Pentingnya Mengetahui Komorbiditas Dalam Penanganan Anak Kesulitan Belajar

IMG20181006132840
Foto bersama peserta Seminar Kupas Tuntas Anak Lambat Belajar (Slow Learner) bersama Dr.(cdt.) Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi., Sabtu, 6 Oktober 2018 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Anak lambat belajar (Borderline Intellectual Functioning) atau disebut juga dengan slow learner memíliki tingkat kecerdasan (IQ) di bawahrata-rata.  Namun mereka masih mampu mengikuti pendidikan formal.  Secara umum bagi guru sebagai ujung tombak pendidikan di lapangan, jika siswa tidak dapat mencapai nilai KKM dapat dikatakan slow learner.  Namun penting ditekankan apakah permasalahan kesulitan belajar, khususnya slow learner yang terjadi, memiliki komorbiditas atau tidak dengan masalah psikologis ataupun kesulitan belajar lainnya.  Komorbiditas adalah kondisi menumpuknya dua gangguan lain atau lebih pada satu individu.  Komorbiditas tersebut dapat terjadi misalnya dengan gangguan konsentrasi, hiperaktivitas, dan lainnya.

Anak slow learner mengalami keterlambatan perkembangan dan lemahnya fungsi penginderaan. Akibatnya anak slow learner lambat dalam pemerosesan informasi di otak dibandingkan temannya, serta rendahnya pencapaian akademis di sekolah.  Anak slow learner proses pemanggilan informasi yang lebih lambat dibandingkan dengan siswa normal lainnya.  Oleh karena itu anak dengan slow learner mengalami hambatan dalam pemerosesan informasi di otak.  Hal ini dijelaskan oleh Dr. (cdt.) Melani Arnaldi dalam Seminar Kupas Tuntas Anak Lambat Belajar (Slow Learner), Sabtu, 6 Oktober  2018 di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

IMG20181006130350
Sesi Pengenalan Teori dan Tanya Jawab dalam Seminar Kupas Tuntas Anak Lambat Belajar (Slow Learner), Sabtu, 6 Oktober 2018 bersama Dr. (cdt.) Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dari sudut pandang neuropsikologi, anak lambat belajar mengalami masalah dalam keseimbangan neurotransmiter.  Mereka juga mengalami keterlambatan perkembangan seperti keterlambatan bicara pada usia balita dan batita.  Seiring tumbuh kembang dan proses pendampingan intervensi atau terapi, anak slow learner mampu berorestasi di sekolah formal pada usia remaja, bahkan hinaga tingkat universitas. Dijelaskaskan lebih lanjut oleh Melani Arnaldi, bahwa anak slow learner murni tanpa adanya komorbiditas akan dapat menyamai kemampuan anak normal lainnya pada usia 14 tahun.  Jika memiliki komorbiditas maka perlu penanganan yang lebih komplek, hingga masalahnya dapat teratasi dengan baik.  Intervensi sejak dini (0-7 thn) dapat dilakukan seperti terapi sensori integrasi, fisioterapi, terapi metakognitif, dan neurofeedback, tergantung tingkat permasalahan yang terjadi

Oleh karena itu, penting dilakukan deteksi dini oleh orang tua,  guru tingkatan PAUD, TK, dan SD kelas awal sehingga dapat dirujuk ke dokter anak atau psikolog anak. Deteksi dini dan diagnosa yang ditindaklanjuti dgn intervensi atau terapi adalah kunci keberhasilan terapi serta tumbuh kembang anak slow learner menjadi lebih optimal.

IMG20181006130539
Peserta seminar dalam sesi tanya jawab dengan pembicara (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Acara ini dihadiri oleh orang tua; guru TK, PAUD, dan SD; student affair, konselor, dan pemerhati anak.  Pada acara ini juga ditampilkan video intervensi anak slow learner yang dapat dilakukan di rumah dan sekolah.   Peserta antusias dalam seminar ini dan meminta agar dilakukan acara ini secara rutin.  Bagi peserta, khususnya guru, acara ini penting dalam berbagi pengetahuan untuk penanganan anak di sekolah (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).IMG20181006132840

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.