TERAPI DEPRESI DENGAN AKUPUNTUR WEBER

Pengaruh Cahaya Terhadap Sindrom Depresi    

Gangguan mood telah lama dikaitkan dengan cahaya (khususnya cahaya matahari) dan ritme sirkadian (proses biologis yang menunjukkan perputaran endogen dan berulang setiap sekitar 24 jam). Salah satu contohnya adalah gangguan afektif musiman di mana suasana hati berosilasi antara dysthymia (gangguan depresi) selama hari pendek di musim dingin panjang dan euthymia selama hari-hari musim panas yang panjang (Bedrosian & Nelson, 2017).

Sebagian dari hipotalamus mengontrol ritme sirkadian. Faktor cahaya seperti terang dan gelap juga bisa berdampak pada hal ini. Ketika gelap di malam hari, mata mengirim sinyal ke hipotalamus bahwa sudah waktunya untuk merasa lelah. Otak pada gilirannya, mengirimkan sinyal ke tubuh untuk melepaskan melatonin, yang membuat tubuh Anda lelah. Itulah mengapa ritme sirkadian cenderung bertepatan dengan siklus siang dan malam.  Hal ini menjelaskan  mengapa sangat sulit bagi pekerja shift untuk tidur di siang hari dan tetap terjaga di malam hari.

Glukokortikoid penting dalam respon stres melalui peran mereka dalam aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal, di mana mereka terlibat dalam loop umpan balik negatif untuk mempertahankan konsentrasi homeostatik hormon stres. Disregulasi glukokortikoid telah dikaitkan dengan sejumlah gangguan mood; khususnya, hypercortisolemia terdeteksi pada subset pasien depresi mayor. Cahaya secara langsung mempengaruhi sekresi glukokortikoid pada manusia, menunjukkan paparan cahaya yang salah berinteraksi dengan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal dan respon stres (Bedrosian &  Nelson, 2017).  Sirkadian menyebar sebagian besar sistem yang diyakini mengendalikan suasana hati, termasuk daerah otak limbik, neurotransmitter monoamina dan hipotalamus-hipofisis – sumbu adrenal (Bedrosian & Nelson, 2017).

Fenomena ini menjadi dasar dalam terapi cahaya (phototherapy).  Dimana cahaya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sel mahluk hidup dan pada akhirnya berdampak pula kepada jaringan, ogran, dan sistem organ. Oleh karena itu cahaya memiliki efek   terhadap depresi, maka hal ini pun dijadikan landasan dalam terapi depresi dengan menggunakan cahaya atau phototherapy.

Phototherapy

Alikasi baru dan menarik dari phototherapy adalah di psikiatri, di mana hasil yang menggembirakan telah dicapai dalam pengobatan gangguan afektif musiman, yang relatif umum di negara-negara Nordik karena musim dingin yang gelap (Lingjærde, 1993).  Depresi yang dihasilkan dari gangguan ini dikaitkan dengan rendah tingkat serotonin neurotransmitter di otak. Paparan cahaya meningkatkan tingkat ini, sehingga mengarah pada pengentasan gejala (Deguchi, 1979).

Pada awalnya penggunaan sinar laser terutama untuk penyembuhan luka dan penghilang rasa sakit, aplikasi medis terapi laser tingkat rendah (low-level laser therapy / LLLT) atau photobiomodulation, telah diperluas untuk memasukkan penyakit seperti stroke, infark miokard, degeneratif atau gangguan otak traumatic (traumatic brain injuri) (Hashmi, et al., 2010).

Tinjauan ini akan mencakup mekanisme LLLT yang beroperasi baik pada tingkat seluler dan jaringan. Mitokondria dianggap sebagai fotoreseptor utama, dan peningkatan adenosin trifosfat, spesies oksigen reaktif, kalsium intraseluler, dan pelepasan nitrat oksida adalah kejadian awal. Aktivasi faktor transkripsi kemudian mengarah ke ekspresi banyak produk gen pelindung, anti-apoptosis, anti-oksidan, dan pro-proliferasi (Hashmi, et al., 2010). Mekanisme biokimia dari terapi laser ini adalah dengan merangsang sel. Secara umum, ada struktur seluler spesifik yang mampu menyerap panjang gelombang tertentu (warna) cahaya (dikenal sebagai fotoreseptor).  Pemberian sinar laser atau cahaya merangsang fotoreseptor Stimulus cahaya memberikan sinyal seluler yang mempengaruhi perilaku kimia, metabolisme, gerakan dan ekspresi gen. Semua enzim dan atau protein yang terkait dengan pemberian cahaya menjadi terpengaruh. Alur biokimia ke bawah ini dapat melintasi seluruh sel (Weber, 2017).

Weber2
Mekanisme biokimia perngaruh cahaya pada tingkatan sel (Weber, 2017) [Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu]
LLLT mempromosikan sintesis asam deoksiribonukleat (DNA) dan RNA dan meningkatkan produksi protein. Ini juga memodulasi aktivitas enzimatik, mempengaruhi pH intraseluler dan ekstraseluler, dan mempercepat metabolisme sel. Ekspresi beberapa gen yang terkait dengan proliferasi seluler, migrasi, dan produksi sitokin dan faktor pertumbuhan juga telah ditunjukkan untuk dirangsang oleh cahaya tingkat rendah (Hashmi, et al., 2010).

