DETEKSI DINI STRES DAN DEPRESI

Stres perkotaan
Rutinitas dan mobilitas masyarakat perkotaan rentan memicu stres akut (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Stres! Itulah yang sering diungkapkan saat pikiran kita kalut atau banyak permasalahan.  Namun jika ditelaah lebih lanjut, stres tidak hanya bersifat psikis saja.  Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental.  Oleh karena itu, saat tubuh kita merasakan tekanan dari luar baik fisik, psikis, emosi maupun mental maka tubuh dapat memberikan respon.

Secara umum pemicu stres atau stressor dapat didefinsikan sebagai segala tantangan yang muncul dari dalam atau luar yang mengganggu internal tubuh kita.  Tubuh kita akan merespon stressor yang terlibat dalam berbagai mekanisme fisiologi yang dirancang untuk mengembalikan homeostasis. Homeostasis adalah suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya.

Saat stres datang keseimbangan tubuh terganggu akibat respon yang diberikan.  Rasa marah, kecemasan, dan lain-lain memicu reaksi kimia dalam neurotransmiter dan hormon di dalam tubuh.  Karena prinsip homeostasis inilah, tubuh memiliki mekanisme untuk mengembalikan kekacauan yang terjadi hingga kembali menjadi normal.  Apabila mekanisme homestasis tubuh secara internal tidak baik atau tidak mampu mengembalikan kepada keadaan sebelum stress, maka perlu adanya mekanisme dari luar dalam bentuk intervensi baik secara psikologi maupun medis.  Hal ini ditujukan agar kondisi tubuh menjadi lebih baik dan meminimalisir kerusakan yang terjadi di dalam jaringan,organ ataupun sistem organ yang bekerja.

Stres, Imun Tubuh, dan Penyakit Kronis

penyakit akibat stres.JPG
Stres dapat menyebabkan penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular, kanker, asma, dan infeksi virus akut (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Di sisi lain, stres ternyata berdampak kepada berbagai penyakit kronis.  Hal ini terkait dengan hubungan antara sistem susunan saraf pusat (SSP) dan sel-sel imun periferal (sel T) dari organ limfoid.  Sistem Limfoid adalah sel-sel sistem imun ditemukan dalam jaringan dan organ. Organ Limfoid primer atau sentral diperlukan untuk pematangan, diferensiasi dan proliferasi sel T dan B sehingga menjadi limfosit yang mengenal antigen. Ada dua organ yang terlibat yaitu kelenjar timus dan Bursa Fabricius (sumsum tulang).

Otak sebagai bagian dari susunan saraf pusat, dapat mengintervensi sistem imun atau kekebalan tubuh.  Hal ini terjadi saat stres psikis terjadi menghambat banyak fungsi dari sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu jika tubuh mengalami stres dan otak menangkap sinyal tersebut maka akan mempengaruhi produksi sel imun.  Penelitian psikoneuroimunologi menemukan bahwa stres dapat menurunkan kekebalan tubuh bahkan dapat menyebabkan penyakit auto imun.  Hal ini terjadi karena sinyal dalam sel dan tubuh yang berfungs untuk memerintahkan pengaktifan sel imun terganggu karena produksi hormon stres.

Stres yang berkepanjangan dan mengarah kepada depresi dapat menyebabkan terjadinya peradangan atau inflamasi pada tubuh.  Telah ditemukan bahwa pasien yang mengalami depresi berat (Major Depresive Disorder) di dalam tubuhnya memproduksi biomarker inflamasi dan memicu kerja sistem kekebalan tubuh.  Di sisi lain, inflamasi atau peradangan periferal, baik yang sifatnya sedang atau akut, jelas mempengaruhi fungsi otak.  Melemahnya tubuh dan terjadinya peradangan pada jaringan, khususnya jaringan saraf dapat disebabkan karena pengaruh usia dan juga stres psikis.  Pengaruh tersebut dapat terlihat dari gangguan kelelahan yang terjadi, di mana dapat menjadi penyakit yang sifatnya psikiatrik atau kejiwaan.  Stres yang terjadi akan merangsang produksi hormon stres atau kortisol sehingga menghambat kerja imun tubuh.

