Launching Biosel Belmont Clinic & Klinik Tumbuh Kembang Bayi, Balita, serta Daycare Cabang Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

Perkembangan masalah atau gangguan psikologis tidak hanya dilakukan terapi secara psikologis. Pada beberapa gangguan dapat juga dilakukan treatment secara medis. Di latar belakangi dengan perkembangan terkini tersebut, maka pada tanggal 18 Februari 2018 diadakan launcing pembukaan Biosel Belmont Clinic, di Apartment Belmont Residence, Tower Athena, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat.

IMG-20180218-WA0005

Launching Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180218-WA0010

Foto bersama staf Biosel Belmont Clinic beserta tamu, Prof. Dr. Mutia Hatta (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Biosel Belmont Clinic memberikan beberapa pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus seperti anak dengan autism dan anak dengan cerebral palsy. Pelayanan yang diberikan berupa terapi imun serta terapi sel punca (stem cell). Pelayanan ini berada dalam supervise dari Prof. Dr. Med. Fred Frandrich dari Jerman.  Beberapa paten yang dimiliki oleh beliau dan terdaftar di United States Patent and Trademark Office (USPTO) adalah dalam terapi sel punca.

IMG-20180218-WA0011.jpg

Foto bersama staf dan pemilik Klinik Psikoneurologi dan Biosel Belmont Clinic dengan Prof Dr. Med. Fred Fandrich (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada acara pembukaan ini juga sekaligus pembukaan cabang Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dengan pelayanan day care serta klinik tumbuh kembang anak serta balita di Tower Athena, Apartment Belmont Resideng. Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memiliki fasilitas yang sama antara lain ruang terapi metakognitif, ruang sensori integrasi, ruang terapi bermain, dan ruang assessment.

IMG-20180220-WA0020

Ruang Terapi Metakognitif (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0003

Ruang Terapi Bermain (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0004

Ruang Terapi Sensori Integrasi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0006

Ruang Terapi Bayi (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0007

Ruang Play Ground (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180217-WA0009

Ruang Terapi Belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada acara tersebut dilakukan juga demo alat serta fasilitas yang ada di Biosel Belmont Clinic dan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Beberapa demo yang dilakukan antara lain pelayanan terapi sensori integrasi, terapi metakognitif, terapi neurofeedback, terapi bermain, dan treatment medis. Para tamu dan undangan selain melakukan demo uji treatment, juga melakukan tinjauan terhadap fasilitas yang tersedia di klinik.

IMG-20180220-WA0002

Ruang treatment Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0003

Ruang treatment Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

IMG-20180220-WA0004

Ruang Test Psikologi Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0005

Ruang Konseling dan Rapat Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0007

Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0008

Ruang Konsultasi Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0009

Lobi  Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0010

Lobi Biosel Belmont Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0012

Lobi  Biosel Belmont Clinic(Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

IMG-20180220-WA0013

Ruang Treatment Biosel Belmont  Clinic (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

(Agus/Klinik Psikoneurologi Hang lekiu)

TERAPI METAKOGNITIF UNTUK SISWA TINGKATAN SMA

Kasus kesulitan belajar di tingkatan SMA memiliki tantangan yang besar. Hal ini dikarenakan tidak hanya masalah intelegensi yang menjadi tantangan, namun juga materi pelajaran di sekolah formal Indonesia yang cukup berat dan banyak. Tercatat di sekolah formal berkurikulum nasional, siswa tingkat SMA minimal memiliki 12 mata pelajaran. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi ini membutuhkan pendekatan yang dapat mengatasi permasalahan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa serta tantangan kurikulum.

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu mengembangkan terapi metakognitif untuk anak kesulitan belajar yang dirancang oleh Melani Arnaldi dan dipublikasikan pada International Conference on Educational and Educational Psychology (ICEEPSY) pada tahun 2011 di Turki. Melani Arnaldi menjabarkan parameter proses kognitif yang dapat digunakan untuk mengukur dan intervensi anak kesulitan belajar. Paramater ini diterapkan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dalam proses terapi dan pelatihan bagi siswa kesulitan belajar.

