PELATIHAN OTAK TENGAH DENGAN NEUROFEEDBACK

Pelatihan otak tengah adalah terapi yang digunakan untuk membantu mengenali emosi individu dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosinya dengan baik.  Hal ini dilakukan melalui proses pelatihan keseimbangan antara perasaan dan pikiran dengan melatih konsentrasi individu. Individu yang mengalami masalah perkembangan otak tengah akan berdampak kepada perkembangan emosi. Pelatihan ini salah satunya dengan menggunakan alat neurofeedback.

Proses EEG

Pelatihan Neurofeedback untuk keseimbangan emosi dan pikiran atau pelatihan otak tengah (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Neurofeedback adalah sejenis biofeedback yang mengukur gelombang otak untuk menghasilkan sinyal yang bisa dijadikan umpan balik untuk mengajarkan pengaturan fungsi otak sendiri.

Biofeedback didefinisikan sebagai proses untuk mendapatkan kesadaran yang lebih besar terhadap banyak fungsi fisiologis terutama dengan menggunakan instrumen yang memberikan informasi tentang aktivitas sistem yang sama, dengan tujuan untuk dapat memanipulasinya sesuka hati. Beberapa proses yang bisa dikendalikan meliputi gelombang otak, nada otot, kelarutan kulit, denyut jantung dan persepsi nyeri. Pada pelatihan neurofeedback, informasi yang digunakan sebagai pelatihan adalah gelombang otak.

Neurofeedback biasanya diberikan dengan menggunakan video atau suara, dengan umpan balik positif untuk aktivitas otak yang diinginkan dan umpan balik negatif untuk aktivitas otak yang tidak diinginkan.

Salah satu alat yang digunakan dalam melakukan pelatihan neurofeedback adalah EEG (elektroensephalografi). EEG membaca aktivitas listrik otak, khususnya pikiran. Manusia memiliki sekitar 86 miliar neuron di otak yang mengendalikan seluruh tubuh Anda dan membangkitkan pikiran di kepala. Neuron ini menyala dengan frekuensi tertentu. Perangkat EEG membaca frekuensi ini dengan membaca aktivitas listrik yang diproduksi oleh neuron. Para ilmuwan telah sepakat untuk membagi frekuensi ini di pita frekuensi yang berbeda. Semua pita frekuensi telah dipelajari secara intensif dan dikaitkan dengan beberapa keadaan pikiran:

Gelombang Delta (1-3 Hz): Meditasi terdalam dan tidur nyenyak

Gelombang Theta (4-7 Hz): Tidur normal dan meditasi normal

Gelombang Alpha (8-12 Hz): Relaksasi / refleksi

Gelombang Beta (13-30 Hz): Pemikiran aktif, fokus, waspada tinggi, cemas

Gelombang Gamma (31-50 Hz): Sadar persepsi

Gelombang Otak

Gelombang otak yang digunakan dalam pengukuran EEG dan Neurofeedback (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada pelatihan neurofeedback di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, individu akan dihubungkan dengan perangkat EEG melalui Bluetooth dengan beberapa aplikasi untuk melatih fokus atau meditasi. Contohnya adalah pelatihan dimana individu harus “fokus” atau “bermeditasi” untuk mencapai suatu tujuan.  Pelatihan ini akan mengukur dan melatih mental individu dari gelombang otak yang diolah oleh aplikasi neurofeedback.

keseimbangan meditasi dan fokus

Pelatihan keseimbangan antara emosi dan pikiran dengan pengukuran pada gelombang otak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Bagaimana mengatur pikiran dan kondisi mental sehingga mampu berkonsentrasi tinggi secepat mungkin dan membuat diri menjadi relaks selama mungkin dalam keadaan sadar. Pelatihan yang diberikan seperti permainan memindahkan bola, atau mengangkat balon. Seperti yang dapat dilihat dari uraian di atas, meditasi dan fokus adalah gelombang otak yang berlawanan. Pelatihan ini melatih kemampuan individu dalam mempertahankan keseimbangan antara emosi dan pikirannya dalam keadaan sadar.  Hal ini terlihat bagaimana menyeimbangkan antara meditasi dan fokus pada saat yang bersamaan.

