Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder) dan Perbedaannya dengan ADD ataupun Slow Learner

IMG20181013132614
Sesi foto bersama Dr. (cdt.) Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi., bersama peserta Seminar Kupas Tuntas Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder /ADD), Sabtu, 13 Oktober 2018 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Masalah gangguan pemusatan perhatian (ADD) dimasukkan ke dalam Gangguan Pemusatan Perhatian (ADHD) namun dengan karaktersitik yang berbeda.  Anak ADHD bermasalah pada respon penghambatan (inhibisi), sedangkan anak ADD bermasalah dalam working memory.  Working Memory adalah segala pemerliharaan jangka pendek dan manipulasi dari informasi penting untuk kinerja berpikir komplek seperti belajar, logika, dan pemahaman. Anak ADD dari pada mudah terganggu perhatiannya, mereka lebih mudah bosan, dan permasalahan mereka ada pada motivasi dibandingkan kendali inhibisi atau penghambatan seperti anak ADHD.  Oleh karena itu anak ADD mengalami kesulitan belajar.

Sebaliknya, anak-anak dengan ADD setidaknya merupakan salah satu penyebab kecemasan dan depresi pada anak. Anak ADD cenderung lebih terisolasi secara sosial atau menarik diri dibandingkan anak ADHD.  Kesulitan membaca dan gangguan berbahasa lebih sering muncul dalam komorbiditas dari anak ADD.  Namun demikian profil neurobiologi, kognitif, dan perilaku dari anak ADD secara kuat terimplikasi dari gangguan utama pada preforntal cortex.  Prefrontal cortex adalah bagian dari otak depan yang berfungsi dalam pemusatan perhatian, perencanaan, working memory, dan ekpresi dari emosi serta perilaku sosial yang sesuai konteks.

IMG20181013130921
Sesi pengenalan teori dan tanya jawab di acara Seminar Kupas Tuntas Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder / ADD) (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Hal ini disampaikan oleh Dr. (cdt.) Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi., dalam Seminar Kupas Tuntas Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder / ADD).  Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 13 Oktober 2018 di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, Jakarta Selatan.  Dalam acara tersebut disajikan pengenalan teori, deteksi dini berupa skala perilaku, dan penayangan video intervensi anak ADD. Acara ini dihadiri oleh guru TK & PAUD, Guru SD, orang tua dan pemerhati anak.

Lebih lanjut Melani Arnaldi menyampaikan bahwa, anak dengan ADD memiliki masalah dalam belajar.  Sikapnya yang introvert atau pendiam membuat orang sering kali salah paham dan mengelompokkan anak ADD ke dalam anak lambat belajar (slow learner).  Diantara kelemahan anak ADD lainnya adalah ketika mereka harus menambah atau memanipulasi angka.  Mereka memiliki masalah dua langkah pengerjaan tugas di kepala mereka. Mereka dapat menyelesaikan setiap langkah secara individual. Mereka dapat mengingat barang dan juga siapa pun. Gangguan yang terjadi dari ADD menjadi jelas ketika jumlah tugas dan barang yang dihitung meningkat.

Secara neuropsikologi cara lain untuk melihat kondisi anak ADD adalah bahwa sistem sarafnya memiliki rasio sinyal / noise yang buruk. Sehingga stimulus dari saraf harus diingat dan diintegrasikan untuk secara khusus bagi anak dengan ADD. Oleh karena itu, mereka akan “mengalami gangguan emosional” lebih buruk dari orang lain. Mereka akan membutuhkan infus adrenalin yang lebih besar untuk mengisi bahan bakar sistem. Dalam keadaan yang tepat, ketika cukup termotivasi, anak-anak dengan ADD dapat berkinerja baik, tetapi sulit mempertahankan kinerjanya.

 

Oleh karena itu anak ADD memiliki ciri:

  • ADD (ADHD dari subtipe yang tidak mampu memusatkan perhatian tanpa Hiperaktivitas adalah gangguan ADHD yang berbeda yang termasuk hiperaktif.
  • ADD memberikan contoh masa kanak-kanak pada sindrom dysexecutive yang ditetapkan. yaitu dalam hal perencanaan, penyelesaian masalah, pengurutan tindakan, penugasan dan organisasi tugas, usaha dan pengejaran tujuan terus-menerus, penghambatan impuls yang bersaing, fleksibilitas dalam pemilihan sasaran, dan resolusi konflik-tujuan.
  • Defisit kognitif atau berpikir utama ADD adalah dalam working memory. Metode instruksional yang menempatkan tuntutan tugas yang banyak intruksi bagi anak ADD tidak menguntungkan.
  • Masalah bahasa sering terjadi bersamaan dengan ADD.  Disarankan bahwa subjek tugas linguistik, terutama yang verbal, sehingga membutuhkan insentif. Keterampilan spasial dan artistik, bagaimanapun, sering unggul pada anak dengan ADD.
  • Defisit memori kerja pada banyak anak dengan ADD disertai dengan waktu reaksi yang sangat lambat. Hal ini sepintas menunjukkan anak ADD seperti anak lambat belajar (slow learner)
  • Individu dengan ADD mengalami kesulitan mempertahankan tingkat motivasi yang cukup tinggi untuk suatu tugas dan mudah sekali cepat bosan. Mereka mencari sesuatu yang lain karena mereka bosan, daripada tidak mampu menahan gangguan dari lingkungan. Masalah mereka tidak begitu banyak sehingga mereka dapat diganggu karena mereka mudah bosan. Mereka sepenuhnya mampu berhasil mengabaikan gangguan bahkan kuat. Mereka mampu mengurangi tingkat gairah mereka dan meningkatkan tingkat gairah dan perhatian mereka.

Perbedaan antara anak ADHD dengan ADD secara umum terlihat jelas.  Secara umum anak ADHD kurang self-conscious sedangkan anak ADD memiliki self-conscious yang lebih.  Kedua kelompok ini mengalami masalah sosial, namun dengan alasan yang berbeda.  Anak ADHD mengalami masalah sosial karena mengganggu anak lainnya seperti mengambil barang milik orang lain, gagal dalam menunggu giliran, dan secara umum bertindak tanpa memikirkan akibatnya serta perasaan orang lain.  Di sisi lain, anak dengan ADD memiliki masalah sosial karena terlalu pasif, malu, dan menarik diri.  Perilaku diam dan respon yang lambat dari anak ADD cenderung memilki masalah sosial karena diterjemahkan berbeda oleh orang disekitarnya.  Mereka dianggap berperilaku tidak memiliki minat atau tidak merespon dengan baik. Perilaku ini sering kali orang salah menangkap bahwa anak ADD diangap sebagai anak lambat belajar (slow learner). Anak ADHD cenderung ekstrovert sedangkan anak ADD tidak.  Oleh karena perilaku yang mengganggu, anak ADHD sering dihukum bahkan dikeluarkan dari sekolah.  Anak ADHD sering komorbid dengan conduct disorder dan agresivitas.  Sedangkan anak ADD lebih menunjukkan pada gangguan internalisasi seperti kecemasan dan depresi.  Bahkan jika tidak menunjukkan gangguan pada internalisasi, anak ADD cenderung menunjukkan lebih terisolasi di lingkungannya.

Penanganan anak dengan ADD bagi orang tua adalah mereka perlu diarahkan dengan kelembutan.  Karena anak dengan ADD memiliki obsesi terhadap suatu hal yang kuat.  Hal ini terjadi akibat adanya masalah pada fungsi eksekutif (executive function).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.