Perubahan Struktur Otak Karena Depresi -II

Perubahan Stuktur Otak Pasien Depresi dan MDD

Kondisi yang paling relevan dengan uraian di atas adalah studi pencitraan saraf (neuroimaging) secara struktural yang menunjukkan bahwa individu dengan MDD  mungkin memiliki hippocampus yang relatif kecil bahkan selama periode tingkat keparahan yang berkurang secara klinis atau remisi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kemunculan penyakit yang berulang atau bertahan lama, serta kurangnya pengobatan antidepresan diperkirakan berkontribusi pada penurunan volume hippocampus yang cepat, dimana pada gilirannya dapat menjelaskan masalah ingatan pada beberapa pasien, serta beberapa gejala kelainan lainnya. (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).  Hal ini dapat dibuktikan bahwa individu yang mengalami depresi fungsi memory yang lemah dibandingkan dengan individu normal.

Otak MDD
Gambar 2. Perubahan Struktur Otak Terkait Depresi (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa terjadi perubahan stuktur otak karena MDD.  Beberapa bagian otak mengalami penyusutan volume pada individu dengan MDD dibandingkan dengan individu normal.  Bagian tersebut yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate, ventral striatum, amygdala, dan hippocampus.  Namun ada juga bagian dari otak yang mengalami kenaikan volume yaitu kelenjar pituitary.  Di sisi lain, berdasarkan penelitian terjadi kenaikan dan penurunan aktivitas bagian otak.  Bagian otak yang mengalami kenaikan aktivitas yaitu amygdala dan orbitofrontal cortex.  Sedankan bagian otak lainnya yang mengalami penurunan aktivitas yaitu anterior cingulate cortex, prefrontal cortex, subgenual cingulate,  dan ventral striatum.

Pada gambar 2 dapat dijelaskan yaitu (A) Stimulasi magnetik transkranial prefrontal dorsolateral cortex dan (B) stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate telah terbukti memiliki efek antidepresan pada beberapa pasien. Dasar pemikiran untuk stimulasi otak dalam dari subgenual cingulate atau ventral striatum sebagian besar didasarkan pada temuan penyimpangan fungsional nuklear di wilayah ini. (C) Stimulasi saraf Vagus mungkin memiliki sifat antidepresan melalui pengaruhnya terhadap lokus koeruleus, area di otak berasal dari mana neuron norepinephrine berasal (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Pasien mungkin juga mengalami kelainan volumetrik di daerah otak subkortikal lainnya, termasuk amygdala dan ventral striatum, dan di daerah korteks, termasuk anterior cingulate cortex,  orbitofrontal cortex dan prefrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kelainan otak struktural dan fungsional pada pasien dengan gangguan MDD, dan lokasi tindakan teknik neurostimulasi baru dengan potensi antidepresan. Kelainan struktur pada otak pasien dengan gangguan MDD  telah diamati di daerah kortikal dan subkorteks. Bagian anterior cingulate cortex (ACC), terutama subgenual cingulate, dapat menunjukkan pengurangan volume (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009)..

ACC terletak di bagian depan otak berupa bagian melengkung yang lebih curam dari korteks cingulate, struktur di otak depan yang membentuk kerah di sekitar corpus callosum. Bagian ini terbagi menjadi dua area yang berbeda yang diyakini memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas. Dorsal anterior cingulate cortex (dACC), sering dianggap sebagai divisi “kognisi” atau berpikir, terlibat dalam berbagai fungsi eksekutif, seperti alokasi perhatian, kesalahan dan deteksi keterbaruan, modulasi working memory, kontrol berpikir, konflik respon, dan pemilihan respons. Ventral anterior cingulate cortex (vACC), yang sering dianggap sebagai divisi “emosi”, dianggap terlibat dalam menengahi kecemasan, ketakutan, agresi, kemarahan, empati, dan kesedihan; dalam merasakan sakit fisik dan psikologis; dan dalam mengatur fungsi otonom (misal, tekanan darah, detak jantung, respirasi). Meskipun mekanisme yang tepat dimana proses ini terjadi di ACC tetap tidak diketahui, para periset telah berteori bahwa hubungan timbal balik antara dACC dan vACC membantu menjaga keseimbangan antara pemrosesan kognitif dan emosional sehingga memungkinkan pengaturan sendiri (VandenBos, 2015).  Oleh karena itu tidak mengherankan jika individu dengan gangguan depresi mengalami perubahan emosi yang ekstrem dan tidak terkendalinya fungsi kerja berpikir.

