Bagaimana Mekanisme Terjadinya Depresi pada Remaja?

Mekanisme Depresi

 

Rendahnya pencapaian akademis siswa, khususnya remaja di tingkatan SMP hingga universitas harus dilihat secara cermat.  Seringkali rendahnya pencapaian akademis tersebut selain karena adanya kasus kesulitan belajar (ADHD, Slow learner, dan lain-lain), hal tersebut juga dapat dikarenakan adanya faktor depresi.  Hal ini perlu dicermati oleh orang  tua, guru mata pelajaran, ataupun guru bimbingan konseling.

 

Proses tumbuh kembang pada remaja adalah masalah yang krusial.  Sering kali mereka berkonflik dengan lingkungan baik orang tua, teman, dan guru dalam proses mencari jati diri mereka.  Peristiwa-peristiwa negatif yang terjadi dalam hidup remaja ini seringkali dapat memicu stress dan jika tidak dapat ditanggulangi akan berlanjut kepada depresi.  Bagi remaja dengan daya tahan stress tinggi tentu hal ini mampu dioleh menjadi hal yang positif.  Namun bagi remaja dengan daya tahan stress rendah, jika tidak didukung dengan lingkungan seperti orang tua, teman, dan guru sudah tentu dapat berakibat buruk dimana mengarah kepada depresi.

 

Depresi dapat didefinisikan sebagai sebuah kondisi pikiran yang ditandai dengan suasana hati yang buruk, energi yang rendah, kehilangan minat dalam aktivitas rutin, munculnya pikiran yang tidak nyata tentang diri dan masa depan, serta penarikan diri dari lingkungan sosial.

 

Perkembagan neuropsikologi telah mampu menjelaskan bagaimana proses depresi yang terjadi. Penelitian Beck (2008) menjelaskan bagaimana temuan terbaru telah mengkombinasikan dari perilaku genetik, dan neurosains kognitif dengan akumulasi penelitian yang terintegrasi.  Penelitian telah mampu mendeskripsikan adanya hubungan yang lebih lanjut antara kemampuan berpikir (kognitif), kepribadian, dan psikologi sosial sebagaimana digambarkan dari observasi klinis, pengembangan model dari model awal kognitif yang diintgerasikan dengan tahapan pikiran otomatis, distorsi kognitif, difungsi kepercayaan, dan bias pada pemerosesan informasi.

 

Berdasarkan uraian tersebut, faktor depresi tidak hanya semata-mata karena peristiwa yang dialami oleh individu yang mengganggu proses berpikir.  Akan tetapi juga ada pengaruh biologi dan genetik dimana individu memiliki amigdala yang hipersensitif. Amigdala berfungsi di dalam fungsi otomatis dari memori, emosi,  dan persepsi terhadap ancaman dan rasa takut.   Akibatnya peristiwa yang dimaknai biasa saja oleh beberapa orang, dapat dianggap sebagai ancaman dan stressor oleh individu yang memiliki amigdala hipersensitif.

 

Beck (2008) menjelaskan bahwa model perkembangan mengidentifikasi pengalaman traumatis awal dan pembentukan disfungsi kepercayaan sebagai kejadian awal dan pemicu stresor di kemudian hari dimana hal ini sebelumnya terpendam.  Saat ini mungkin untuk membuat sketsa jalur genetik dan neurokimia yang berinteraksi dengan atau sejajar dengan variabel kognitif. Amigdala yang hipersensitif dikaitkan dengan polimorfisme genetik dan pola bias kognitif negatif dan disfungsi kepercayaan dimana hal itu merupakan faktor risiko depresi. Selanjutnya, kombinasi antara amigdala hiperaktif dan prefrontal region yang bersifat kurang aktif atau hipoaktif dikaitkan dengan penilaian kognitif yang berkurang dan terjadinya depresi. Polimorfisme genetika juga terlibat dalam reaksi berlebihan terhadap stres dan hiperkortisolemia dalam perkembangan depresi – yang mungkin terjadi karena distorsi kognitif.

 

Beck figure 1
Proses terjadinya depresi karena munculnya peristiwa negatif  (Beck, 2008)

Pada gambar 1 dijelaskan bahwa berbagai kejadian atau peristiwa dapat mengakibatkan perilaku buruk dan bias terhadap diri seorang individu.  Hal ini terintegrasi dengan pengorganisasian kemampuan berpikir (kognitif) dalam membentuk skema yaitu  kerangka atau gambaran yang membantu individu dalam mengorganisasikan informasi-informasi suatu fenomena yang diperhatikan individu.  Skema ini kemudian menjadi aktif oleh sejumlah peristiwa yang menimpa pada kerentanan dari kemampuan berpikir (cognitive vulnerability) sehingga mengarah kepada pikiran negatif yang sistematis dimana merupakan inti dari depresi (Beck, 2008).

Beck figure 2
Gambar 2. Model mekanisme depresi (Beck, 2008)

Pada gambar 2 dijelaskan bagaimana mekanisme depresi yang terjadi.  Individu dengan gen yang mudah depresi (genetic vurnerability) akan mengarakan kepada reaksi yang berlebihan dari amigdala. Reaktivitas limbik yang meningkat terhadap kejadian emosional secara signifikan memicu penyebaran sumber daya attentional yang meningkat ke kejadian semacam itu, diwujudkan oleh bias dan pemanggilan informasi negatif (reaktivitas kognitif). Fokus selektif pada aspek negatif dari pengalaman menghasilkan distorsi kognitif yang familiar seperti pembesar-pembesar, personalisasi, dan overgenerialisasi dan, akibatnya, dalam pembentukan sikap disfungsional mengenai kecukupan, akseptabilitas, dan nilai pribadi. Respons berulang terhadap interpretasi negatif bentuk isi skema kognitif (tidak dapat dicintai, tidak memadai, tidak berharga).

 

Pada saat bersamaan, interpretasi negatif terhadap pengalaman berdampak pada HPA axis dan menggerakkan siklus yang telah dijelaskan sebelumnya yang melibatkan sistem serotonergik yang terlalu aktif dan akibatnya menyebabkan depresi. HPA axis adalah sistem neuroendokrin (syaraf-hormon) tubuh yang melibatkan hypothalamus (bagian dari otak kecil, red.), kelenjar hormon pituitary, dan kelenjar adrenal (kelenjar yang terletak melekat pada bagian atas ginjal). Sistem komunikasi kompleks ini bertanggungjawab untuk menangani reaksi stress dengan mengatur produksi kortisol, sejenis hormon dan merupakan mediator rangsang syaraf.

 

Untuk memperbaiki fungsi berpikir (kognitif), neurobiologi, dan neurokimia otak dari remaja yang mengalami depresi salah satunya adalah dengan terapi CBT.  Melalui sesi terapi CBT, remaja akan dilatih dalam melakukan problem solving dan memperbaiki kesalahan berpikir (distorsi kognitif) terhadap masalah yang dihadapi sehingga depresi yang dialami akan menurun dan kembali normal.  Proses dari CBT ini akan melatih kerja prefrontal cortex sebagai fungsi utama berpikir dan logika serta menekan kerja dari amigdala yang berfungsi terhadap emosi, memori, dan persepsi ancaman dan rasa takut. Dengan memperbaiki pola pikir melalui CBT, maka individu yang mengalami depresi akan memperbaiki kondisi psikologisnya yang secara langsung akan juga memperbaiki fisologi dari invidu tersebut.

Daftar Pustaka

Beck, A.T., (2008). Evolution of cognitive model of depression. Am J Psychiatry Beck; AiA:1–9

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.