Cognitive Process

Parameter Proses Kognitif Melani dalam mengukur dan intervensi untuk anak kesulitan belajar (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada tingkatan SMA, siswa sudah harus mampu melakukan evaluasi dan kreativitas dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Tahapan ini adalah tahapan pada tingkatan mahir dimana siswa di tingkatan SMA akan dipersiapkan ke perguruan tinggi ataupun dunia kerja

Pada tahapan evaluasi, siswa dilatih dalam kemampuan melakukan penilaian dari sejumlah pemahaman yang telah diperoleh. Penilaian tidak hanya berkaitan dengan pengujian sejauh mana seseorang telah menguasai informasi agar lebih tepat memecahkan masalah. Dalam tahapan ini seseorang harus memiliki tidak hanya kemampuan dasar dalam berpikir tetapi juga strtagei dalam berpikir. Karena strategi berpikir akan membantu kecepatan seseorang di dalam melakukan evaluasi. Dalam hal ini pelatihan ditujukan untuk menghilangkan unsur subyektifitas sehingga memiliki obyektivitas dalam berpikir, karena kemampuan evaluasi merupakan proses pengujian kemampuan diri yang dapat dinilai juga oleh orang lain (Reynold, miller & weiner, 2009).

Bloom (Krathwol, 2001) membagi evaluasi dalam dua tahap, yaitu: Checking dan critique. Checking adalah kemampuan mendeteksi ketidakonsistenan atau fallacies di dalam proses atau produk, menentukan apa saja process atau product memiliki konsistensi internal. Mendeteksi keefektifan prosedur yan dapat diimplementasikan. Dengan mengkoordinasikan, mendeteksi, memonitoring dan testing. Critiquing berguna untuk mendeteksi ketidak konsistenan antara produk dan criteria eksternal, menentukan prosedur untuk memberikan sebuah problem.

Pada tahapan creativity atau kreativitas kreatifitas tidak hanya membutuhkan suatu kemampuan kognitif tetapi juga afektif. Kemampuan kognitif yang tinggi meliputi memori, berpikir kritis, berpikir deduktif, analogi dan inferensi. Kemampuan afektif yang tinggi meliputi perasaan nyaman untuk mengembangkan rasio, perasaan, intuisi dan sensing yang membutuhkan hubungan intimitas yang kondusif bersama orang disekelilingnya. Kemampuan afektif antara lain adalah Rasio, Perasaan, Intuisi dan Sensing. Kombinasi kognitif dan afektif sangat penting karena sifat dari kreatifitas itu sendiri, yaitu original, psikodelik dan iluminatif.

 

Merangkum SMA

Proses Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkat SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Taksonomi Bloom (Anderson & Krathwol, 2006) menggambarkan dengan jelas proses kreatifitas berpikir, yaitu Generating, Planning dan Producing. Generating adalah kemampuan untuk mengumpulkan sejumlah hipothesis, pengalaman dan pengetahuan yang relevan. Dengan mengumpulkan fakta, teori dan fakta nyata. Planning adalah kemampuan membuat perencanaan dan kerangka kombinasi dari sejumlah hipothesis diatas menjadi suatu rangkaian hubungan atau kombinasi atau alternatif baru. Producing adalah kemampuan membuat suatu keputusan dari sejumlah alternatif di atas yang telah diuji untuk menghasilkan suatu produk baru yang sesuai dengan kebutuhan situasional.

Merangkum SMA-2

Pelatihan dan Intervensi Metakognitif pada Siswa Tingkatan SMA (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Berdasarkan uraian di atas, siswa tingkat SMA harus mampu melakukan evaluasi dan kreatifitas berpikir terhadap materi pelajaran yang diberikan. Mereka harus mampu melakukan checking dan critique materi pelajaran di tahapan evaluasi. Pada tahapan kreativitas berpikir mereka juga harus mampu melakukan generating, planning, dan producing dari materi pelajaran. Proses ini dilakukan siswa dengan merangkum materi pelajaran dan mempresentasikan di depan audiens. Hal ini selain melatih evaluasi dan kreativitas berpikir, juga melatih kepercayaan diri, verbal fluency, dan keterampilan berkomunikasi.

Presentasi SMA-1

Presentasi Siswa Tingkatan SMA pada Pelatihan dan Intervensi Metakognitif (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

Pada akhirnya dengan menerapkan pelatihan metakognitif pada tahapan evaluasi dan kreativitas berpikir, siswa tingkatan SMA tidak hanya menuntaskan materi pelajaran atau bacaan dari buku teks. Namun mereka juga mampu mengaplikasikan materi pelajaran di kehidupan sehari-hari (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

 

PELATIHAN OTAK TENGAH DENGAN NEUROFEEDBACK

Pelatihan otak tengah adalah terapi yang digunakan untuk membantu mengenali emosi individu dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosinya dengan baik.  Hal ini dilakukan melalui proses pelatihan keseimbangan antara perasaan dan pikiran dengan melatih konsentrasi individu. Individu yang mengalami masalah perkembangan otak tengah akan berdampak kepada perkembangan emosi. Pelatihan ini salah satunya dengan menggunakan alat neurofeedback.

