Seminar Kupas Tuntas Gangguan Pemusatan Perhatian, Hiperaktivitas, & Impulsivitas: Deteksi Dini Anak ADHD oleh Orang Tua & Guru

Seminar KP ADHD-9
Foto bersama Melani Arnaldi dengan peserta Seminar Kupas Tuntas Gangguan Pemusatan Perhatian, Hiperaktivitas, dan Impulsivitas (ADHD), 22 September 2018 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam rangka meluaskan wacara kesulitan belajar, deteksi dini, dan penanganannya bagi orang tua, guru, dan stake holder pendidikan, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengadakan acara Seminar Kupas Tuntas Gangguan Pemusatan Perhatian, Hiperaktivitas, dan Impulsivitas (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder).   Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 22 September 2018 di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, bersama pembicara Dr. (cdt.). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi, Kepala Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.

Melani Arnaldi memaparkan bahwa Gangguan Pemusatan Perhatian, Hiperaktivitas, dan Impulsivitas (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) atau disebut ADHD adalah salah satu kasus dalam kesulitan belajar.  Anak ADHD murni cendrung memiliki tingkat kecerdasan atau IQ di atas rata-rata.    Namun karena kesulitan dalam memusatkan perhatian dan bermasalah dalam perilaku seperti hiperativitas serta impulsivitas, mereka mengalami pencapaian nilai akademis yang rendah.  Anak ADHD juga sering lalai dalam pengerjaan tugas dan juga bermasalah dalam sosialisasi sehingga mengalami stigma di sekolah sebagai anak bandel.

Seminar KP ADHD-8
Sesi pemaparan materi dan tanya jawab bersama Melani Arnaldi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Masalah ADHD terjadi disebabkan karena adanya masalah neurobiologis atau pada struktur di otak.  Gangguan neurobiologis ini terjadi pada berbagai area di otak di antaranya pada prefrontal cortex dan bagian parietal.  Hal ini mempengaruhi fungsi kerja otak serta fungsi psikologis pada individu.  Terlihat masalah yang terjadi pada anak ADHD diantaranya sulit memusatkan perhatian, sulit untuk mengembalikan emosinya pada saat terjadi peristiwa yang buruk, sering lupa dengan barang miliknya, dan sulit untuk mempriopritaskan tugas dari yang penting hingga yang tidak penting.

Secara umum anak ADHD dalam fungsi psikologis mengalami masalah pada fungsi eksekutif dan keterlambatan perkembangan self-awareness. Permasalahan di fungsi eksekutif menyebabkan anak ADHD diantaranya bermasalah dalam problem solving, memori, dan perencanaan. Berdasarkan scan EEG, anak ADHD terjebak dalam gelombang tetha, dimana aktivitas gelombang tetha lebih tinggi dibandingkan gelombang betha. Oleh karena itu, penanganan ADHD harus intesif dan juga disesuaikan dengan jenis masalah yang dialami yaitu apakah pada pemusatan perhatian, hiperaktivitas, impulsivitasnya, atau terjadi kombinasi.  Dipaparkan juga dalam acara, bahwa kasus kesulitan belajar ini sering terjadi komorbiditas atau menumpuknya dua gangguan atau lebih pada satu anak. ADHD dapat komorbid dengan Disleksia, Diskalkulia, Gangguan Oppositional Defiant Disorder, Conduct Disorder, dan lainnya.

Seminar KP ADHD-3
Sesi video intervensi dan penjelasan deteksi dini yang dapat dilakukan oleh orang tua serta guru (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Secara umum gangguan ADHD sifatnya menetap atau perpasif.  Masalah ini pada anak sudah dapat terdeteksi sejak usia dini.  Diantaranya dari sifat yang mudah tantrum dan serta hiperaktif dibandingkan dengan anak normal seusianya.  Namun seiring tumbuh kembang anak dan intervensi yang tepat sejak dini, intensitas masalah ADHD akan menurun.    Anak ADHD yang diintervensi sejak dini serta dengan pola asuh yang baik, akan memiliki strategi dari kekurangannya tersebut.  Banyak anak ADHD yang berprestasi serta sukses di usia dewasa dengan bimbingan orang tua serta terapi yang disiplin. Terapi yang dapat dilakukan sejak dini antara lain terapi sensori integrasi, terapi sensori integrasi metakognitif, terapi metakognitif, fisioterapi, neurofeedback, dan mindfulness.

Acara ini dihadari oleh orang tua, psikolog, mahasiswa profesi psikologi Universitas Padjajaran, terapis, guru SD, TK, dan PAUD.  Peserta antusias dalam acara ini dan interaktif dalam sesi pengenalan teori, penayangan video, studi kasus, serta pengenalan skala deteksi dini. Pada acara ini, dijelaskan tentang skala deteksi dini yang dapat digunakan oleh guru dan orang tua, yaitu skala self-regulation dan skala perkembangan self-awarenes. Serta skala yang dapat digunakan oleh psikolog dan terapis yaitu skala inhibisi pada fungsi eksekutif.  Skala ini dapat digunakan untuk mendeteksi anak yang diduga mengalami ADHD dan jika masalahnya cukup mengganggu yaitu terjadi penurunan pencapaian akademis serta mengganggu teman atau di kelas, maka anak dapat dirujuk ke psikolog atau dokter anak untuk dilakukan penegakan diagnosa serta diintervensi lebih awal.  Peserta berharap agar acara ini dapat diperluas kepada khalayak yang lebih luas untuk meningkatkan kepedulian atas wacana kesulitan belajar di sekolah formal (Ags/ Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.