Mengenal Sistem Inderawi dan Sensory Processing Disorder (SPD)

Sensory Processing Disorder (SPD) adalah kondisi neurofisiologis di mana masukan sensorik atau inderawi baik dari lingkungan atau dalam tubuh menjadi kurang terdeteksi, dimodulasi atau diolah, ditafsirkan dan  atau direspons tidak sesuai dengan yang diharapkan (Miller, 2013 dikutip dari Kopp & Schier, 2016).

Secara spesifik dapat dijelaskan bahwa sensory processing dalam manusia melibatkan penerimaan dari stimulus fisik, transduksi dari stimulus ke dalam impuls syaraf, dan persepsi, serta pengalaman secara sadar dari indera.  Proses ini adalah dasar untuk belajar, mempersepsi, dan bertindak.  (Kandel, Schwartz, & Jessell, 2000; Shepherd, 1994 dikutip dari Ahn, Miller, Milberger, & McIntosh, 2004). Gangguan dapat terjadi pada beberapa atau keseluruhan dari sistem indrawi termasuk tactile, auditory, visual, gustatory, olfactory, proprioceptive, and vestibular  (Bundy & Murray, 2002; Kandel et al.; Reeves, 2001 dikutip dari Ahn, Miller, Milberger,&  McIntosh, 2004). Ganguan sensori ini dapat berdampak negatif kepada perkembangan dan kemampuan fungsi dari perilaku, emosi, motorik, dan kognitif atau berpikir (Kandel et al.; Shepherd, 1994 dikutip dari Ahn, Miller, Milberger, & McIntosh, 2004).

Prevalensi SPD pada anak usia taman kanak-kanak cukup tinggi. Berdasarkan penelitian Ahn, Miller, Milberger, dan McIntosh (2004)  bahwa berdasarkan persepsi dari orang tua dengan anak usia taman kanak-kanak saat penerimaan siswa baru, anak yang mengalami SPD dapat mencapai 5,3%.  Disi lain, Kopp dan Schier (2016) menjelaskan  bahwa SPD dapat juga terjadi pada orang dewasa.  Prevalensi pada anak sekitar 5-16 %, 70-90% anak bahkan individu dewasa yang mengalami austism spectrum disorder (ASD) memliki gangguan dalam sensory processing, dan 40-60% anak dengan ADHD mengalami SPD. Gambaran ini menunjukkan angka yang cukup tinggi sehingga perlu diwasapadai oleh orang tua, guru TK, maupun PAUD.

Indikator SPD meliputi respon motor, perilaku, perhatian, atau adaptasi yang tidak tepat atau bermasalah berikut atau mengantisipasi stimulasi sensorik. Perbedaan sensorik hanya dianggap sebagai “kelainan” ketika hal itu menyebabkan kesulitan yang signifikan dengan rutinitas dan tugas sehari-hari (misalnya individu tidak dapat menyalin atau memberi kompensasi) (Kopp & Schier, 2016).

Penyebab dari SPD dapat berupa:

› Genetik atau keturunan dari keluarga

› Komplikasi saat sebelum kelahiran atau saat proses kelahiran

› Faktor Lingkungan

(Kopp & Schier, 2016).

 

8 Sistem Inderawi

› Auditory

auditory.png
Gambar 1. Auditory system (http://nobaproject.com/modules/hearing)

Hal ini disebut juga kemampuan pendengaran yaitu kemampuan untuk mengkodekan dan membedakan suara atau nada yang berbeda, yang, menurut beberapa teori kecerdasan.  Hal ini dibedakan dari kemampuan visual atau penglihatan dari jenis yang digunakan dalam membedakan rangsangan penglihatan (VandenBos, 2015).

 

› Visual

afferent-visual-pathway-5-638
Gambar 2. Visual System (https://www.slideshare.net/AmrHasanNeuro/afferent-visual-pathway)

Kemampuan mengenali cahaya dan menerima objek hasil pemantulan cahaya.  Sistem visual adalah bagian dari sistem saraf pusat yang memberi organisme kemampuan untuk memproses detail visual, serta memungkinkan terbentuknya beberapa fungsi pengambilan foto non-gambar. Ini mendeteksi dan menafsirkan informasi dari cahaya tampak untuk membangun representasi lingkungan sekitar. Sistem visual melakukan sejumlah tugas kompleks, termasuk penerimaan cahaya dan pembentukan representasi monokular; penumpukan persepsi binokular nuklir dari sepasang proyeksi dua dimensi; identifikasi dan kategorisasi objek visual; menilai jarak ke dan antar benda; dan membimbing gerakan tubuh dalam kaitannya dengan objek yang dilihat (VandenBos, 2015).