Oleh karena itu harus relatif tidak mudah bagi pengguna perangkat untuk menyimpang dari pelatihan yang diberikan dengan neurofeedback.  Hal ini juga akan melatih regulasi emosi dari pelatihan-pelatihan konsentrasi yang diberikan kepada individu sehingga regulasi perilakunya menjadi baik (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Perubahan Struktur Otak Karena Depresi -II

Perubahan Stuktur Otak Pasien Depresi dan MDD

Kondisi yang paling relevan dengan uraian di atas adalah studi pencitraan saraf (neuroimaging) secara struktural yang menunjukkan bahwa individu dengan MDD  mungkin memiliki hippocampus yang relatif kecil bahkan selama periode tingkat keparahan yang berkurang secara klinis atau remisi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kemunculan penyakit yang berulang atau bertahan lama, serta kurangnya pengobatan antidepresan diperkirakan berkontribusi pada penurunan volume hippocampus yang cepat, dimana pada gilirannya dapat menjelaskan masalah ingatan pada beberapa pasien, serta beberapa gejala kelainan lainnya. (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).  Hal ini dapat dibuktikan bahwa individu yang mengalami depresi fungsi memory yang lemah dibandingkan dengan individu normal.

Otak MDD

Gambar 2. Perubahan Struktur Otak Terkait Depresi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa terjadi perubahan stuktur otak karena MDD.  Beberapa bagian otak mengalami penyusutan volume pada individu dengan MDD dibandingkan dengan individu normal.  Bagian tersebut yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate, ventral striatum, amygdala, dan hippocampus.  Namun ada juga bagian dari otak yang mengalami kenaikan volume yaitu kelenjar pituitary.  Di sisi lain, berdasarkan penelitian terjadi kenaikan dan penurunan aktivitas bagian otak.  Bagian otak yang mengalami kenaikan aktivitas yaitu amygdala dan orbitofrontal cortex.  Sedankan bagian otak lainnya yang mengalami penurunan aktivitas yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate,  dan ventral striatum.

Pada gambar 2 dapat dijelaskan yaitu (A) Stimulasi magnetik transkranial prefrontal dorsolateral cortex dan (B) stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate telah terbukti memiliki efek antidepresan pada beberapa pasien. Dasar pemikiran untuk stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate atau ventral striatum sebagian besar didasarkan pada temuan penyimpangan fungsional nuklear di wilayah ini. (C) Stimulasi saraf Vagus mungkin memiliki sifat antidepresan melalui pengaruhnya terhadap lokus koeruleus, area di otak berasal dari mana neuron norepinephrine berasal (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Pasien mungkin juga mengalami kelainan volumetrik di daerah otak subkortikal lainnya, termasuk amygdala dan ventral striatum, dan di daerah korteks, termasuk anterior cingulate cortex,  orbitofrontal cortex dan prefrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kelainan otak struktural dan fungsional pada pasien dengan gangguan MDD, dan lokasi tindakan teknik neurostimulasi baru dengan potensi antidepresan. Kelainan struktur pada otak pasien dengan gangguan MDD  telah diamati di daerah kortikal dan subkorteks. Bagian anterior cingulate cortex (ACC), terutama subgenual cingulate, dapat menunjukkan pengurangan volume (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)..

