Hubungan Keterlambatan Bicara dan Kemampuan Berbahasa dengan Kesulitan Belajar

 

IMG20181110121211.jpg
Sesi foto bersama Dr. (cdt.) Melani Arnaldi bersama peserta Seminar Kupas Tuntas Keterlambatan Bicara (Speech Delay), Sabtu, 10 November 2018 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Berbahasa adalah satu contoh dari fungsi kortikal lebih tinggi. Hal ini dikembangkan berdasarkan penetapan struktur anatomi dan fungsi secara genetik. Berbahasa juga dipengaruhi oleh rangsangan yang dihasilkan oleh lingkungan.  Berbahasa juga berarti sebuah komunikasi.  Hal ini adalah alat sosial dari penggunaan komunikasi.  Sehingga bahasa dapat dipertimbangkan sebagai sebuah kekuatan atau proses yang dinamis, dan bukan sebuah produk.  Bahasa dapat didefinisikan sebagai sistem konvensional dari simbol arbitrasi, yaitu kombinasi sistematis untuk menyimpan dan menukar informasi.

Sebelum anak mampu berbicara, mereka menggunakan mata, ekspresi wajah, dan gestur untuk berkomunikasi dengan orang lain.  Mereka juga dapat membedakan suara dari percakapan.  Mempelajari kode bahasa tergantung kepada penguasaan pengetahuan terhadap objek, tindakan, tempat, dan lainnya.  Hal ini adalah hasil interaksi komplek antara bawaan kemampuan Biologi dan rangsangan dari lingkungan, serta kemajuan perkembangan neuropsikomotorik.

Dua perbedaan tahapan dari perkembangan bahasa yang terjadi yaitu tahapan prelinguistik dengan vokalisasi suara tapi tanpa kata-kata.   Tahapan ini terjadi pada 11-12 bulan awal kehidupan.  Tahapan berikutnya yaitu linguistik, ketika bayi mulai mengucapkan kata tunggal namun bermakna.  Selanjutnya, ekspresi bahasa pun menjadi komplek.  Hal ini sebagai proses keberlanjutan di dalam sebuah runutan yang teratur.  Selain itu hal ini juga dipertimbangkan sebagai tahapan yang tumpang tindih atau paralel dengan perkembangan lainnya dari seorang anak.

Keterlambatan bicara pada anak usia bawah tiga tahun (batita) merupakan masalah yang sering diabaikan  orang tua.  Kemampuan bicara berkaitan dengan tumbuh kembang di awal usia dan fungsi psikologis, seperti kemampuan berbahasa, fungsi eksekutif, working memory, self-awareness, theory of mind, & self-concept. Keterlambatan bicara juga dapat digunakan sebagai penanda gangguan tumbuh kembang seperti autisme, ADHD, slow learner, dan kesulitan belajar di masa usia sekolah.

Secara umum bagian otak yang terkait dengan pemahaman bahasa adalah di anterior dan posterior dari area kotikal pada lobus temporal bagian kiri.  Produksi bahasa melibatkan banyak area di otak.  Saat memproduksi bahasa, bagian otak yang teraktifkan antara lain supplementary motor area (SMA), bilateral utama korteks,  sensorimotor utama, bagian kiri insula anterior/frontal operculum, basal ganglia, dan bilateral cerebellum.

Penguasaan bahasa dibentuk oleh empat sistem yang saling terkait yaitu pragmatik (komunikasi menggunakan bahasa dalam sebuah kontek sosial), fonologi (persepsi dan produksi suara menjadi kata), semantik (pemerosesan makna), dan tatabahasa/ grammatical (penggunaan aturan sintaks dan morfologikal untuk mengkombinasikan kata-kata menjadi kalimat yang bermakna).  Sistem fonologikal dan gramatikal adalah penyusun dari bentuk bahasa.  Kompetensi komunikatif menunjukkan bahwa anak memiliki pengetahuan untuk mengadaptasi bahasa kepada situasi tertentu dan mengetahui aturan-aturan sosial terhadap komunikasi sosial.  Hal ini didukung dari kesadaran dalam penggunaan semantik dan tatabahasa.  Oleh karena itu kemampuan berbahasa sangat penting dalam tumbuh kembang anak.

Oleh karena itu, kemampuan berbahasa erat kaitannya dengan berbagai fungsi psikologis dalam perkembangan anak.  Fungsi tersebut seperti self-awareness yaitu kemampuan memfokuskan perhatian dan pengetahuan terhadap diri sendiri; working memori yang melibatkan penyimpanan informasi, logika, dan pemahaman; fungsi eksekutif yang melibatkan perencanaan, kendali diri, orientasi tugas, dan penghambatan respon; dan self-concept yaitu kemampuan mendeskripsikan serta evaluasi diri sendiri  atas karakteristik fisik, psikologis, peran yang dimiliki, keterampilan, dan lainnya .  Fungsi-fungsi tersebut erat dengan kemampuan belajar di usia sekolah seperti menulis, membaca, dan pemahaman.  Saat anak masuk pra sekolah umumnya akan ditest kemampuan kemandirian dan komunikasi. Saat usia sekolah, anak akan ditest kemampuan baca tulis & komunikasi. Sayangnya anak dengan keterlambatan bicara (speech delay) saat awal  masuk sekolah akan menunjukan hambatan pada kemampuan pemahaman, menulis dan membaca.  Dapat disimpulan bahwa masalah berbahasa yang dicirikan adanya keterlambatan bicara pada anak, berhubungan dengan masalah tumbuh kembang. Sehingga masalah keterlambatan bicara atau berbahasa yang muncul pada usia 0-5 tahun, digunakan sebagai penanda autisme, ADHD, Slow Learner, PDD-NOSS, Asperger, dan kesulitan belajar di usia sekolah.

Daftar Pustaka

Schirmer, C.R., Fontoura, D.R., & Nunes, M.L., (2004). Language and learning disorders. Jornal de Pediatria, 80(2, 2004:S95-S103.

Stemmer, B., & Whitaker, H. A. (2008). Handbook of the neuroscience of language. Elsevier; London

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.