Gangguan Bicara dan Berbahasa pada Anak Keterlambatan Bicara

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu telah mengadakan seminar Speech Delay atau Keterlambatan Bicara dalam rangkaian “Seminar Introduction to Learning Disability and Neurpscyhology “ pada Sabtu, 12 Februari 2017.

 

Acara tersebut di hadiri oleh Guru PAUD, TK, SD, dan mahasiswa Fakultas Psikologi dari UIN Syarif Hdayatullah Jakarta.   Acara ini cukup mendapat respon yang positif dari peserta.  Mereka cukup antusias mengikuti penjelasan dari Dr. (candt). Melani Arnaldi, M.Psi., Psi. sebagai pembicara utama di seminar tersebut.

WhatsApp Image 2017-05-28 at 08.37.19
Foto bersama Dr. (candt). Melani Arnaldi, M.Psi., Psi bersama peserta seminar “Speech Delay (Keterlambatan Bicara) di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dalam acara ini dijelaskan bahwa keterlambatan bicara adalah salah satu deteksi dari gangguan tumbuh kembang pada anak dimana dapat bermuara kepada berbagai jenis gangguan pada anak.  Keterlambagan bicara pada anak usia dini dapat merujuk kepada gangguan ADHD, Slow learner, Autisme, Gangguan Pendengaran atau tuna rungu, dan lain-lain. Oleh karena itu deteksi dini anak yang mengalami keterlambatan bicara atau speech delay menjadi penting bagi guru PAUD, TK, ataupun orang tua agar dapat diantisipasi dengan merujuk kepada ahli sejak dini.

 

Dijelaskan oleh Dr. (candt). Melani Arnaldi, M.Psi., Psi., keterlambatan bicara adalah hambatan bicara yang terjadi akibat adanya gangguan pada kemampuan bicara. Kemampuan bicara tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengeluarkan suara tetapi juga berkaitan dengan kemampuan dalam memahami isi pembicaraan.

WhatsApp Image 2017-05-28 at 08.37.19 (1)
Peserta seminar Speech Delay (Keterlambatan Bicara) antusia dalam sesi testimoni dan berbagi pengalaman menghadapi anak keterlambatan bicara (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Secara umum, keterlambatan bicara terdiri atas dua gangguan yaitu gangguan berbicara dan gangguan berbahasa.  Oleh karena itu guru PAUD, TK ataupun SD pada kelas bawah harus peka terhadap permasalahan ini.  Ciri dari gangguan tersebut dapat dijelaskan di bawah ini.

Neuropsikologi Berbahasa
Neuropsikologi dalam berbahasa dan aktivitas lobus di otak terkait dengan aktivitas bicara dan berbahasa (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Pada gangguan berbicara ditandai dengan:

  1. Pengucapan kata yang salah dan tidak sesuai dengan perkembangan usia
  2. Menunjukkan adanya ketidaklancaran dalam berbahasa
  3. Memiliki kualitas suara yang buruk
  4. Berbicara dengan suara keras atau pelan yang sangat berlebihan

 

Sedangkan pada kasus gangguan berbahasa dapat ditandai dengan:

  1. Adanya permasalahan dari berbahasa
    1. Phonology
    2. Morphology
    3. Syntax
  2. Adanya Permasalahan Isi dari Bahasa (semantik)
  3. Adanya masalah dalam penggunaan bahasa (pragmatik)
  4. Kosakata yang minim
  5. Menunjukkan pembentukan konsep yang lemah
  6. Tidak memahami nuansa, humor, dan bahasa non verbal
  7. Memiliki masalah dalam menyampaikan atau berbicara dengan orang lain

Dari gambar di atas terlihat bagaimana aktivitas dari otak terkait dengan kemampuan berbicara dan berbahasa anak.  Fungsi dari bagian-bagian inilah yang menjadi landasan dalam terapi terhadap anak keterlambatan bicara.

Kemampuan Psikologis dalam berbahasa
Fungsi psikologis yang terlibat dalam berbicara dan berbahasa dari seorang anak (Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Dari gambar di atas terlihat bagaimana fungsi psikologis juga berperan penting dalam keterampilan berbicara dan berbahasa dari seorang anak.  Self-concept dan theory of mind adalah salah satu fungsi psikologis yang penting dalam melatih kemampuan berbicara dan berbahasa dari seorang anak.  Kemampuan ini akan merujuk kepada kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi dimana anak sudah memiliki kepercayaan diri untuk berkomunikasi dengan orang sekitarnya.

Oleh karena itu salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru PAUD, TK, SD dan orang tua dalam melatih kemampuan berbicara dan berbahasa dari anak usia dini adalah dengan terapi mendongeng.  Dijelaskan bahwa mendongeng mengaktifkan area cortex, yaitu area frontal cortex, motor cortex,  sensory cortex dan broca, serta wrenick.  Mendongeng mengaktifkan motor, auditoy, somato sensory, dan indera visual dimana anak lebih mudah mengingat dibandingkan membaca buku.  Mendongeng menghasilkan motivasi untuk menggerakan tindakan pada anak dan hormon dompamine. Terjadinya Neural Coupling dimana pendengar menerjemahkan cerita ke dalam ide atau pengertiannya sendiri.  Intonasi dan percikan kata-kata saat medongeng memudahkan otak anak untuk membayangkan serta mengelaborasi cerita dan melatih berbahasa.  Mendongeng menggerakkan emosi, menghasilkan ikatan antara pembaca dan karakter. Mendongeng juga menciptakan karakter, dan otak anak dilatih untuk mengidentifikasi karakter pada cerita.

Selain itu, guru dan orang tua dalam melatih kemampuan berbahasa dari anak usia dini juga harus memperhatikan karakteristik anak.  Anak masih berkarakter egosentris atau masih mementingkan dirinya sendiri.  Pendidik termasuk orang tua harus mampu mengeluarkan anak dari kehidupan egosentris dengan pembatasan sikap dan perilaku yang tegas.  Pendidik harus mampu memainkan karakter otoriter, permisif, dan demokrasi dalam situasi yang berbeda sesuai dengan konteks yang ada.  Sehingga pendidik harus berperilaku lentur atau fleksibel dalam menghadapi anak.  Selain itu aktivitas pembelajaran bahasa dilakukan dengan mendongeng ataupun media komunikasi yang menarik (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.