 

› Rasa (Gustatory)

300px-Tongue_-_taste_cartoon
Gambar 3. Gustatory  system (Jayaram Chandrashekar, Mark A Hoon, Nicholas J P Ryba, Charles S Zuker The receptors and cells for mammalian taste. Nature: 2006, 444(7117);288-94 PubMed 17108952)

Indera kimiawi yang mengenali  molekul dimana terlarut dalam cairan ludah di lidah, termasuk sensasi dari asin, manis, asam, dan pahit dan berbagai kemungkinan sensasi yang memungkinkan ketika dikombinasikan dengan penginderaan olfactory (penciuman) dan tactile atau sentuhan (VandenBos, 2015).

 

› Penciuman (Olfactory).

olfactory
Gambar 4. Olfactory system (http://brainmind.com/OlfactoryLimbicSystem.html)

Penciuman adalah penginderaan olfactory atau kapasitas pengideraan untuk mendeteksi kehadiran senyawa kimia tertentu di udara (Mastumoto, 2009). Molekul kimia yang berada di udara ini diserap ke dalam lender di hidung dan distimulasikan kepada syaraf penerima olfactory dimana mereka diubah menjadi pesan-pesan syaraf. (VandenBos, 2015).  Secara sederhana proses inderawi ini adalah bagaimana individu mampu merasakan bau dari lingkungan.

 

› Sentuhan (Tactile)

0654a68c875289ebd3ded2535ac51774
Gambar 5. Tactile Sensory (https://id.pinterest.com/pin/365636063471694268/)

Sensasi yang dihasilkan oleh kontak dari objek kepada permukaan kulit.  Kepekaan dari sentuhan ervariasi dalam bagian-bagian tubuh yang berbeda.  Misalnya di bibir dan jari-jari lebih sensitive dibandingkan dengan bagian belakangnya (VandenBos, 2015).  Secara sederhana dapat digambarkan bagaimana individu mampu merasakan sentuhan dari lingkungan.

 

› Vestibular

VESTIBULAR-SYSTEM-FRONT-PAGE
Gambar 6. Vestibular system (https://ilslearningcorner.com/2016-04-vestibular-system-your-childs-internal-gps-system-for-motor-planning-and-attention/)

Vestibular adalah penginderaan terhadap posisi dan gerakan.  Sistem ini berada di dalam tubuh yang bertanggungjawab untuk mempertahankan keseimbangan, bentuk tubuh, dan orientasi tubuh dalam ruang serta berperan penting dalam kendali pergerakan tubuh.  Sistem ini terdiri atas bagian-bagian vestibular di dalam telinga, syaraf vestibular, dan beberapa bagian cortical yang berhubungan dengan pemerosesan informasi vestibular atau keseimbangan (VandenBos, 2015).

 

› Proprioceptive

propioception
Gambar 7. Propioceptive system (http://mathewhawkesphysiotherapy.blogspot.co.id/2013/09/proprioception.html)

Propioceptive adalah system dari sendi dan penginderaan dari otot.  Dapat diuraikan kemampuan ini adalah untuk mengambil atau memahami, adalah rasa posisi relatif dari bagian tubuh seseorang dan kekuatan usaha yang dipekerjakan dalam gerakan.  Pada manusia, ini diberikan oleh proprioseptor (spindle otot) pada otot dan tendon laring kerangka (organ tendon Golgi) dan kapsul fibrosa pada persendian. Hal ini dibedakan dari exteroception, yang dengannya seseorang merasakan dunia luar, dan interosepsi, dimana seseorang merasakan rasa sakit, kelaparan, dan lain-lain, dan pergerakan organ dalam.

Otak mengintegrasikan informasi dari proprioception dan dari sistem vestibular ke dalam keseluruhan perasaan posisi tubuh, gerakan, dan akselerasi. Kata kinesthesia atau kinæsthesia (pengertian kinestetik) secara ketat berarti perasaan gerakan, namun telah digunakan secara tidak konsisten untuk merujuk pada proprioception saja atau integrasi otak dari input proprioseptif dan vestibular

 

› Interoception System

Interoception_and_the_body.png
Gambar 8. Interioception System (https://en.wikipedia.org/wiki/Interoception)

Hal ini berkaitan dengan penginderaan dari organ-organ di dalam tubuh.  Ini mencakup proses pengintegrasian sinyal otak yang disampaikan dari tubuh ke subregional tertentu – seperti batang otak, talamus, insula, somatosensori, dan korteks anterior cingulate – yang memungkinkan adanya representasi nuansa keadaan fisiologis tubuh. (Craig, 2002; Oliver, 2002).  Hal ini penting untuk menjaga kondisi homeostatik atau keseimbangan system di dalam tubuh (Simmons & Barret, 2015) di dalam tubuh dan, berpotensi, membantu dalam kesadaran diri (2009).

 

Pengelompokan SPD

SPD dapat dikelompokan sebagai berikut

diagram-spd
Gambar 9. Pengelompokkan SPD

Secara umum pada SPD yang dapat diamati pada anak di bawah 5 tahun adalah pada gangguan SMD (Sensory Modulation Disorder). SMD  adalah penurunan dalam mendeteksi, memodulasi, menafsirkan, atau merespons rangsangan sensorik (Kopp & Schier, 2016). SMD dapat dikelompokkan menjadi SOR, SUR, dan SC.

