Deteksi Dini Anak Kebutuhan Khusus dan Kesulitan Belajar

Kasus kesulitan belajar di sekolah formal dapat mencapai 10% dari populasi siswa di sekolah formal.  Kasus tersebut belum termasuk anak kebutuhan khusus yang tidak tertangani dan masuk ke dalam sekolah inklusi ataupun sekolah luar biasa.

Anak kesulitan belajar seperti slow learner, ADHD, ADD, Dyslexia, Dyscalculia, PDD-NOS, dan Asperger sering kali tidak terdeksi sejak dini, khususnya di usia dini (di bawah lima tahun).  Hal tersebut berdampak pada terlambatnya penanganan atau intervensinya. Sering kali anak kesulitan belajar baru diketahui serta diterapi pada usia sekolah dasar.  Jika diketahui sejak usia dini maka perbaikan yang terjadi akan dibantu dengan pertumbuhan dan perkembangan anak secara alamiah yang pesat pada usia dini.

Oleh sebab itu deteksi dini anak kebutuhan khusus dan kesulitan belajar sangat penting.  Hal ini juga seharusnya menjadi prioritas bagi orang tua, guru PAUD, dan TK sebelum anak memasuki usia sekolah dasar. Jika guru dan orang tua merasa bahwa si anak memiliki perbedaan dalam fungsi kognitif, afektif, dan perilaku yang berbeda dibandingkan dengan teman sebaya pada umumnya, maka patut diduga adanya permasalahan kesulitan belajar ataupun kebutuhan khusus.

Ciri-ciri yang menjadi pertanda perlu atau tidaknya diperiksakan dapat terlihat antara lain:

  • Adanya permasalahan pada makan atau tidur anak
  • Menolak untuk pergi kepada siapa pun kecuali orang tua atau pengasuhnya
  • Tidak merasa nyaman saat berpakaian
  • Jarang bermain dengan mainan
  • Menolak atau melawan saat diminta berpelukan
  • Tidak bisa menenangkan diri
  • Badannya lemah, mudah sakit, alergi, kaku, atau ada keterlambatan motorik
  • Tidak ada kontak mata
  • Tidak mengucapkan kalimat dengan benar
  • Tidak mampu berkomunikasi dua arah
  • Hanya memiliki kosa kata di bawah 50 kata

Jika anak dirasakan memiliki hambatan seperti di atas, maka seharusnya orang tua, guru PAUD dan TK, atau pun pihak seleksi penerimaan siswa baru sekolah dasar segera merujuk anak terkait kepada ahli yaitu psikolog anak dan psikolog pendidikan yang menangani anak kesulitan belajar ataupun anak berkebutuhan khusus.

Di sisi lain, seleksi masuk sekolah dasar adalah hal yang genting atau krusial dalam menentukan masa depan anak.  Hal ini menjadi penting karena anak yang diduga mengalami kesulitan belajar ataupun berkebutuhan khusus tersebut jika telah dideteksi sejak dini kepada ahli, maka dapat segera diintervensi atau ditindaklanjuti.  Tentu hal ini akan sangat membantu tumbuh kembangnya menjadi lebih optimal dan pencapaian akademisnya pun menjadi lebih baik.

Terkait permasalahan di atas, Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu memberikan pelayanan “Deteksi Dini Anak Kesulitan Belajar dan Anak Berkebutuhan Khusus.”  Pelayanan ini ditujukan sebaiknya pada anak usia dini dan anak usia sekolah dasar.  Pelayanan yang diberikan berupa pengukuran fungsi psikologis melalui test kesulitan belajar dan fungsi neurobiologis dengan electroencephalography (EEG).

IMG_20170313_160727_908.jpg

Gambar di atas menunjukkan test fungsi psikologis (kognitif) atau test kesulitan belajar pada anak usia dini.  Test ini akan menunjukkan bagaimana fungsi psikologis anak terkait dengan proses belajar dan mengajar.  Pada test fungsi kognitif akan melihat potensi kecerdasan, kemampuan attention, konsentrasi, memory jangka panjang dan jangka pendek, analisa, sintesa, evaluasi, fleksibilitas berpikir, kreativitas berpikir, fleksibilitas berpikir, kreativitas berpikir, Verbal Fluency, Self Awareness, Self Concept, Self Regulation, dan lain-lain. Anak kesulitan belajar ataupun anak berkebutuhan khusus, biasanya terdeksi mengalami masalah dari fungsi-fungsi tersebut.

 

P_20170223_171320.jpg

Tes fungsi kognitif ini kemudian di konfirmasi dengan hasil EEG untuk melihat fungsi neurobiologis dari otak, misalnya kadar neurotransmiter dan aktivitas dari lobus-lobus di otak saat proses belajar dan mengajar dilakukan.  Gambar di atas adalah bagaimana proses pengukuran EEG dilakukan pada anak.

EEG Anak Normal vs Anak Kesubel Gambar di atas adalah hasil pengukuran EEG perbandingan antara anak kesulitan belajar dengan anak normal.  Terlihat anak kesulitan belajar mengalami masalah di neurokimia dan neurobiologisnya.  Warna aktivitas otak kearah biru menandakan fungsinya semakin baik, jika warnanya merah menandakan adanya masalah dari fungsi neurobiologisnya.

hasil eeg emotive Gambar di atas adalah hasil pengukuran EEG untuk mengetahui keseimbangan antara perasaan dan pikiran anak saat belajar.  Pengukuran ini dapat melihat sejauh mana kemampuan inhibition pada executive function pada anak.  Anak kesulitan belajar dan anak berkebutuhan khusus terbukti mengalami masalah di executive function, khususnya masalah inhibition.

Diharapkan dengan pengukuran dari fungsi kognitif dan dikonfirmasi dari fungsi neurobiologis akan mampu memberikan diaognosa yang kuat terhadap gangguan yang dialami.  Hal ini menjadi penting terhadap penentuan jenis dan frekuensi intervensi yang akan dilakukan seperti terapi wicara, sensori integrasi, atau metakognitif.  Selain itu, hal tersebut dapat memberikan informasi kepada orang tua bagaimana pola asuh, dukungan keluarga atau lingkungan kepada anak, ataupun strategi belajar yang dapat diterapkan di rumah.

*****

Informasi dan pendaftaran “Deteksi Dini Anak Kesulitan Belajar dan Kebutuhan Khusus” dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.