ACC terletak di bagian depan otak berupa bagian melengkung yang lebih curam dari korteks cingulate, struktur di otak depan yang membentuk kerah di sekitar corpus callosum. Bagian ini terbagi menjadi dua area yang berbeda yang diyakini memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas. Dorsal anterior cingulate cortex (dACC), sering dianggap sebagai divisi “kognisi” atau berpikir, terlibat dalam berbagai fungsi eksekutif, seperti alokasi perhatian, kesalahan dan deteksi keterbaruan, modulasi working memory, kontrol berpikir, konflik respon, dan pemilihan respons. Ventral anterior cingulate cortex (vACC), yang sering dianggap sebagai divisi “emosi”, dianggap terlibat dalam menengahi kecemasan, ketakutan, agresi, kemarahan, empati, dan kesedihan; dalam merasakan sakit fisik dan psikologis; dan dalam mengatur fungsi otonom (misal, tekanan darah, detak jantung, respirasi). Meskipun mekanisme yang tepat dimana proses ini terjadi di ACC tetap tidak diketahui, para periset telah berteori bahwa hubungan timbal balik antara dACC dan vACC membantu menjaga keseimbangan antara pemrosesan kognitif dan emosional sehingga memungkinkan pengaturan sendiri (VandenBos, 2015).  Oleh karena itu tidak mengherankan jika individu dengan gangguan depresi mengalami perubahan emosi yang ekstrem dan tidak terkendalinya fungsi kerja berpikir.

Perubahan struktur otak dari individu dengan MDD juga telah diamati di subregional lain dari prefrontal cortex dan juga di orbitofrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Prefrontal cortex adalah bagian paling depan (depan) dari cerebrall cortex pada setiap frontal lobe dari otak.  Derah ini dibagi menjadi daerah dorsolateral dan daerah orbitofrontalPrefrontal cortex berfungsi dalam perhatian, perencanaan, ingatan kerja, dan ekspresi emosi dan perilaku sosial yang tepat; Perkembangannya pada manusia sejajar dengan peningkatan kontrol berpikir dan penghambatan perilaku saat individu tumbuh menjadi dewasa. Sebaliknya, kerusakan pada korteks prefrontal menyebabkan gangguan emosional, motorik, dan kognitif. Juga disebut area hubungan frontal (VandenBos, 2015).

Selain itu perubahan struktur otak individu depresi dapat diamati pada daerah subkortikal dimana pengurangan volume telah diamati meliputi amygdala, hippocampus dan striatum ventral (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Amygdala memliki peran penting dalam ingatan, emosi, dan persepsi terhadap ancaman dan belajar dari rasa takut. Sedangkan hippocampus berperan dalam memori dan pembaljaran (VandenBos, 2015).  .

Hal ini juga dapat bertahan selama fase remisi atau berkurangnya tingkat keparahan yang terjadi dimana hal ini mungkin membantu menjelaskan mengapa pasien dalam fase remisi terus bereaksi berlebihan terhadap rangsangan yang mengancam.Reaktivitas kognitif atau respon berpikir yang terjadi ini berkontribusi pada risiko kekambuhan di masa depan (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kertekaitan Fungsi Psikologis dan Fungsi Biologis Otak

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa  gangguan psikologis yang berkepanjangan yaitu MDD dapat merubah struktur biologis otak atau sturktur neurobiologi.  Hal ini sudah tentu juga akan mempengaruhi fungsi psikologis dari otak.  Salah satu fungsi psikologis yang terganggu adalah fungsi berpikir atau kogntif.  Sering kali orang dengan MDD tidak dapat berpikir jernih dan sesuai dengan realita atau fakta sehingga muncul delusi dan halusinasi.  Oleh karena fungsi berpikirnya terganggu, maka emosi dan perilakunya pun menjadi buruk.  Akibatnya individu dengan MDD tidak mampu berfungsi secara sosial dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Seperti digambarkan di atas, hal ini terjadi karena otak tidak mampu bekerja secara optimal.  Gangguan neurobiologis yang terjadi berdampak terhadap sekresi atau produksi neurotransmitter yang berpengaruh kepada fungsi berpikir atau kognitif.  Sinyal-sinyal listirk pada syaraf di otak tidak mampu berjalan dengan normal sehingga berpengaruh terhadap proses pengolahan informasi atau fungsi psikologis ini.  Inilah alasan mengapa individu MDD tidak mampu berpikir layaknya individu normal.

Oleh karena itu pada pasien MDD, untuk mengembalikan fungsi psikologinya kembali normal, salah satunya  yaitu fungsi berpikir atau kognitif maka perlu dilakukan terapi psikologi dan juga terapi obat.  Kombinasi obat dan terapi psikologi dilakukan karena sudah terjadi perubahan pada struktur otak atau terjadinya gangguan pada fungsi biologis.  Di sisi lain, gangguan psikologis yang terjadi tetap harus diperbaiki melalui pelatihan atau terapi sehigga fungsinya terperbaiki.