Studi tentang berbagai penyakit menemumkan bahwa stres secara psikologi dapat memnyebabkan penyakit perdangan kronis, kanker, penyakit kardiovaskulas, infeksi akut dan kronis dari virus (misal HIV, Hepatitis) spesis, asma, dan lainnya.  Oleh karena itu penting untuk menjaga kesehatan mental agar penyakit-penyakit ini tidak menyerang karena faktor psikis yang tidak tertangani.

Cegah Penyakit Kronis dengan Mengetahui Tingkatan Stres yang Dialami

Oleh karena itu jangan anggap remeh stres. Uraian di atas menjelaskan bagaimana stres berpengaruh kepada tubuh dan menyebabkan berbagai penyakit dan infeksi kronis.  Bagi penduduk perkotaan dengan aktivitas dan mobilitas yang tinggi rentan terhadap stres.  Berbagai tuntutan fisik dan sosial yang terjadi di perkotaan seringkali  tidak dimbangi dengan kemampuan untuk memenuhinya.  Hal ini seringkali mengakibatkan frustasi yang berujung kepada stres dan depresi.

Permasalahan gaya hidup di perkotaan juga rawan terhadap pencegahan stres,depresi sistem kekebalan tubuh.  Pola makan yang buruk, kurangnya olah raga, dan pola tidur yang tidak cukup adalah faktor yang dapat memperburuk kondisi tubuh jika stres menyerang. Asupan nutrisi yang tidak seimbang serta rutinitas yang mengganggu jam biologis tubuh rentan memicu stres secara fisik yang ditandai oleh kelelahan tubuh.

Deteksi dini stres dan depresi berdasarkan uraian di atas sudah menjadi keharusan.  Hal ini perlu dilakukan khususnya bagi penduduk perkotaan dengan tingkat stres yang tinggi.  Tingginya aktivitas, rutinitas, dan mobilitas penduduk perkotaan dapat memicu stres baik fisik maupun psikis.  Hal ini tidak hanya terjadi pada pekerja atau orang dewasa saja, namun juga dapat terjadi pada anak dan remaja yang bersekolah.

Oleh karena itu deteksi dini stres melalui serangkaian tes psikologi dan neurobiologi dapat mengukur kondisi individu dengan akurat.  Tes ini akan melihat bagaimana kondisi internal individu.  Tes Psikologi bertujuan melihat faktor kepribadian, keadaan mental, atau kejiwaan seseorang dapat menahan stres yang terjadi.  Sejauh mana stres yang dialami telah mempengaruhi kondisi mental, seperti regulasi emosi, pola pikir, dan bagaimana individu melihat dunia sekitarnya. Tes neurobiologi dilakukan dengan pengukuran EEG.  Test ini ditujukan untuk melihat kondisi neurotransmiter dan aktivitas dari bagian-bagian otak individu yang terpengaruh karena stres.

Hasil tes yang dilakukan dapat dijadikan acuan intervensi ataupun tindakan lanjut dari permasalahan yang dialami.  Berbagai macam intervensi dapat dilakukan untuk individu yang mengalami stres.  Intervensi tersebut dapat berupa secara psikologis maupun medis.  Terapi CBT, Terapi Mindfulness, Terapi Akupuntur Laser Weber, dan Terapi Obat dapat menjadi pilihan alternatif dari permasalahan ini.  Terapi ini penting dilakukan agar permasalahan stres yang terjadi tidak berkembang menjadi masalah kronis seperti penyakit kanker, kardiovaskular (jantung), infeksi virus akut dan lainnya (Ags/Klinik Psikonerologi Hang Lekiu).

 

Referensi

Straub, R.H. & Cutolo, M. (2018). Psychoneuroimmunology-developments in stress research. Wien Med Wochenschr. 2018 Mar;168(3-4):76-84. doi: 10.1007/s10354-017-0574-2. Epub 2017 Jun 9.

Won, E. & Kim, Y. (2016). Stress, the autonomic nervous system, and the immune-kynurenine pathway in the etiology of depression. Current Neuropharmacology, 2016, 14, 665-673

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.