Perubahan struktur otak dari individu dengan MDD juga telah diamati di subregional lain dari prefrontal cortex dan juga di orbitofrontal cortex (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Prefrontal cortex adalah bagian paling depan (depan) dari cerebrall cortex pada setiap frontal lobe dari otak.  Derah ini dibagi menjadi daerah dorsolateral dan daerah orbitofrontalPrefrontal cortex berfungsi dalam perhatian, perencanaan, ingatan kerja, dan ekspresi emosi dan perilaku sosial yang tepat; Perkembangannya pada manusia sejajar dengan peningkatan kontrol berpikir dan penghambatan perilaku saat individu tumbuh menjadi dewasa. Sebaliknya, kerusakan pada korteks prefrontal menyebabkan gangguan emosional, motorik, dan kognitif. Juga disebut area hubungan frontal (VandenBos, 2015).

Selain itu perubahan struktur otak individu depresi dapat diamati pada daerah subkortikal dimana pengurangan volume telah diamati meliputi amygdala, hippocampus dan striatum ventral (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009). Amygdala memliki peran penting dalam ingatan, emosi, dan persepsi terhadap ancaman dan belajar dari rasa takut. Sedangkan hippocampus berperan dalam memori dan pembaljaran (VandenBos, 2015).  .

Hal ini juga dapat bertahan selama fase remisi atau berkurangnya tingkat keparahan yang terjadi dimana hal ini mungkin membantu menjelaskan mengapa pasien dalam fase remisi terus bereaksi berlebihan terhadap rangsangan yang mengancam.Reaktivitas kognitif atau respon berpikir yang terjadi ini berkontribusi pada risiko kekambuhan di masa depan (aan het Rot, Mathew, & Charney, 2009).

Kertekaitan Fungsi Psikologis dan Fungsi Biologis Otak

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa  gangguan psikologis yang berkepanjangan yaitu MDD dapat merubah struktur biologis otak atau sturktur neurobiologi.  Hal ini sudah tentu juga akan mempengaruhi fungsi psikologis dari otak.  Salah satu fungsi psikologis yang terganggu adalah fungsi berpikir atau kogntif.  Sering kali orang dengan MDD tidak dapat berpikir jernih dan sesuai dengan realita atau fakta sehingga muncul delusi dan halusinasi.  Oleh karena fungsi berpikirnya terganggu, maka emosi dan perilakunya pun menjadi buruk.  Akibatnya individu dengan MDD tidak mampu berfungsi secara sosial dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Seperti digambarkan di atas, hal ini terjadi karena otak tidak mampu bekerja secara optimal.  Gangguan neurobiologis yang terjadi berdampak terhadap sekresi atau produksi neurotransmitter yang berpengaruh kepada fungsi berpikir atau kognitif.  Sinyal-sinyal listirk pada syaraf di otak tidak mampu berjalan dengan normal sehingga berpengaruh terhadap proses pengolahan informasi atau fungsi psikologis ini.  Inilah alasan mengapa individu MDD tidak mampu berpikir layaknya individu normal.

Oleh karena itu pada pasien MDD, untuk mengembalikan fungsi psikologinya kembali normal, salah satunya  yaitu fungsi berpikir atau kognitif maka perlu dilakukan terapi psikologi dan juga terapi obat.  Kombinasi obat dan terapi psikologi dilakukan karena sudah terjadi perubahan pada struktur otak atau terjadinya gangguan pada fungsi biologis.  Di sisi lain, gangguan psikologis yang terjadi tetap harus diperbaiki melalui pelatihan atau terapi sehigga fungsinya terperbaiki.

Pemberian antidepresan sebagai terapi obat perlu diawasi dengan ketat agar efektif bagi pasien.  Karena pemberian antidepresan juga memiliki efek samping yang buruk jika digunakan dalam jangka panjang.   Hal ini perlu diimbangi dengan terapi psikologi, yaitu dengan melatih fungsi berpikir dari individu dengan MDD.  Salah satu terapi psikologi atau psikoterapi yang dilakukan adalah dengan CBT (Cognitive Behavior Therapy).  Melalui CBT, individu dengan MDD dilatih untuk menyelaraskan emosi, pikiran, dan perilaku negatif yang terjadi menjadi positif.  Proses ini dilakukan minimal dengan 12 sesi  sehingga terjadi perubahan yang signifikan dan menetap (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Daftar Pustaka

VandenBos, G.R. [Ed]. (2015). APA dictionary of psychology. 2nd eds. Washington, DC: APA.

aan het Rot, Marije. Mathew, S.J., & Charney, D.S. (2009). Neurobiological mechanisms in major depressive disorder. CMAJ, February, 3, 2009, 180(3).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.