Pemberian antidepresan sebagai terapi obat perlu diawasi dengan ketat agar efektif bagi pasien.  Karena pemberian antidepresan juga memiliki efek samping yang buruk jika digunakan dalam jangka panjang.   Hal ini perlu diimbangi dengan terapi psikologi, yaitu dengan melatih fungsi berpikir dari individu dengan MDD.  Salah satu terapi psikologi atau psikoterapi yang dilakukan adalah dengan CBT (Cognitive Behavior Therapy).  Melalui CBT, individu dengan MDD dilatih untuk menyelaraskan emosi, pikiran, dan perilaku negatif yang terjadi menjadi positif.  Proses ini dilakukan minimal dengan 12 sesi  sehingga terjadi perubahan yang signifikan dan menetap (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

VandenBos, G.R. [Ed]. (2015). APA dictionary of psychology. 2nd eds. Washington, DC: APA.

aan het Rot, Marije. Mathew, S.J., & Charney, D.S. (2009). Neurobiological mechanisms in major depressive disorder. CMAJ, February, 3, 2009, 180(3).

PROMO AWAL TAHUN 2017! PEMERIKSAAN EEG UNTUK KECERDASAN, MINAT, DAN BAKAT ANAK

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan promo awal tahun untuk pemeriksaan EEG.  Pemeriksaan EEG ditujukan untuk pemeriksaan kecerdasan, minat, dan bakat anak.  Dari hasil pemeriksaan EEG ini akan memperlihatkan potensi kecerdasan anak, minat, dan bakat mereka serta regulasi diri ataupun emosi anak.

Harga promo! Rp. 650.000,-

(harga termasuk pemeriksaan eeg dan konseling hasil eeg).

Untuk info dan jadwal pengetesan

Cp. Agus (08561785391)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

CBT: TERAPI PSIKOLOGI BAGI REMAJA UNTUK MENINGKATKAN SELF-AWARENESS, SELF-REGULATION, DAN MOTIVASI BELAJAR

Melani Arnaldi dan sessi konseling (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Melani Arnaldi dan sessi konseling serta CBT (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Masa  remaja merupakan masa  “kritis dan badai”, karena  adanya perubahan fisik  yang  tidak  diikuti dengan  perkembangan emosi. Hal tersebut menyebabkan remaja mudah terjeremus ke perilaku negatif (FKUI, 2000).  Secara biologis  perkembangan otak mereka belum berkembang sempurna, yang berakibat pada psikologis emosional remaja, yang kadang  bersikap seperti  anak-anak dan kadang  bersikap dewasa (Lewis, 2002). Remaja belum mempunyai kemampuan dalam  membaca dan memahami emosi dari dalam dirinya ataupun orang lain. Perubahan biologis  dan psikologis remaja  berpengaruh pada  kontrol diri, penilaian, emosi, dan pengaturan diri yang disebut dengan  fungsi eksekutif (American Bar Association, 2004). Dalam hal ini pengaruh biologis hormonal, yaitu  kortisol dikaitkan dengan sistem limbik khususnya  respon amygdala dapat merangsang impulsivitas yang menyebabkan perilaku agresivitas remaja laki-laki.

Hal ini sering kali menimbulkan masalah pada individu remaja dimana terjadi konflik antara orang tua, atau pun lingkungannya seperti sekolah.  Perilaku buruk dan pembangkangan dapat muncul sebagai akibat kurangnya kontrol diri dari remaja.  Perilaku ini muncul dapat berupa manifestasi seperti hilangnya motivasi belajar, tidak pedulii terhadap lingkungan di rumah atau sekolah, bahkan hingga tindakan kriminalitas.  Oleh karena itu pada remaja yang memiliki masalah di atas perlu dilakukan penanganan secara intensif.

