakit yang berulang atau bertahan lama, serta kurangnya pengobatan antidepresan diperkirakan berkontribusi pada penurunan volume hippocampus yang cepat, dimana pada gilirannya dapat menjelaskan masalah ingatan pada beberapa pasien, serta beberapa gejala kelainan lainnya. (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).  Hal ini dapat dibuktikan bahwa individu yang mengalami depresi fungsi memory yang lemah dibandingkan dengan individu normal.

Otak MDD

Gambar 2. Perubahan Struktur Otak Terkait Depresi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa terjadi perubahan stuktur otak karena MDD.  Beberapa bagian otak mengalami penyusutan volume pada individu dengan MDD dibandingkan dengan individu normal.  Bagian tersebut yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate, ventral striatum, amygdala, dan hippocampus.  Namun ada juga bagian dari otak yang mengalami kenaikan volume yaitu kelenjar pituitary.  Di sisi lain, berdasarkan penelitian terjadi kenaikan dan penurunan aktivitas bagian otak.  Bagian otak yang mengalami kenaikan aktivitas yaitu amygdala dan orbitofrontal cortex.  Sedankan bagian otak lainnya yang mengalami penurunan aktivitas yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate,  dan ventral striatum.

Pada gambar 2 dapat dijelaskan yaitu (A) Stimulasi magnetik transkranial prefrontal dorsolateral cortex dan (B) stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate telah terbukti memiliki efek antidepresan pada beberapa pasien. Dasar pemikiran untuk stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate atau ventral striatum sebagian besar didasarkan pada temuan penyimpangan fungsional nuklear di wilayah ini. (C) Stimulasi saraf Vagus mungkin memiliki sifat antidepresan melalui pengaruhnya terhadap lokus koeruleus, area di otak berasal dari mana neuron norepinephrine berasal (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Pasien mungkin juga mengalami kelainan volumetrik di daerah otak subkortikal lainnya, termasuk amygdala dan ventral striatum, dan di daerah korteks, termasuk anterior cingulate cortex,  orbitofrontal cortex dan prefrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kelainan otak struktural dan fungsional pada pasien dengan gangguan MDD, dan lokasi tindakan teknik neurostimulasi baru dengan potensi antidepresan. Kelainan struktur pada otak pasien dengan gangguan MDD  telah diamati di daerah kortikal dan subkorteks. Bagian anterior cingulate cortex (ACC), terutama subgenual cingulate, dapat menunjukkan pengurangan volume (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)..

ACC terletak di bagian depan otak berupa bagian melengkung yang lebih curam dari korteks cingulate, struktur di otak depan yang membentuk kerah di sekitar corpus callosum. Bagian ini terbagi menjadi dua area yang berbeda yang diyakini memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas. Dorsal anterior cingulate cortex (dACC), sering dianggap sebagai divisi “kognisi” atau berpikir, terlibat dalam berbagai fungsi eksekutif, seperti alokasi perhatian, kesalahan dan deteksi keterbaruan, modulasi working memory, kontrol berpikir, konflik respon, dan pemilihan respons. Ventral anterior cingulate cortex (vACC), yang sering dianggap sebagai divisi “emosi”, dianggap terlibat dalam menengahi kecemasan, ketakutan, agresi, kemarahan, empati, dan kesedihan; dalam merasakan sakit fisik dan psikologis; dan dalam mengatur fungsi otonom (misal, tekanan darah, detak jantung, respirasi). Meskipun mekanisme yang tepat dimana proses ini terjadi di ACC tetap tidak diketahui, para periset telah berteori bahwa hubungan timbal balik antara dACC dan vACC membantu menjaga keseimbangan antara pemrosesan kognitif dan emosional sehingga memungkinkan pengaturan sendiri (VandenBos, 2015).  Oleh karena itu tidak mengherankan jika individu dengan gangguan depresi mengalami perubahan emosi yang ekstrem dan tidak terkendalinya fungsi kerja berpikir.

