SLOW LEARNER DAN PENANGANAN DI SEKOLAH FORMAL

Seminar Slow Learner
Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi., Psi. sebagai pembicara tunggal di acara “Seminar Introduction to Learning Disability & Neuropsychology: Kupas Tuntas Slow Learner”, Sabtu, 19 Agustus 2017 (Klinik Psikonurologi Hang Lekiu)

Secara umum anak slow learner dapat diketahui dari pencapaian skow IQ berkisar 70-90.  Dimana anak dengan slow learner sering kali mengalami kegagalan dalam pencapaian akademisnya.  Mereka juga sering kalah bersaing dengan teman sebayanya.  Akibatnya anak slow learner dapat mengalami gangguan emosional dan perilaku.  Di sisi lain, anak slow learner tidak dapat dibedakan secara fisik dengan anak normal.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi., M.Psi.,Psi. dalam Seminar Introduction to  Learning Disability: Kupas Tuntas Slow Learner”, Sabtu, 19 Agutus 2017 di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu.  Acara ini dihadiri oleh perwakilan guru dan psikolog dari sekolah dasar dan PKBM atau Homeschooling di Jakarta Selatan.  Perwakilan sekolah tersebut anatara lain SD Gemala Ananda, SD Islam Al Azhar 1 (Pusat), PKBM Kramat Pela, PKBM Pelita, PKBM Kalibata, dan Homeschooling Edukasi.

IMG20170819102055.jpg
Foto bersama peserta seminar dengan Dr. (cndt). Melani Arnaldi, S.Psi.,M.Psi.,Psi., Sabtu, 19 Agustus 2017 (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara tersebut disampaikan bahwa penyebab terjadinya slow learner karena adanya keterlambatan perkembangan sejak dalamkandungan, dimana biasanya hal ini terjadi karena genetik atau keturunan.  Lebih lanjut, slow learner akan menunjukkan gangguan dalam kelemahan daya tangkap indera dan lambatnya kecepatan proses informasi di otak.  Namun biasanya anak slow learner akan mengalami perbaikan saat usianya mencapai di atas 14 tahun.  Mereka akan mengalami pencapaian yang sama dengan anak normal lainnya pada usia tersebut.

Oleh karena itu dalam menghadapi anak slow learner, guru di sekolah sudah selayaknya memahami kondisi anak tersebut.  Proses remedial yang dilakukan di sekolah pun lebih berat dibandingkan anak lainnya.  Hal ini terjadi karena anak slow learner mengalami masalah dalam proses pemanggilan informasi (retrieval) dan recall memory.  Meskipun anak slow learner secara umum mampu mempertahankan konsentrasi dan tampak lebih tekun, namun kesulitan dalam hal pengolahan informasi.  Sehingga guru harus mampu menyederhanakan bahasa dan kosa kata yang digunakan kepada anak slow learner agar mereka mampu menangkap kata kunci dalam proses belajar menjadi lebih mudah.  Selain itu juga dalam pemberian tugas kepada anak slow learner diharapkan agar guru mempermudah mereka misalnya tugas yang diberikan lebih sedikit karena memang mereka mengalami masalah dalam pemerosesan informasi.

Berkaitan dengan kebijakan inklusi dan juga penerimaan siswa baru, Melani Arnaldi menyampaikan bahwa sering kali  sekolah kecolongan dengan menerima anak slow learner.  Hal ini terjadi karena proses seleksi yang tidak ketat.  Di sisi lain juga anak slow learner biasanya menampakkan kegagalan dalam akademis saat kelas 3 SD.  Oleh karena itu, sudah selayaknya sekolah dengan kebijakan inklusi memberikan standar yang berbeda dalam pencapaian KKM kepada anak slow learner dibandingkan anak normal.

IMG20170819093041.jpg
Pemutaran video pengenalan slow learner dan video kasus intervensi slow learner (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Dalam acara tersebut disajikan pula pemutaran video pengenalan slow learner dan deteksi dini gangguan kesulitan belajar oleh Agus Syarifudin, S.Si, asisten Riset di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu. Peserta antusias dalam sesi tanya jawab dalam kegiatan seminar ini yang dibawakan oleh Melani Arnaldi sebagai pemibicara tunggal.  Para guru menanyakan bagaimana deteksi dini, trik dan tips menanangani anak slow learner di kelas khususnya di sekolah dasar.  Dan juga bagaimana menghadapi orang tua agar dibantu proses belajar anak slow learner di rumah.     (Ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.