Salah satu cara intervensi atau terapi psikologi untuk remaja yang sesuai untuk permasalahan ini adalah dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT).  CBT adalah pendekatan yang intensif, sesi yang pendek, dan berorientasi kepada masalah.  CBT dirancang untuk menjadi cepat, praktis, dan beorientasi kepada tujuan serta menghasilkan individu dengan keterampilan jangka panjang untuk membuat mereka tetap sehat. (Rector, 2007).   Fokus dari CBT adalah di  sini dan saat ini, dimana permasalahan terjadi pada individu dalam kehidupan sehari-hari.  CBT membantu individu untuk melihat bagaimana mereka menginterpretasikan dan mengevaluasi apa yang terjadi  disekitar mereka serta efek dari persepsi pada pengalaman emosional mereka.  (Rector, 2007).

Cognitive behavioral therapy atau CBT adalah tipe konseling umum (psychoterapy).  Melalui CBT, pasien akan berinteraksi dengan konselor (Psychotherapsit atau therapis) dalam sesi yang terstruktur, dimana menghadiri sejumlah sesi terapi yang terbatas.  CBT membantu dapat membantu remaja menjadi aware (peduli) terhadap pemikiran yang negatif atau tidak sesuai dengan diri dan lingkungan.  Hal ini membuat kita lebih berani dalam menghadapi situasi dan meresponnya dengan cara yang efisien.  CBT dapat menjadi alat yang sangat membantu dalam menangangi gangguan mental atau penyakit mental, seperti kecemasan dan depsresi.  CBT dapat menjadi alat yang efektif untuk membantu setiap orang belajar bagaimana menangani situasi dari kehidupan yang membuat diri kita stress. (Mayoclinic.org).

Keadaan hipnosis untuk memperbaiki gangguan emosional, seperti trauma yang dapat meningkatkan kepercayaan diri dan juga strategy coping bagi individu

Sesi CBT dilakukan dalam keadaan relaks dan nyaman bagi remaja dan keluarga (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Remaja yang sehat secara mental adalah ia mampu mengendalikan dirinya dengan baik.  Seiring pertumbuhan usia, maka pertumbuhan mental juga harus tumbuh kembang dengan baik.  Hal ini dapat dilihat dari adanya self-awareness,  dan self-regulation yang baik dari remaja.  Dimana mereka peduli terhadap diri dan tuntutan dari lingkungannya baik orang tua dan sekolah. Perwujudan ini nampak dari adanya motivasi belajar yang baik serta mampu mengendalikan diri dan mematuhi aturan yang ada di dalam keluarga ataupun masyarakat, misalnya sekolah.

Melalui sesi terapi CBT yang dilakukan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mampu meningkatkan self-awareness, motivasi belajar, dan self-regulation pada remaja yang mengalami masalah psikologis.  Sesi CBT yang dilakukan oleh terapis dalam arahan Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., dilakukan dalam suasana yang hangat dan kekeluargaan.  Remaja dan orang tua disatukan dalam sesi sehingga permasalahan dalam keluarga maupun anggota keluarga dapat dipecahkan dan hubungan menjadi harmonis kembali.  Komunikasi yang tadinya tertutup dan tersendat, dapat menjadi lancar di dalam keluarga.  Keharmonisan ini adalah sebagai fondasi bagi remaja karena sudah meningkatnya self-awareness, dan self-regulation dalam diri mereka sehingga motivasi belajarnya pun meningkat.

Informasi seputar CBT untuk remaja, dapat menghubungi Sdr. Agus (08561785391).

Daftar Pustaka

American Bar Association. (2004). Adolescent Brain Development And Legal Culpability. Washington DC

Mayoclinic. http://www.mayoclinic.org/tests-procedures/cognitive-behavioral-therapy/basics/definition/prc-20013594

Lewis, M. (2002). Child and Adolescent Psychiatry: A Comprehensive Textbook.  Lippincott Williams and Wilkins.

Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Bagian Psikiatri FKUI / RSUPN-CM, “UP DATE” Psikiatri Anak.(2000). Universitas Indonesia: Jakarta

Rector, N.A., (2010).  Cognitive behavioral therapy: an information guide. Center of Addiction and Mental Health: Canada.