Perubahan struktur otak dari individu dengan MDD juga telah diamati di subregional lain dari prefrontal cortex dan juga di orbitofrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Prefrontal cortex adalah bagian paling depan (depan) dari cerebrall cortex pada setiap frontal lobe dari otak.  Derah ini dibagi menjadi daerah dorsolateral dan daerah orbitofrontalPrefrontal cortex berfungsi dalam perhatian, perencanaan, ingatan kerja, dan ekspresi emosi dan perilaku sosial yang tepat; Perkembangannya pada manusia sejajar dengan peningkatan kontrol berpikir dan penghambatan perilaku saat individu tumbuh menjadi dewasa. Sebaliknya, kerusakan pada korteks prefrontal menyebabkan gangguan emosional, motorik, dan kognitif. Juga disebut area hubungan frontal (VandenBos, 2015).

Selain itu perubahan struktur otak individu depresi dapat diamati pada daerah subkortikal dimana pengurangan volume telah diamati meliputi amygdala, hippocampus dan striatum ventral (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Amygdala memliki peran penting dalam ingatan, emosi, dan persepsi terhadap ancaman dan belajar dari rasa takut. Sedangkan hippocampus berperan dalam memori dan pembaljaran (VandenBos, 2015).  .

Hal ini juga dapat bertahan selama fase remisi atau berkurangnya tingkat keparahan yang terjadi dimana hal ini mungkin membantu menjelaskan mengapa pasien dalam fase remisi terus bereaksi berlebihan terhadap rangsangan yang mengancam.Reaktivitas kognitif atau respon berpikir yang terjadi ini berkontribusi pada risiko kekambuhan di masa depan (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kertekaitan Fungsi Psikologis dan Fungsi Biologis Otak

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa  gangguan psikologis yang berkepanjangan yaitu MDD dapat merubah struktur biologis otak atau sturktur neurobiologi.  Hal ini sudah tentu juga akan mempengaruhi fungsi psikologis dari otak.  Salah satu fungsi psikologis yang terganggu adalah fungsi berpikir atau kogntif.  Sering kali orang dengan MDD tidak dapat berpikir jernih dan sesuai dengan realita atau fakta sehingga muncul delusi dan halusinasi.  Oleh karena fungsi berpikirnya terganggu, maka emosi dan perilakunya pun menjadi buruk.  Akibatnya individu dengan MDD tidak mampu berfungsi secara sosial dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Seperti digambarkan di atas, hal ini terjadi karena otak tidak mampu bekerja secara optimal.  Gangguan neurobiologis yang terjadi berdampak terhadap sekresi atau produksi neurotransmitter yang berpengaruh kepada fungsi berpikir atau kognitif.  Sinyal-sinyal listirk pada syaraf di otak tidak mampu berjalan dengan normal sehingga berpengaruh terhadap proses pengolahan informasi atau fungsi psikologis ini.  Inilah alasan mengapa individu MDD tidak mampu berpikir layaknya individu normal.

Oleh karena itu pada pasien MDD, untuk mengembalikan fungsi psikologinya kembali normal, salah satunya  yaitu fungsi berpikir atau kognitif maka perlu dilakukan terapi psikologi dan juga terapi obat.  Kombinasi obat dan terapi psikologi dilakukan karena sudah terjadi perubahan pada struktur otak atau terjadinya gangguan pada fungsi biologis.  Di sisi lain, gangguan psikologis yang terjadi tetap harus diperbaiki melalui pelatihan atau terapi sehigga fungsinya terperbaiki.

Pemberian antidepresan sebagai terapi obat perlu diawasi dengan ketat agar efektif bagi pasien.  Karena pemberian antidepresan juga memiliki efek samping yang buruk jika digunakan dalam jangka panjang.   Hal ini perlu diimbangi dengan terapi psikologi, yaitu dengan melatih fungsi berpikir dari individu dengan MDD.  Salah satu terapi psikologi atau psikoterapi yang dilakukan adalah dengan CBT (Cognitive Behavior Therapy).  Melalui CBT, individu dengan MDD dilatih untuk menyelaraskan emosi, pikiran, dan perilaku negatif yang terjadi menjadi positif.  Proses ini dilakukan minimal dengan 12 sesi  sehingga terjadi perubahan yang signifikan dan menetap (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

VandenBos, G.R. [Ed]. (2015). APA dictionary of psychology. 2nd eds. Washington, DC: APA.

aan het Rot, Marije. Mathew, S.J., & Charney, D.S. (2009). Neurobiological mechanisms in major depressive disorder. CMAJ, February, 3, 2009, 180(3).