Sensory-Over Responsivity (SOR)

Ganguan ini didefinisikan sebagai hipersensitivitas terhadap sensasi (rangsangan visual, suara, sentuhan, gerakan, selera, bau) (Kopp & Schier, 2016). Anak atau individu yang mengalami SOR sangat peka terhadap rangsangan yang diterima oleh indera.  Sensasi indera bagi orang normal yang biasa saja, namun bagi mereka sangat luar biasa dan dapat menyakitkan.  Anak atau individu dengan SOR memiliki perilaku sebagai berikut:

  1. Merespon terlalu banyak, terlalu sering, atau terlalu lama untuk stimuli sensorik
  2. Dapatkan agresif atau impulsif saat diliputi oleh rangsangan sensorik
  3. Mudah marah, rewel, moody (emosi hiperaktif)
  4. Tidak dapat diterima; menghindari aktivitas kelompok, kesulitan membentuk hubungan (social scene terlalu berlebihan)
  5. Terlalu berhati-hati dan takut mencoba hal baru
  6. Kesal karena perubahan transisi dan tak terduga  (Kopp & Schier, 2016)

 

Sensory-Under Responsivity (SUR)

SUR didefiniskan jika individu kurang sensitif terhadap dan kurang menyadari rangsangan sensorik daripada kebanyakan orang (Kopp & Schier, 2016).  Individu yang mengalami SUR lambat bahkan tidak peka terhadap respon yang diterima oleh inderawi.  Anak atau individu dengan Sensory-Under Responsivity (SUR) memiliki perilaku

  1. Ambang rasa sakit tinggi
  2. Tidak diperhatikan saat disentuh
  3. Tidak sadar harus pergi ke kamar mandi
  4. Biasanya lebih memilih aktivitas yang tidak banyak aktivitas
  5. Pasif, tenang, ditarik
  6. Sulit untuk terlibat dalam interaksi sosial
  7.  Terlalu lambat untuk merespons arah
  8. Kurang motivasi atau dorongan (Kopp & Schier, 2016)

 

Sensory Craving (SC)

Individu tampaknya membutuhkan stimulus sensoris yang jauh lebih banyak daripada kebanyakan orang (Kopp & Schier, 2016).  Anak atau individu yang mengalami Sensory Craving dapat berperilaku:

  1. Terus bergerak
  2. Suka menabrak, melompat, perumahan kasar
  3. Berlebihan berputar, berayun, goyang
  4. Terus-menerus menyentuh benda atau orang
  5. Mencari getaran
  6. Seperti jam tangan berputar
  7. Konstan berbicara; masalah berubah dalam percakapan (Kopp & Schier, 2016) (Agus/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Oleh karena itu, jika anak di bawah 3 tahun memiliki gangguan SPD agar segera diperiksakan kepada ahli yaitu dokter anak atau psikolog.  Hal ini penting agar dapat dirujuk untuk dilakukan intervensi atau terapi.  Terapi okupasi, sensori integrasi, dan fisioterapi sensori motorik adalah beberapa intervensi yang dapat dilakukan untuk anak dengan gangguan SPD.  Intervensi sejak dini akan mempermudah perbaikan yang terjadi karena didukung oleh tumbuh kembang anak yang terjadi dalam masa emas pertumbuhan yaitu dibawah 6 tahun (Agus/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

Ahn, R. R., Miller, L. J., Milberger, S., & McIntosh, D. N. (2004). Prevalence of parents’ perceptions of sensory processing disorders among kindergarten children. American Journal of Occupational Therapy, 58, 287–293.

Anderson, D.M. (1994). Mosby’s Medical, Nursing & Allied Health Dictionary, 4th eds., Mosby-Year Book .

Barrett, L.F. & Simmons, W.K. (2015). Interoceptive predictions in the brain. Nature Reviews Neuroscience. 16 (7): 419–429. doi:10.1038/nrn3950

Craig, A.D. (2009). “How do you feel — now? The anterior insula and human awareness”Nature Reviews Neuroscience. 10 (1): 59–70. doi:10.1038/nrn2555

Craig, A.D.(2002) “How do you feel? Interoception: the sense of the physiological condition of the body”Nature Reviews Neuroscience. 3 (8): 655–666. doi:10.1038/nrn894

Kopp, K., & Schier, T. (2016). Making Sense Out of Sensory Processing Disorder. Diakses 12 November 2017 dari http://depts.washington.edu/lend/pdfs/Making_Sense_Sensory_Processing_Disorder103114.pdf

Oliver, G.C.  (2002). Visceral sensory neuroscience : interoception. Oxford: Oxford University Press. ISBN 0195136012OCLC 316715136

Matsumoto, D. [Ed]. 2009. The Cambrige dictionary of psychology. New York: Cambridge University Press

VandenBos, G.R. [Ed]. (2015). APA dictionary of psychology. 2nd eds. Washington, DC: APA.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.