Salah satu metode terapi phototherapy adalah dengan pemberian intravenous laser dengan sinar kuning.  Hal ini  memberikan efek terhadap depresi, yaitu meningkatkan serotonin dan memperbaiki sistem hormon tubuh (Weber, 2017).

Weber1
Pemberian intravenous endolaser Weber (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

LLLT mempunyai efek pada pengobatan gangguan kognitif dan emosional pada manusia. Sebuah studi percontohan menunjukkan bahwa LLLT diterapkan secara transkranial ke dahi mampu meningkatkan aliran darah korteks frontal dan menginduksi pengurangan 63% dalam skor depresi pada sekelompok pasien dengan depresi berat. Efek antidepresan yang menguntungkan terlihat 2 minggu dan 4 minggu setelah pengobatan tunggal (Rojas & Gonzalez-Lima, 2011).

Weber3
Terapi Weber Trankranial (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Efek transkranial dari LLLT pada otak yang bermanfaat telah diamati pada cedera otak anoxic, stroke atherothrombotik, stroke embolik, stroke iskemik, cedera otak traumatis akut, cedera otak traumatis kronis, neurodegenerasi, kehilangan memori yang berkaitan dengan usia, dan gangguan kognitif dan suasana hati. . Tidak ada efek samping yang merugikan yang dilaporkan dalam aplikasi bermanfaat LLLT pada hewan dan manusia. (Rojas & Gonzalez-Lima, 2011).

Efek Sinar Laser Terhadap Depresi

Pemberian sinar laser dapat meningkatkan serotonin pada tubuh (Weber, 2017). Serotonin memainkan peran dalam patofisiologi depresi berasal dari studi tentang “rendahnya kadar tryptophan”, di mana manipulasi diet ekstrim digunakan untuk menghasilkan penurunan zat tersebut. Sementara aktivitas serotonin otak diamati melalui berkurangnya ketersediaan asam amino prekursor yaitu tryptophan. Pengamatan uji tersebut pada peserta sehat tanpa faktor risiko depresi, penipisan tryptophan tidak menghasilkan perubahan suasana hati yang signifikan secara klinis.  Namun, pasien depresi yang sembuh bebas pengobatan dapat menunjukkan gejala singkat depresi karena kekurangan zat tersebut yang relevan secara klinis (Cowen & Browning, 2015).

Lebih lanjut Cowen dan Bowning (2015) menjelaskan bahwa turunnya kadar tryptophan diharapkan akan merusak efek serotonin, yang mengarah ke akses lebih besar ke pola berpikir negatif. Pada individu di mana pola pemikiran negatif yang sangat suram telah terbentuk selama episode depresif sebelumnya, penurunan kadar tryptophan dapat menyebabkan pengalaman tersebut mudah terjadi kembali.  Hal ini pun akan mengarah pada kembalinya gejala depresi yang signifikan secara klinis.

Pemberian laser juga dapat memperbaiki hormon tubuh (Weber, 2017).  Produksi hormon ini berkaitan dengan tingkat depresi.  Telah diketahui bahwa perubahan hormonal dapat menyebabkan perubahan emosional yang signifikan dan sebaliknya, karena perubahan dalam sistem saraf pusat, tindakan hormon pada reseptor spesifik atau oleh perubahan metabolik.  Oleh karena itu, gangguan endokrin sebagai penghasil homon di tubuh menjadi salah satu kemungkinan penyebab depresi. Hormon corticotrophin, kortisol, estrogen, progesteron dan hormon tiroid diidentifikasi sebagai hormon utama yang berhubungan dengan depresi. Hormon-hormon ini sangat penting untuk fungsi metabolisme yang tepat, oleh karena itu, diamati bahwa perubahan hormonal dapat berkontribusi pada perkembangan depresi serta memperburuk atau bahkan menghambat perawatan pasien yang sudah memiliki gangguan (de Souza Duarte, 2017).

Referensi

Cowen, P.J. & Browning, M.  (2015). What has serotonin to do with depression? World Psychiatry 14:2 – June 2015.

de Souza Duarte, N., de Almeida Corrêa, L. M., Assunção, L. R., de Menezes, A. A., de Castro, O. B., & Teixeira, L. F. (2017). Relation between Depression and Hormonal Dysregulation. Open Journal of Depression, 6, 69-78. https://doi.org/10.4236/ojd.2017.63005

Hashmi J.T., Huang, Y.Y., Sharma, S.K., Kurup, D.B., De Taboada, L., Carroll, J.D., & Hamblin, M.R., (2010). Effect of pulsing in low-level light therapy. Lasers Surg Med. 2010 Aug;42(6):450-66. doi: 10.1002/lsm.20950.

Rojas, J.C.,  & Gonzalez-Lima, F. (2011). Low-level light therapy of the eye and brain. Eye and Brain, 2011:3 49–67

Weber, M. (2017). WeberSystemic (Intravenous) Laser Therapy with the Weberneedle® Endolaser Technology. Diakses dari http://www.ec3health.com/wp-content/uploads/2017/06/IV-Laser-Presentation.pdf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.