Proses EEG

Pelatihan Neurofeedback untuk keseimbangan emosi dan pikiran atau pelatihan otak tengah (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Neurofeedback adalah sejenis biofeedback yang mengukur gelombang otak untuk menghasilkan sinyal yang bisa dijadikan umpan balik untuk mengajarkan pengaturan fungsi otak sendiri.

Biofeedback didefinisikan sebagai proses untuk mendapatkan kesadaran yang lebih besar terhadap banyak fungsi fisiologis terutama dengan menggunakan instrumen yang memberikan informasi tentang aktivitas sistem yang sama, dengan tujuan untuk dapat memanipulasinya sesuka hati. Beberapa proses yang bisa dikendalikan meliputi gelombang otak, nada otot, kelarutan kulit, denyut jantung dan persepsi nyeri. Pada pelatihan neurofeedback, informasi yang digunakan sebagai pelatihan adalah gelombang otak.

Neurofeedback biasanya diberikan dengan menggunakan video atau suara, dengan umpan balik positif untuk aktivitas otak yang diinginkan dan umpan balik negatif untuk aktivitas otak yang tidak diinginkan.

Salah satu alat yang digunakan dalam melakukan pelatihan neurofeedback adalah EEG (elektroensephalografi). EEG membaca aktivitas listrik otak, khususnya pikiran. Manusia memiliki sekitar 86 miliar neuron di otak yang mengendalikan seluruh tubuh Anda dan membangkitkan pikiran di kepala. Neuron ini menyala dengan frekuensi tertentu. Perangkat EEG membaca frekuensi ini dengan membaca aktivitas listrik yang diproduksi oleh neuron. Para ilmuwan telah sepakat untuk membagi frekuensi ini di pita frekuensi yang berbeda. Semua pita frekuensi telah dipelajari secara intensif dan dikaitkan dengan beberapa keadaan pikiran:

Gelombang Delta (1-3 Hz): Meditasi terdalam dan tidur nyenyak

Gelombang Theta (4-7 Hz): Tidur normal dan meditasi normal

Gelombang Alpha (8-12 Hz): Relaksasi / refleksi

Gelombang Beta (13-30 Hz): Pemikiran aktif, fokus, waspada tinggi, cemas

Gelombang Gamma (31-50 Hz): Sadar persepsi

Gelombang Otak

Gelombang otak yang digunakan dalam pengukuran EEG dan Neurofeedback (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada pelatihan neurofeedback di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, individu akan dihubungkan dengan perangkat EEG melalui Bluetooth dengan beberapa aplikasi untuk melatih fokus atau meditasi. Contohnya adalah pelatihan dimana individu harus “fokus” atau “bermeditasi” untuk mencapai suatu tujuan.  Pelatihan ini akan mengukur dan melatih mental individu dari gelombang otak yang diolah oleh aplikasi neurofeedback.

keseimbangan meditasi dan fokus

Pelatihan keseimbangan antara emosi dan pikiran dengan pengukuran pada gelombang otak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Bagaimana mengatur pikiran dan kondisi mental sehingga mampu berkonsentrasi tinggi secepat mungkin dan membuat diri menjadi relaks selama mungkin dalam keadaan sadar. Pelatihan yang diberikan seperti permainan memindahkan bola, atau mengangkat balon. Seperti yang dapat dilihat dari uraian di atas, meditasi dan fokus adalah gelombang otak yang berlawanan. Pelatihan ini melatih kemampuan individu dalam mempertahankan keseimbangan antara emosi dan pikirannya dalam keadaan sadar.  Hal ini terlihat bagaimana menyeimbangkan antara meditasi dan fokus pada saat yang bersamaan.

Oleh karena itu harus relatif tidak mudah bagi pengguna perangkat untuk menyimpang dari pelatihan yang diberikan dengan neurofeedback.  Hal ini juga akan melatih regulasi emosi dari pelatihan-pelatihan konsentrasi yang diberikan kepada individu sehingga regulasi perilakunya menjadi baik (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).