Perubahan Struktur Otak Karena Depresi – I

Apa itu Depresi dan MDD?

Depression brain

Gambar 1. Aktivitas otak yang berbeda antara individu depresi dan yang sudah mengalami perbaikan (http://brainpictures.org/p/91/depression-brain/picture-91)

Ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana otak individu dengan depresi lebih tidak aktif dibandingkan dengan individu yang sudah mengalami kesembuhan.  Oleh karena itu individu dengan depresi sudah tentu mengalami masalah dalam berpikir, mengekspresikan emosi, dan perilakunya.

Depresi dapat didefinisikan sebagai keadaan perasaan negatif, mulai dari ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan terhadap perasaan sedih, pesimisme, dan keputusasaan yang ekstrem, serta mengganggu aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan depresi, berbagai perubahan fisik, kognitif atau berpikir, dan sosial juga cenderung terjadi bersamaan.  Hal tersebut termasuk kebiasaan makan atau tidur yang berubah, kekurangan energi atau motivasi, sulit berkonsentrasi atau membuat keputusan, dan menarik diri dari aktivitas sosial. Ini adalah gejala dari sejumlah gangguan kesehatan mental (VandenBos, 2015). .

Depresi tidak hanya terjadi pada invidu dewasa saja.  Namun anak dan remaja juga dapat mengalami depresi.  Orang tua, guru, dan teman sebaya dapat mengidentifikasi atau deteksi terjadinya depresi yang terjadi pada mereka.  Jika gangguan dengan gambaran di atas terjadi, maka secepatnya untuk diperikasakan kepada ahli yaitu psikolog dan psikiatri untuk ditangani lebih lanjut agar tidak menjadi bertambah parah.

Bila keadaan ini tidak ditangani dengan baik, maka akan menjadi komplek dimana akan mengarah kepada major depressive disorder (MDD).  Gangguan MDD secara tradisional dipandang sebagai penyakit dimana episode depresi diikuti oleh periode perubahan keadaan susana hati atau mood.  MDD pada DSM-IV-TR dan DSM-V, didefinisikan sebagai gangguan mood yang ditandai dengan kesedihan yang terus-menerus dan gejala lain dari episode depresi berat namun tanpa disertai episode mania (keadaan bahagia, aktivitas yang berlebihan, agitasi psikomotorik, kadang diikuti dengan rasa optimis yang berlebihan, munculnya waham, dan penilaian yang salah); atau kebalikannya yaitu hypomania;  atau episode depresi dan manic atau hypomanic. Keadaan ini dapat disebut juga sebagai kondisi  depresi berat (VandenBos, 2015).

Meskipun demikian, pasien yang menunjukkan tanda-tanda klinis remisi (penurunan tingkat keparahan depresi namun gangguan depresi tidak hilang) yang terus-menerus dapat terjadi kelainan neurobiologis. Kelainan ini dapat memburuk seiring berjalannya waktu, bahkan beberapa pasien mungkin mengalami depresi kronis (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).  Hal ini menunjukkan bahwa gangguan psikologis yang berkepanjangan dapat menyebabkan terjadinya perubahan sturktur biologis atau neurobiologi dari otak.

Serupa dengan multiple sclerosis, mungkin ada variabilitas dalam perjalanan penyakit ini dari waktu ke waktu. Dalam multiple sclerosis, ada 2 pola umum perkembangan penyakit: kambuh-tingkat keparahan berkurang- dan menjadi lebih parah (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Data yang ada untuk gangguan MDD menunjukkan bahwa walaupun banyak pasien mungkin memiliki varian penyakit dengan muculnya kekambuhan dan menurunnya tingkat keparahan depresi, dan mungkin beberapa menjadi lebih parah atau progressive (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Daftar Pustaka

VandenBos, G.R. [Ed]. (2015). APA dictionary of psychology. 2nd eds. Washington, DC: APA.

aan het Rot, Marije. Mathew, S.J., & Charney, D.S. (2009). Neurobiological mechanisms in major depressive disorder. CMAJ, February, 3, 2009, 180(3).